Banyak orang modern saat ini mulai melirik gaya hidup minimalis. Mereka berusaha mengurangi kepemilikan barang demi ketenangan pikiran. Namun, sejarah Islam telah mencatat praktik minimalis yang jauh lebih ekstrem. Para ulama besar terdahulu menerapkan pola hidup sederhana bukan sekadar tren. Mereka melakukannya demi mengejar keberkahan ilmu yang tak terbatas. Salah satu kisah yang paling menggetarkan jiwa adalah dedikasi seorang Imam dalam mengatur konsumsi makanannya.
Mengurangi Makan demi Efisiensi Waktu
Bagi para penuntut ilmu sejati, waktu adalah aset yang paling berharga. Sang Imam memandang bahwa aktivitas makan yang berlebihan hanya akan membuang waktu. Beliau memilih untuk makan hanya sekali dalam sehari semalam. Keputusan ini bukan lahir dari kemiskinan yang memaksa. Sebaliknya, ini adalah pilihan sadar untuk menjaga kejernihan pikiran.
Beliau beranggapan bahwa perut yang terlalu kenyang akan mengundang rasa kantuk. Rasa kantuk tersebut jelas menjadi penghalang utama dalam menelaah kitab-kitab tebal. Dengan mengurangi porsi makan, tubuh tetap terasa ringan dan fokus tetap terjaga tajam. Inilah bentuk manajemen waktu paling radikal demi sebuah literasi dan pengabdian pada agama.
Dedikasi Luar Biasa dalam Menuntut Ilmu
Gaya hidup minimalis sang Imam ini sangat berkaitan erat dengan produktivitas karyanya. Bayangkan, dalam keterbatasan asupan nutrisi, beliau mampu menghasilkan karya tulis yang sangat fenomenal. Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca, menulis, dan mengajar. Aktivitas fisik dan biologis beliau tekan seminimal mungkin agar energi terpusat pada otak dan hati.
Sejarah mencatat betapa beliau sangat menghargai setiap detik yang berlalu. Beliau tidak ingin aktivitas memasak atau mencuci peralatan makan menyita waktu produktifnya. Dalam sebuah catatan, beliau mengungkapkan alasannya tetap konsisten dengan pola hidup tersebut. Kutipan biar apa adanya:
“Aku tidak ingin menyibukkan diri dengan urusan perut yang hanya akan mengurangi jatah waktuku untuk belajar dan menulis.”
Kutipan tersebut menunjukkan betapa kuatnya visi beliau terhadap ilmu pengetahuan. Beliau lebih memilih “lapar” secara fisik daripada “lapar” secara intelektual.
Manfaat Spiritual dari Kesederhanaan
Secara spiritual, membatasi makan juga menjadi sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Sang Imam percaya bahwa rasa lapar dapat melembutkan hati. Hati yang lembut akan lebih mudah menyerap cahaya kebenaran. Selain itu, pola hidup ini menjauhkan seseorang dari sifat konsumerisme dan cinta dunia yang berlebihan.
Beliau membuktikan bahwa manusia tidak membutuhkan banyak hal untuk menjadi besar. Kemuliaan seseorang tidak terletak pada kemewahan hidangan di atas meja. Sebaliknya, kemuliaan itu terpancar dari sejauh mana manfaat ilmu bagi orang lain. Gaya hidup minimalis ini menjadi tamparan keras bagi masyarakat modern yang sering terjebak dalam budaya pamer makanan.
Mengambil Pelajaran untuk Masa Kini
Bagaimana kita menerapkan gaya hidup minimalis sang Imam di era sekarang? Kita mungkin tidak harus makan sekali sehari secara ekstrem. Namun, kita bisa mengambil nilai inti dari disiplin tersebut. Poin utamanya adalah tentang skala prioritas dan pengendalian diri. Kita sering kali menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari kuliner viral.
Coba bayangkan jika kita mengalihkan separuh waktu tersebut untuk membaca buku bermanfaat. Hasilnya tentu akan sangat luar biasa bagi perkembangan diri kita. Disiplin sang Imam mengajarkan bahwa kesuksesan memerlukan pengorbanan yang nyata. Tidak ada ilmu yang bermanfaat tanpa dibarengi dengan ketekunan dan kesederhanaan hidup.
Kesimpulan: Ilmu di Atas Segalanya
Kisah sang Imam ini memberikan perspektif baru tentang arti sebuah perjuangan. Gaya hidup minimalis sang Imam adalah bukti nyata cinta sejati kepada ilmu pengetahuan. Beliau meredam tuntutan perut demi menyalakan cahaya akal dan iman. Warisan karya-karyanya yang masih kita baca hingga hari ini adalah buah dari “rasa lapar” yang beliau pelihara.
Mari kita mulai mengevaluasi kembali gaya hidup kita sehari-hari. Apakah aktivitas kita sudah mendukung tujuan besar hidup kita? Ataukah kita justru terlalu sibuk memenuhi keinginan yang sebenarnya tidak perlu? Belajarlah dari sang Imam, yang menjadikan kesederhanaan sebagai tangga menuju puncak peradaban ilmu. Dengan mengurangi gangguan duniawi, kita akan lebih mudah meraih keberhasilan di dunia dan akhirat.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
