Fenomena mukbang kini merajai berbagai platform media sosial dunia. Konten kreator berlomba-lomba mengonsumsi makanan dalam porsi raksasa. Jutaan penonton terpaku melihat aksi makan yang tidak wajar tersebut. Namun, tren ini sangat kontras dengan ajaran Islam. Kitab Riyadus Shalihin karya Imam Nawawi memberikan kritik mendalam. Kitab klasik ini membahas secara rinci mengenai adab makan. Islam menekankan kesederhanaan dan melarang keras perilaku rakus.
Apa Itu Fenomena Mukbang?
Istilah mukbang berasal dari bahasa Korea Selatan. Kata ini menggabungkan “muk-ja” (makan) dan “bang-song” (siaran). Secara harfiah, mukbang berarti siaran makan di depan kamera. Awalnya, mukbang bertujuan untuk menemani penonton yang makan sendirian. Namun, tren ini bergeser menjadi ajang pamer porsi makan besar. Kreator sering kali memaksakan diri menghabiskan makanan berkalori tinggi. Hal ini menciptakan budaya baru yang mengagungkan nafsu makan.
Pandangan Kitab Riyadus Shalihin
Imam Nawawi dalam kitab Riyadus Shalihin menyusun bab khusus tentang adab makan. Beliau mengumpulkan berbagai hadis tentang pola makan Nabi Muhammad SAW. Salah satu prinsip utama adalah rasa syukur. Islam melihat makan sebagai sarana untuk ibadah. Mukbang justru mengubah makan menjadi hiburan yang bersifat konsumtif. Riyadus Shalihin mengingatkan manusia agar tidak menjadi hamba perut.
Dalam salah satu kutipan hadis yang populer di kitab ini, Rasulullah SAW bersabda:
“Anak Adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan punggungnya. Jika ia harus melakukannya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi).
Kutipan tersebut menjadi tamparan keras bagi pelaku mukbang. Mukbang biasanya mengisi perut hingga kapasitas maksimal tanpa ruang udara.
Bahaya Kerakusan dan Israf
Islam sangat melarang perilaku israf atau berlebih-lebihan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Fenomena mukbang sering kali memicu pemborosan makanan. Banyak makanan tersisa atau berakhir sia-sia demi konten semata. Kerakusan bukan sekadar masalah fisik, melainkan juga masalah spiritual.
Para ulama menjelaskan bahwa perut kenyang mengeraskan hati. Seseorang yang terbiasa makan berlebihan akan malas beribadah. Mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dalam aspek kehidupan lainnya. Riyadus Shalihin mengajak kita untuk kembali pada konsep qana’ah. Kita harus merasa cukup dengan apa yang ada di depan mata.
Dampak Kesehatan dan Psikologis
Secara medis, mukbang membawa risiko kesehatan yang fatal. Obesitas, diabetes, dan kolesterol mengintai para pelaku konten ini. Tubuh manusia memiliki batasan dalam memproses nutrisi secara sekaligus. Melampaui batas ini berarti menzalimi diri sendiri.
Secara psikologis, penonton mukbang juga bisa terdampak negatif. Mereka mungkin merasa tidak puas dengan makanan sederhana mereka. Budaya ini memicu gangguan makan pada sebagian individu. Islam selalu mengajarkan jalan tengah atau wasathiyah. Jalan tengah ini menjaga keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan kesehatan jiwa.
Adab Makan sebagai Solusi
Imam Nawawi menegaskan pentingnya memulai makan dengan Bismillah. Kita juga harus menggunakan tangan kanan dan mengambil makanan terdekat. Adab-adab ini mendidik kita untuk tetap tenang saat makan. Kita tidak boleh tergesa-gesa atau terlihat sangat kelaparan.
Nabi Muhammad SAW juga memberikan contoh melalui kutipan berikut:
“Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar, dan jika kami makan tidak sampai kekenyangan.”
Pesan ini sangat relevan untuk mengimbangi pengaruh budaya mukbang. Kita perlu memilah tontonan yang memberikan nilai manfaat. Menonton orang makan berlebihan bukanlah edukasi yang baik. Sebaliknya, hal itu menormalisasi perilaku rakus di tengah masyarakat.
Kesimpulan
Hubungan antara mukbang dan Riyadus Shalihin menunjukkan pertentangan nilai yang nyata. Mukbang mempromosikan kerakusan demi popularitas dan materi. Sementara itu, Riyadus Shalihin membimbing kita menuju kemuliaan akhlak. Mari kita renungkan kembali pola konsumsi kita setiap hari. Makanlah secukupnya agar tubuh sehat dan ruhani tetap terjaga. Islam bukan melarang makan enak, namun Islam melarang perilaku yang melampaui batas. Jadikanlah makanan sebagai penguat tenaga untuk berbuat kebaikan, bukan sebagai ajang pamer nafsu.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
