Dunia modern saat ini menawarkan sejuta kemilau yang memikat mata. Kita sering terjebak dalam hiruk-pikuk pesta pora dan mengejar kesuksesan materi tanpa henti. Namun, di balik semua kemewahan tersebut, ada satu kepastian yang sering manusia lupakan. Kepastian itu adalah kematian. Mengingat mati bukan berarti kita harus berhenti menikmati hidup. Sebaliknya, kesadaran akan maut justru memberikan perspektif baru tentang cara kita menjalani hari.
Jebakan Hedonisme dan Ilusi Kehidupan
Banyak orang menghabiskan waktu mereka hanya untuk bersenang-senang. Mereka menganggap bahwa kebahagiaan sejati terletak pada tumpukan harta dan pengakuan sosial. Pesta pora dunia seringkali menjadi tirai tebal yang menutupi kenyataan spiritual kita. Kita sibuk membangun istana di atas pasir yang sewaktu-waktu akan tersapu ombak.
Padahal, kehidupan ini hanyalah persinggahan singkat yang sangat fana. Tanpa kesadaran akan akhirat, manusia cenderung menjadi rakus dan egois. Mereka mengejar kepuasan nafsu tanpa memedulikan nilai-nilai moral. Di sinilah pentingnya kita menghadirkan kembali memori tentang kematian dalam setiap langkah.
Mengapa Harus Mengingat Mati?
Mengingat mati berfungsi sebagai rem darurat bagi nafsu yang liar. Saat kita merasa paling berkuasa, kematian mengingatkan kita akan kelemahan manusia. Saat kita merasa sangat sedih, kematian memberikan harapan tentang peristirahat abadi. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai pentingnya hal ini.
“Cukuplah kematian sebagai pemberi peringatan (nasihat).”
Kutipan tersebut menegaskan bahwa tidak ada guru yang lebih baik daripada maut. Kematian tidak memandang usia, pangkat, atau status sosial seseorang. Ia datang tanpa mengetuk pintu dan tanpa memberikan undangan terlebih dahulu. Dengan menyadari hal ini, kita akan lebih bijak dalam menggunakan waktu.
Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat
Banyak orang salah paham dalam mengartikan konsep mengingat mati. Mereka mengira bahwa sering mengingat maut akan membuat seseorang menjadi malas. Padahal, para sahabat Nabi justru bekerja sangat keras karena mereka ingat mati. Mereka ingin meninggalkan warisan kebaikan (amal jariyah) sebelum nyawa tercabut.
Kita tetap boleh merayakan keberhasilan dan menikmati fasilitas duniawi. Namun, jangan biarkan semua itu melalaikan kita dari tujuan penciptaan manusia. Gunakanlah harta sebagai sarana ibadah dan kekuasaan untuk menebar manfaat. Dengan cara ini, pesta pora dunia tidak akan merusak kejernihan hati kita.
Muhasabah di Tengah Keramaian
Bagaimana cara praktis mengingat mati di era digital yang bising ini? Anda bisa memulainya dengan melakukan muhasabah atau evaluasi diri setiap malam. Bayangkan jika hari ini adalah hari terakhir Anda menghirup oksigen. Apakah bekal yang Anda siapkan sudah cukup untuk menghadap Sang Pencipta?
Penyesalan selalu datang terlambat bagi mereka yang lalai. Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang meminta dikembalikan ke dunia saat maut menjemput. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan ini dengan sangat jelas dalam berbagai ayatnya.
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan’.”
Kutipan tersebut menjadi pengingat keras bagi kita yang masih memiliki detak jantung. Selagi napas masih ada, pintu taubat dan perbaikan diri masih terbuka lebar.
Kesimpulan: Kematian Adalah Awal
Mengingat mati adalah cara terbaik untuk mencintai kehidupan dengan cara yang benar. Kita akan lebih menghargai setiap detik waktu bersama keluarga dan kerabat. Kita juga akan lebih tulus dalam menolong sesama tanpa mengharap imbalan duniawi.
Jangan biarkan pesta pora dunia membutakan mata batin Anda. Jadikan kematian sebagai kompas yang mengarahkan setiap tindakan Anda menuju rida Ilahi. Dengan mengingat mati, hidup Anda justru akan terasa lebih bermakna dan penuh ketenangan. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Mari kita persiapkan bekal terbaik mulai dari sekarang, sebelum pesta ini benar-benar usai.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
