SURAU.CO – Dalam khazanah keulamaan Indonesia modern, KH Ahmad Azhar Basyir merupakan sosok yang sangat dikenang. Ia bukan hanya ulama fikih yang cemerlang, tapi juga filsuf, akademisi, dan organisator ulung yang menghubungkan dunia pesantren dengan universitas, serta ilmu agama dengan rasionalitas modern. Azhar menjadi jembatan antara tradisi Islam klasik dan pembaruan Islam Indonesia.
Lahir di Yogyakarta pada 21 November 1928, Azhar tumbuh di lingkungan religius dan intelektual Kampung Kauman Yogyakarta, pusat dakwah, pendidikan, dan pembaruan Islam melalui Muhammadiyah. Ayahnya, Haji Muhammad Basyir, dikenal disiplin dan menekankan pendidikan agama, sementara ibunya, Siti Djilalah, menanamkan kesabaran dan kasih sayang. Kombinasi ini membentuk keseimbangan Azhar.
Ketegasan prinsip dan kelembutan Perilaku
Lingkungan Kauman mempengaruhi intelektual Azhar. Aktivitas keagamaan intensif di kampung itu, mulai pengajian hingga diskusi keagamaan, menumbuhkan minatnya memahami agama secara mendalam dan rasional.
KH. Ahmad Azhar Basyir adalah ulama-intelektual yang tenang dan bersahaja, namun memiliki keluasan ilmu dan ketajaman berpikir yang luar biasa. Ilmu bagi Azhar bukan hanya wacana, tapi pedoman hidup dan pengabdian. Sebagai akademisi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah (1990-1995), ia menampilkan Islam yang rasional, berkemajuan, dan berkeadaban. Ketenangan dan kecemerlangan intelektualnya membuatnya dihormati lintas kalangan, dari pesantren hingga birokrasi negara. Azhar bukan hanya pemimpin, tapi guru kehidupan yang mengajarkan berpikir kritis dan beriman tidak bertentangan. Islam di tangannya tampil sebagai energi moral dan spiritual yang menuntun manusia menghadapi kompleksitas zaman.
Azhar Basyir lahir dari keluarga dan lingkungan yang membentuknya. Ia pewaris semangat tajdid KH Ahmad Dahlan, menjembatani iman, ilmu, dan amal sosial. Dalam kenangan Mustofa W. Hasyim, Kiai Azhar digambarkan sebagai pribadi tegas namun bersahaja, ramah, lembut, cerdas, dan menghargai lawan bicara. Kesederhanaan dan kecerdasannya mencerminkan tradisi Kauman: disiplin, berilmu, dan berakhlak.
Rihlah Ilmiah
Kecintaan Ahmad Azhar Basyir terhadap ilmu sudah tampak sejak masa kecilnya di Kauman. Ia tumbuh dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang menekankan keseimbangan antara iman dan rasio. Azhar menempuh pendidikan formal pertamanya di Sekolah Rendah Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta, lembaga yang telah melahirkan banyak tokoh pembaru Islam Indonesia. Di sana, ia menjadi siswa tekun dengan rasa ingin tahu besar terhadap pelajaran agama.
Setelah menamatkan sekolah dasar, Azhar melanjutkan ke Madrasah Salafiyah Tremas, Pacitan, pesantren tertua dan berpengaruh di Jawa Timur. Di Tremas, ia memperdalam dasar-dasar fikih, tafsir, dan bahasa Arab, namun hanya menetap selama satu tahun. Azhar kemudian melanjutkan studi ke Madrasah Al-Falah Kauman dan menuntaskan pendidikan tingkat menengah pertama pada 1944.
Selanjutnya, ia melanjutkan ke Tabligh School Muhammadiyah (Madrasah Mubalighin III) Yogyakarta, lembaga yang mencetak kader mubaligh dan pemikir dakwah Muhammadiyah. Di sinilah fondasi keulamaannya semakin kuat, berpadu dengan tradisi berpikir logis dan rasional khas Muhammadiyah. Azhar menamatkan pendidikannya dengan hasil gemilang dua tahun kemudian.
Pasukan Santri Mempertahankan Kemerdekaan
Ketika Indonesia memasuki masa revolusi kemerdekaan, Azhar Basyir turut berjuang di medan sosial-politik dengan bergabung dalam TNI Hizbullah Batalion 36 Yogyakarta, bagian dari pasukan santri yang mempertahankan kemerdekaan.
Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam dalam diri KH. Ahmad Azhar Basyir: beragama bukan hanya beribadah, tapi juga berjuang menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Pasca-revolusi, Azhar melanjutkan pendidikan di Madrasah Menengah Tinggi Yogyakarta (1949-1952), lalu menempuh studi tinggi di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta, cikal bakal UIN Sunan Kalijaga. Dosen dan mahasiswa cepat mengenalnya berkat ketekunan dan kemampuan akademiknya.
Azhar memimpin Pemuda Muhammadiyah pada usia muda (1954) dan kembali memimpin dalam Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembang (1956). Karier intelektualnya meluas dengan beasiswa ke luar negeri. Ia belajar di Universitas Baghdad (Irak) dan Universitas Kairo (Mesir), meraih gelar Master (M.A.) dalam Islamic Studies. Tesisnya, “Nizham al-Mirats fi Indonesia, Baina al-‘Urf wa asy-Syari’ah al-Islamiyyah”, menunjukkan sintesis hukum Islam dan kearifan lokal, tema yang mewarnai gagasan pembaruannya.
Selepas studi, Azhar pulang ke tanah air dengan bekal keilmuan luas dan semangat pengabdian tinggi. Ia menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM), menyalurkan ilmunya di dunia akademik. (Basnang Said), (CM)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
