Jarak waktu tujuh ratus tahun bukanlah rentang yang singkat. Namun, bagi umat Islam, nama Imam Nawawi terasa sangat dekat. Nama lengkap beliau adalah Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Beliau lahir pada abad ke-13 di Desa Nawa, Suriah. Meski hidup pada masa lampau, karya-karyanya masih mengisi rak buku di rumah kita. Fenomena ini memicu satu pertanyaan besar. Mengapa pengaruh beliau tetap kuat melintasi zaman? Jawabannya terletak pada satu kata kunci utama: keikhlasan.
Menembus Batas Zaman Melalui Tulisan
Imam Nawawi bukan sekadar seorang penulis produktif. Beliau adalah sosok yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Kita mengenal kitab Arba’in Nawawi atau Riyadhus Shalihin dengan sangat baik. Hampir setiap masjid dan pesantren di seluruh dunia mengkaji kitab-kitab tersebut. Para ulama sering menyebut bahwa keberkahan ilmu beliau berasal dari ketulusan hati yang mendalam.
Dalam sebuah ungkapan populer mengenai karya yang tulus, ada kutipan yang sangat relevan:
“Sesuatu yang dilakukan karena Allah, maka ia akan tetap kekal dan menyambung. Sedangkan yang dilakukan bukan karena Allah, ia akan terputus dan sirna.”
Kutipan ini menggambarkan dengan tepat mengapa kitab-kitab beliau tidak pernah usang. Beliau menulis bukan untuk mengejar popularitas atau imbalan materi. Beliau menulis untuk membimbing umat manusia menuju rida Allah SWT.
Dedikasi Tanpa Batas Sang Ulama
Imam Nawawi hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Beliau hanya makan sekali dalam sehari setelah waktu Isya. Beliau juga hanya minum sekali saat waktu sahur. Waktunya habis untuk membaca, menulis, dan beribadah. Beliau bahkan tidak sempat menikah karena saking cintanya pada ilmu pengetahuan. Kesibukannya dalam mengabdi pada agama membuat beliau lupa pada urusan duniawi yang fana.
Beliau pernah berkata:
“Aku melihat bahwa setiap orang yang mencintai sesuatu, ia akan disibukkan olehnya.”
Kecintaan beliau pada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan segalanya. Hal inilah yang membuat setiap kata dalam kitabnya memiliki “ruh”. Saat kita membaca Hadis Arba’in, kita seolah mendengar nasihat langsung dari beliau. Jarak waktu berabad-abad seketika runtuh oleh kekuatan niat yang suci.
Relevansi Ajaran Imam Nawawi di Era Modern
Pada zaman sekarang, kita hidup di era banjir informasi. Media sosial menyajikan jutaan konten setiap detiknya. Namun, berapa banyak dari konten tersebut yang bertahan lebih dari seminggu? Sangat sedikit. Sebaliknya, karya Imam Nawawi bertahan selama berabad-abad. Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi para pendakwah dan penulis modern. Popularitas di dunia maya bersifat semu dan sangat cepat menghilang.
Kita harus meneladani cara beliau membangun hubungan dengan Sang Pencipta. Imam Nawawi membuktikan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Beliau memang menghasilkan banyak karya monumental dalam usia yang relatif muda. Beliau wafat pada usia sekitar 45 tahun. Namun, manfaat karyanya melampaui usia biologis beliau sendiri.
Keikhlasan Sebagai Jembatan Cahaya
Keikhlasan adalah mesin utama yang menggerakkan dakwah Imam Nawawi. Tanpa keikhlasan, sebuah karya hanyalah tumpukan kertas tanpa makna. Beliau menyusun kitab dengan sistematika yang sangat memudahkan pembaca. Contohnya dalam kitab Riyadhus Shalihin, beliau menyusun bab demi bab dengan sangat rapi. Beliau memulai dengan bab niat, lalu bab taubat, dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat memahami psikologi pembelajar.
Umat Islam di berbagai penjuru dunia terus mendoakan beliau. Setiap kali seseorang membaca kitabnya, pahala terus mengalir bagi sang Imam. Inilah yang disebut dengan investasi akhirat yang sesungguhnya. Jarak waktu yang panjang tidak mampu menghalangi pancaran cahaya ilmu beliau.
Penutup: Mengambil Ibrah dari Sang Imam
Kita mungkin tidak bisa menyamai kedalaman ilmu Imam Nawawi. Namun, kita bisa meniru semangat dan keikhlasan beliau dalam berbuat baik. Apapun profesi kita, mulailah setiap pekerjaan dengan niat yang benar. Keikhlasan akan membuat hasil kerja kita bermanfaat bagi orang lain dalam jangka panjang.
Imam Nawawi telah meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Beliau menyatukan kita dengan nilai-nilai luhur Islam melalui tulisan-tulisannya. Mari kita jadikan karya beliau sebagai cermin untuk memperbaiki kualitas diri. Semoga kita semua mampu meraih keberkahan hidup sebagaimana yang beliau contohkan. Jarak waktu memang memisahkan raga kita, namun keikhlasan akan selalu menyatukan jiwa kita dalam kebenaran.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
