Zaman sekarang, media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, termasuk dalam urusan berbagi kebaikan. Banyak orang mendokumentasikan setiap aksi sosial demi mendapatkan pengakuan atau sekadar konten. Namun, di balik riuhnya tepuk tangan netizen, terdapat sebuah konsep mulia yang mulai luntur, yakni anonimitas dalam berbuat baik. Menjaga kerahasiaan amal memiliki dampak spiritual yang sangat mendalam bagi pelakunya.
Fenomena “Flexing” Kebaikan di Dunia Digital
Kita hidup di era di mana “jika tidak ada foto, maka tidak terjadi”. Prinsip ini sering kali merambah ke ranah ibadah dan donasi. Orang-orang berlomba mengunggah bukti transfer atau video saat memberikan bantuan kepada kaum duafa. Padahal, esensi dari sebuah bantuan adalah meringankan beban orang lain, bukan memperberat beban mental penerima karena wajahnya terpampang jelas di internet.
Budaya pamer atau flexing ini menciptakan standar baru yang semu. Orang merasa perlu menunjukkan eksistensi sosialnya melalui jalur kedermawanan. Padahal, keikhlasan membutuhkan ruang sunyi agar hati tetap terjaga dari penyakit sombong.
Landasan Spiritual Keutamaan Beramal Sembunyi-sembunyi
Banyak ajaran agama menekankan pentingnya menjaga niat saat memberi. Salah satu pesan yang sangat populer dalam tradisi Islam mengajarkan betapa pentingnya kerahasiaan. “Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” Kutipan ini menggambarkan betapa tingginya derajat orang yang mampu menyembunyikan amal kebaikannya.
Kerahasiaan ini bertujuan untuk melindungi kemurnian hati dari sifat riya’ (pamer). Saat tidak ada orang yang melihat, hanya Tuhan dan pelaku amal yang tahu. Kondisi ini menciptakan ikatan batin yang lebih kuat dan tulus. Tanpa sorotan kamera, seseorang benar-benar fokus pada manfaat pemberiannya bagi orang lain.
Manfaat Psikologis Menjadi Donatur Anonim
Selain manfaat spiritual, beramal secara sembunyi-sembunyi memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Saat kita memberi tanpa identitas, kita sedang melatih otot kerendahan hati. Kita tidak lagi bergantung pada jumlah “like” atau komentar pujian untuk merasa bahagia.
Ketenangan batin muncul saat kita tahu bahwa kita telah membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Hal ini berbeda dengan beramal demi konten. Saat respons netizen tidak sesuai harapan, si pemberi mungkin akan merasa kecewa atau tidak puas. Sebaliknya, orang yang anonim akan merasakan kepuasan batin yang jauh lebih stabil dan tahan lama.
Menghormati Martabat Penerima Bantuan
Salah satu alasan terkuat mengapa kita harus beramal secara diam-diam adalah demi menjaga martabat penerima. Seseorang yang sedang dalam kondisi sulit tetap memiliki harga diri. Saat kita memotret wajah mereka yang sedang menerima bantuan, kita mungkin tanpa sengaja melukai perasaan mereka.
Pemberian secara sembunyi-sembunyi memastikan bahwa penerima tidak merasa rendah diri di hadapan publik. Hal ini sejalan dengan prinsip etika berbagi yang mengharuskan kita memanusiakan manusia lainnya. Kebaikan sejati tidak akan pernah merampas martabat orang yang ditolong.
Tantangan Menjaga Keikhlasan di Era Modern
Tentu saja, menjaga anonimitas di tengah gempuran tren digital bukan perkara mudah. Platform penggalangan dana sering kali mencantumkan nama donatur secara otomatis. Namun, kita selalu punya pilihan untuk mencentang kolom “Hamba Allah” atau “Anonim”.
Kita harus sering melakukan evaluasi diri (muhasabah). Tanyakan pada hati kecil kita, apakah kita akan tetap memberi jika tidak ada satu pun orang yang tahu? Jika jawabannya adalah iya, maka kita telah mencapai level kematangan spiritual yang luar biasa.
Kesimpulan: Kembali ke Akar Ketulusan
Menjadi anonim di era pamer adalah bentuk perlawanan terhadap ego. Keutamaan beramal sembunyi-sembunyi bukan berarti kita melarang orang lain untuk menginspirasi melalui kebaikan publik. Namun, menyembunyikan amal adalah cara terbaik untuk menjaga keaslian niat.
Mari kita mulai membiasakan diri untuk berbagi dalam sunyi. Biarlah kebaikan tersebut menjadi rahasia indah antara kita dan Sang Pencipta. Dengan begitu, setiap bantuan yang kita berikan akan memiliki bobot yang lebih berat di sisi nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Kebaikan yang paling tulus adalah kebaikan yang tidak membutuhkan saksi selain hati nurani sendiri.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
