Dunia modern saat ini memuja popularitas secara berlebihan. Banyak orang berlomba-lomba mencari perhatian di media sosial. Mereka menginginkan pengakuan dan pujian dari orang asing. Namun, tahukah Anda bahwa haus akan pengakuan merupakan penyakit hati? Para ulama menyebut kondisi ini sebagai Hubbu Jah atau gila hormat.
Gila hormat adalah keinginan besar untuk mendapatkan kedudukan. Seseorang merasa puas saat orang lain memuji dirinya. Sebaliknya, ia merasa hancur saat orang lain mengabaikannya. Penyakit ini bersifat kronis dan merusak jiwa secara perlahan.
Apa Itu Hubbu Jah?
Secara bahasa, Hubbu Jah berarti mencintai pangkat atau kedudukan. Ini bukan sekadar ingin sukses dalam karier. Ini adalah obsesi agar orang lain memandang kita tinggi. Imam Al-Ghazali memberikan peringatan keras mengenai hal ini. Beliau menyatakan dalam kitabnya:
“Cinta pada kedudukan adalah keinginan untuk memiliki hati manusia. Ia ingin agar hati manusia tunduk dan patuh kepadanya.”
Pernyataan ini menunjukkan betapa berbahayanya ambisi tersebut. Orang yang gila hormat ingin mengendalikan persepsi orang lain. Ia ingin semua orang melihatnya sebagai sosok yang hebat. Padahal, martabat sejati tidak lahir dari paksaan atau pencitraan.
Gejala Penyakit Gila Hormat
Bagaimana kita mengenali penyakit ini dalam diri? Biasanya, gejala awal muncul dari rasa tidak puas. Seseorang akan merasa gelisah jika tidak mendapat pujian. Ia selalu membandingkan jumlah pengikut atau “like” dengan orang lain.
Berikut adalah beberapa tanda seseorang terkena penyakit gila hormat:
-
Sering memamerkan amal kebaikan kepada publik.
-
Merasa sakit hati saat saran atau pendapatnya ditolak.
-
Selalu ingin berada di posisi paling depan.
-
Melakukan segala cara demi mendapatkan perhatian.
-
Merasa iri melihat popularitas orang lain.
Jika Anda merasakan gejala tersebut, waspadalah. Penyakit ini bisa menggerogoti keikhlasan dalam berbuat baik.
Dampak Buruk Haus Popularitas
Haus popularitas bukan sekadar masalah ego. Penyakit ini memiliki dampak nyata pada kesehatan mental. Orang yang gila hormat biasanya mudah mengalami stres. Mengapa demikian? Karena ia menggantungkan kebahagiaan pada penilaian manusia. Padahal, penilaian manusia selalu berubah-ubah dan tidak konsisten.
Selain itu, gila hormat memicu sifat munafik. Seseorang akan memakai “topeng” agar terlihat sempurna. Ia menyembunyikan kekurangan diri dengan kebohongan. Hal ini menciptakan beban mental yang sangat berat. Hubungan sosial pun menjadi tidak sehat karena penuh dengan kepalsuan.
Dalam pandangan spiritual, penyakit ini menghapus pahala. Segala kebaikan menjadi sia-sia jika tujuannya hanya pujian. Ikhlas adalah syarat utama diterimanya sebuah amal. Gila hormat justru membunuh rasa ikhlas tersebut dengan cepat.
Mengapa Penyakit Ini Disebut Kronis?
Kita menyebut gila hormat sebagai penyakit kronis karena sifatnya menahun. Penyakit ini sulit sembuh hanya dalam waktu semalam. Ia tumbuh subur dalam hati yang kosong dari rasa syukur. Semakin kita mengejar popularitas, semakin kita merasa haus. Popularitas adalah fatamorgana yang menipu pandangan manusia.
Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang ambisi kekuasaan dan kehormatan:
“Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan menuju kumpulan kambing, tidak lebih merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR. Tirmidzi).
Kutipan ini menggambarkan betapa destruktifnya sifat haus hormat. Ia bisa merusak prinsip agama dan moral seseorang. Demi sebuah nama besar, orang sering kali mengorbankan integritasnya.
Cara Menyembuhkan Penyakit Gila Hormat
Langkah pertama kesembuhan adalah menyadari adanya penyakit tersebut. Kita harus jujur terhadap motivasi setiap tindakan kita. Apakah kita menolong orang karena tulus? Ataukah kita ingin orang lain melihat kehebatan kita?
Kedua, mulailah belajar untuk beramal secara sembunyi-sembunyi. Lakukan kebaikan tanpa ada orang yang tahu. Hal ini melatih hati untuk tetap rendah hati. Ketiga, ingatlah bahwa pujian manusia bersifat sementara. Hari ini mereka memuji, esok mungkin mereka mencaci.
Keempat, fokuslah pada pengembangan diri yang substansial. Carilah kebahagiaan dari dalam diri, bukan dari luar. Hubungan yang kuat dengan Tuhan akan memberikan ketenangan sejati. Kita tidak lagi butuh validasi manusia jika sudah merasa cukup.
Kesimpulan
Gila hormat adalah ancaman nyata bagi kedamaian batin. Jangan biarkan diri Anda terjebak dalam perlombaan popularitas yang semu. Fokuslah pada karya nyata dan ketulusan hati. Ingatlah bahwa kemuliaan sejati datang dari karakter, bukan dari tepuk tangan.
Mari kita bersihkan hati dari penyakit kronis ini. Hiduplah dengan jujur tanpa beban pencitraan. Dengan begitu, Anda akan menemukan kebahagiaan yang jauh lebih abadi. Tetaplah rendah hati walau dunia menyanjung Anda setinggi langit. Karena pada akhirnya, hanya ketulusan yang akan tetap bertahan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
