Integritas seorang ulama seringkali mendapat ujian saat berhadapan dengan kekuasaan. Sejarah Islam mencatat banyak nama besar yang memilih jalan sunyi demi menjaga kemurnian syariat. Salah satu figur paling cemerlang dalam menjaga independensi tersebut adalah Imam An-Nawawi. Ulama besar penganut mazhab Syafi’i ini menunjukkan bahwa pena dan lisan ulama tidak boleh terbeli oleh fasilitas penguasa. Beliau berdiri kokoh membela rakyat saat Sultan Zahir Baibars dari Dinasti Mamluk mengeluarkan kebijakan yang memberatkan.
Ancaman Mongol dan Kebijakan Sultan
Pada abad ke-13, dunia Islam menghadapi ancaman besar dari bala tentara Mongol. Sultan Baibars, yang memimpin Mesir dan Suriah, membutuhkan dana besar untuk membiayai peperangan. Sang Sultan kemudian memutuskan untuk menarik pajak tambahan dari rakyatnya. Namun, Baibars menyadari bahwa kebijakan ini membutuhkan legitimasi religius agar rakyat patuh. Ia pun mengumpulkan para ulama terkemuka di masanya untuk menandatangani fatwa pendanaan perang tersebut.
Hampir seluruh ulama di Damaskus memberikan tanda tangan mereka sebagai bentuk persetujuan. Mereka merasa keadaan darurat perang menghalalkan penarikan pajak ekstra. Namun, Sultan menyadari ada satu tanda tangan yang hilang dari lembaran fatwa tersebut. Nama tersebut adalah Yahya bin Syaraf an-Nawawi, atau yang kita kenal sebagai Imam Nawawi.
Keberanian Menolak Kezaliman
Sultan Baibars kemudian memanggil Imam Nawawi ke istana untuk meminta penjelasan. Sang Sultan bertanya mengapa sang Imam enggan mendukung upaya pertahanan negara. Dengan tenang namun tegas, Imam Nawawi menyampaikan alasan yang sangat fundamental. Beliau menyoroti gaya hidup mewah para pejabat dan tentara di lingkungan istana.
Imam Nawawi berkata dengan lantang kepada Sultan:
“Saya mengetahui bahwa Anda dulunya adalah seorang hamba sahaya yang dimiliki oleh Amir Bunduqdar, dan Anda tidak memiliki harta. Kemudian Allah memberikan karunia-Nya sehingga Anda menjadi seorang raja. Saya mendengar Anda memiliki seribu budak yang masing-masing memiliki ikat pinggang dari emas. Anda juga memiliki dua ratus budak perempuan yang masing-masing memiliki perhiasan yang mahal. Jika Anda sudah menafkahkan itu semua untuk membiayai perang dan mereka hanya memakai pakaian biasa tanpa perhiasan emas, maka saya akan berfatwa untuk mengambil harta rakyat.”
Kutipan ini menunjukkan betapa tajam analisis sosial Imam Nawawi. Beliau tidak menolak pertahanan negara, namun beliau menolak ketidakadilan. Ulama ini menegaskan bahwa penguasa harus mengorbankan kemewahan pribadinya terlebih dahulu sebelum membebani rakyat kecil yang sudah menderita.
Risiko Pengasingan dan Keteguhan Hati
Mendengar teguran keras tersebut, Sultan Baibars sangat marah. Kekuasaan absolutnya merasa tertantang oleh seorang ulama yang hidup sederhana. Sultan kemudian memerintahkan Imam Nawawi untuk keluar dari kota Damaskus. Tanpa rasa takut atau sedih, Imam Nawawi menerima perintah pengasingan tersebut. Beliau justru merasa lega karena menjauh dari lingkaran kekuasaan yang korup.
Ketika para pengikut Sultan bertanya mengapa ia tidak membunuh sang Imam, Baibars menjawab dengan gemetar. Ia mengaku melihat kewibawaan yang luar biasa pada wajah Imam Nawawi yang membuatnya urung bertindak lebih jauh. Imam Nawawi akhirnya kembali ke kampung halamannya di Nawa dan tetap melanjutkan karya tulisnya yang abadi hingga hari ini.
Relevansi Independensi Ulama di Era Modern
Kisah Imam Nawawi memberikan pelajaran berharga mengenai fungsi kontrol sosial oleh pemuka agama. Independensi ulama merupakan pilar penting dalam menjaga keseimbangan bernegara. Ulama yang independen tidak akan menjadi stempel bagi kebijakan penguasa yang merugikan publik. Mereka justru bertindak sebagai kompas moral yang mengingatkan pemimpin saat melenceng dari jalur keadilan.
Ulama sejati memosisikan diri sebagai pelayan umat, bukan pelayan kepentingan politik sesaat. Mereka menjaga jarak yang sehat dari kekuasaan agar lisan mereka tetap jujur dalam menyuarakan kebenaran. Keteladanan Imam Nawawi mengajarkan bahwa keberanian menyuarakan kebenaran (amar ma’ruf nahi munkar) adalah bentuk cinta tertinggi kepada bangsa dan agama.
Kini, karya-karya Imam Nawawi seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyah tetap dipelajari di seluruh dunia. Nama beliau harum bukan karena kedekatannya dengan istana, melainkan karena keberaniannya membela hak-hak rakyat di hadapan sultan yang perkasa. Kita membutuhkan lebih banyak figur yang memiliki integritas seperti Imam Nawawi di zaman ini. Penguasa yang bijak seharusnya merangkul ulama yang kritis, bukan menjauhinya atau membungkam suara mereka.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
