Kalam
Beranda » Berita » Adab Bersin dan Menguap: Etika Kecil yang Sering Dilupakan

Adab Bersin dan Menguap: Etika Kecil yang Sering Dilupakan

Seringkali kita menganggap remeh aktivitas biologis yang terjadi sehari-hari. Bersin dan menguap adalah dua reaksi alami tubuh manusia. Namun, tahukah Anda bahwa keduanya memiliki aturan main yang sangat penting? Dalam kehidupan sosial dan ajaran agama, terdapat etika yang menjaga kenyamanan orang lain. Mempraktikkan adab bersin dan menguap mencerminkan kualitas kepribadian seseorang.

Mengapa Adab Bersin Sangat Penting?

Bersin merupakan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran hidung. Proses ini terjadi secara mendadak dengan dorongan udara yang sangat kuat. Tanpa etika yang benar, bersin dapat menyebarkan ribuan kuman ke udara bebas. Hal ini tentu membahayakan kesehatan orang-orang di sekitar Anda.

Dalam Islam, bersin bukan sekadar aktivitas fisik belaka. Bersin dipandang sebagai sebuah nikmat yang mendatangkan kebaikan bagi tubuh. Oleh karena itu, umat Muslim memiliki tuntunan khusus untuk menyikapi bersin. Rasulullah SAW memberikan panduan yang indah mengenai hal ini.

Kutipan hadis menyebutkan:

“Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ (Segala puji bagi Allah). Dan hendaklah saudaranya atau temannya mendoakannya dengan mengucapkan ‘Yarhamukallah’ (Semoga Allah memberimu rahmat). Jika temannya mengucapkan ‘Yarhamukallah’, hendaklah ia membalas dengan ‘Yahdikumullah wa Yuslih Balakum’ (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (HR. Bukhari).

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

Cara Bersin yang Sopan dan Sehat

Selain mengucapkan doa, cara fisik saat bersin juga perlu perhatian. Jangan pernah membiarkan mulut dan hidung terbuka lebar tanpa penghalang. Gunakan tisu atau sapu tangan untuk menutup hidung saat bersin. Jika tidak ada kain, gunakan bagian dalam siku lengan Anda. Hindari menggunakan telapak tangan karena tangan akan menyentuh banyak benda lain.

Upayakan pula untuk merendahkan suara bersin sebisa mungkin. Suara bersin yang terlalu keras seringkali mengagetkan orang di sekitar. Menjaga volume suara adalah bentuk penghormatan kita terhadap ketenangan ruang publik. Setelah bersin, pastikan Anda membuang tisu ke tempat sampah dan mencuci tangan.

Menguap dan Cara Mengendalikannya

Berbeda dengan bersin, menguap seringkali berkaitan dengan rasa kantuk atau kelelahan. Namun, menguap di depan umum tanpa aturan dianggap sebagai perilaku yang kurang sopan. Dalam perspektif Islam, menguap adalah hal yang sebaiknya kita tahan. Menguap secara berlebihan dianggap memberi peluang bagi hal-hal buruk masuk ke dalam diri.

Rasulullah SAW bersabda:

“Menguap itu dari setan. Jika salah seorang di antara kalian menguap, maka hendaklah ia menahannya semampunya.” (HR. Muslim).

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Menahan uap bukan berarti menyiksa diri, melainkan melatih disiplin diri. Jika rasa ingin menguap sudah tidak terbendung, segeralah menutup mulut. Gunakan tangan kiri untuk menutup mulut saat menguap. Hal ini bertujuan agar tangan kanan tetap bersih untuk aktivitas makan atau bersalaman.

Hindari Suara Saat Menguap

Banyak orang secara tidak sadar mengeluarkan suara saat sedang menguap. Suara “huaaaa” atau desahan keras saat menguap sangat tidak sopan dalam etika pergaulan. Selain tidak enak didengar, suara tersebut menunjukkan kurangnya kendali diri. Usahakan untuk menguap secara diam tanpa mengeluarkan bunyi sedikitpun.

Secara medis, menutup mulut saat menguap juga mencegah masuknya bakteri atau polusi. Lingkungan yang bersih berawal dari kebiasaan kecil setiap individu. Ketika Anda menutup mulut, Anda sedang melindungi diri dan orang lain sekaligus.

Manfaat Konsistensi Menjaga Adab

Menerapkan adab bersin dan menguap secara konsisten membawa dampak positif. Pertama, Anda turut menjaga kebersihan lingkungan dari penyebaran droplet virus. Kedua, Anda membangun citra diri sebagai pribadi yang berkelas dan penuh tata krama. Orang lain akan merasa lebih nyaman dan dihargai saat berada di dekat Anda.

Etika kecil ini mungkin terlihat sederhana, namun pengaruhnya sangat besar bagi harmoni sosial. Mari kita mulai memperhatikan kembali kebiasaan-kebiasaan kecil ini setiap hari. Jadikan adab sebagai bagian dari gaya hidup modern yang tetap menjunjung tinggi nilai kesantunan. Dengan begitu, kita bisa menciptakan lingkungan yang sehat dan penuh rasa hormat.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.