Dunia modern saat ini menawarkan berbagai kemudahan teknologi yang luar biasa bagi umat manusia. Namun, di balik kemajuan tersebut, tantangan moral dan spiritual bagi umat Islam semakin hari semakin berat. Fenomena ini mengingatkan kita pada sebuah istilah dalam literatur Islam, yaitu Al-Ghuraba atau “Orang-orang Asing”.
Memahami Makna Ghuraba
Istilah Ghuraba merujuk pada individu-individu yang memegang teguh prinsip kebenaran saat mayoritas manusia mulai meninggalkannya. Nabi Muhammad SAW telah memprediksi kemunculan kelompok ini sejak empat belas abad yang lalu. Beliau bersabda dalam sebuah hadis riwayat Muslim:
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”
Kutipan tersebut menegaskan bahwa keterasingan bukanlah sebuah kegagalan dalam beragama. Sebaliknya, menjadi “asing” karena mempertahankan syariat merupakan sebuah kemuliaan yang mendapatkan jaminan kebahagiaan dari Rasulullah SAW.
Mengapa Ghuraba Muncul Kembali di Abad 21?
Abad ke-21 membawa perubahan paradigma yang sangat radikal terhadap nilai-nilai tradisional dan religius. Standar etika saat ini seringkali bergeser mengikuti tren media sosial yang berubah setiap waktu. Orang-orang yang berusaha menjaga shalat tepat waktu atau mengenakan hijab sesuai syariat seringkali mendapat label konservatif atau kolot.
Masyarakat modern cenderung menganggap perilaku menyimpang sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang harus semua orang maklumi. Dalam situasi seperti ini, seorang Muslim yang tetap konsisten menjalankan sunnah akan merasa seperti berjalan melawan arus sungai yang deras. Inilah alasan mengapa sosok Ghuraba kembali relevan dan nyata dalam kehidupan sehari-hari kita sekarang.
Karakteristik “Si Asing” di Era Digital
Siapakah sebenarnya mereka yang menyandang gelar terhormat ini di tengah hiruk-pikuk dunia digital? Pertama, mereka adalah orang-orang yang memperbaiki diri ketika orang lain melakukan kerusakan secara masif. Mereka tidak ikut-ikutan menyebarkan hoaks, fitnah, atau konten yang merusak moral bangsa di dunia maya.
Kedua, para Ghuraba senantiasa menghidupkan Sunnah Nabi yang mulai masyarakat lupakan. Mereka menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan tanpa mengharapkan pujian dari pengikut di media sosial. Fokus utama kelompok ini hanyalah meraih keridaan Allah SWT, meskipun lingkungan sekitar memandang mereka dengan tatapan aneh atau sinis.
Ketiga, mereka memiliki keteguhan prinsip atau istiqomah yang sangat luar biasa. Mereka tidak mudah goyah oleh rayuan materi atau tekanan sosial yang menuntut mereka untuk berkompromi dalam hal akidah. Bagi mereka, memegang teguh agama ibarat menggenggam bara api; panas namun harus tetap mereka pertahankan demi keselamatan di akhirat.
Tantangan Mental dan Sosial
Menjadi Ghuraba di abad 21 tentu bukan tanpa risiko yang nyata. Tekanan psikologis berupa rasa kesepian seringkali menghampiri mereka yang memilih jalan berbeda dari tren populer. Namun, Al-Quran memberikan penghiburan bahwa Allah SWT selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar dan bertakwa setiap saat.
Interaksi sosial di kantor, sekolah, maupun lingkungan rumah menjadi medan dakwah sekaligus ujian kesabaran bagi mereka. Mereka harus mampu menunjukkan akhlak mulia agar citra Islam tetap terjaga dengan baik. Dengan demikian, keterasingan mereka bukan karena perilaku eksklusif yang sombong, melainkan karena standar moral yang tinggi.
Kabar Gembira bagi Orang Asing
Rasulullah SAW memberikan janji berupa kata “Thuba” bagi para Ghuraba. Para ulama menafsirkan Thuba sebagai pohon di surga atau kebahagiaan yang sangat besar. Janji ini menjadi motivasi utama bagi setiap Muslim untuk tidak berkecil hati saat merasa sendirian dalam kebenaran.
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara yang penuh dengan berbagai macam tipuan mata. Ghuraba menyadari sepenuhnya bahwa kampung halaman sejati mereka adalah akhirat yang penuh dengan kenikmatan abadi. Oleh karena itu, pandangan miring manusia tidak akan mengurangi semangat mereka untuk terus beribadah secara maksimal.
Kesimpulan
Menjadi “Orang Asing” di abad 21 adalah sebuah pilihan sadar untuk tetap setia pada nilai-nilai wahyu. Kita tidak perlu takut terlihat berbeda jika perbedaan itu membawa kita lebih dekat kepada sang Pencipta. Mari kita terus berusaha menjadi bagian dari kelompok yang Rasulullah rindukan ini melalui perbaikan diri yang berkelanjutan.
Jadilah pribadi yang membawa kedamaian dan kebaikan di tengah dunia yang semakin kacau dan tak tentu arah. Ingatlah selalu bahwa menjadi asing di mata manusia jauh lebih baik daripada menjadi asing di hadapan Allah SWT. Semoga kita semua mendapatkan kekuatan untuk tetap tegak berdiri sebagai Ghuraba yang membawa cahaya bagi semesta alam.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
