SURAU.CO – Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, namun sering tidak disadari, adalah merasa diri lebih baik dari orang lain. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk kesombongan yang kasat mata. Tidak selalu hadir dalam kata-kata yang merendahkan atau sikap yang terang-terangan menghina. Justru, penyakit ini sering bersembunyi dalam rasa aman palsu: merasa lebih taat, lebih lurus, lebih paham agama, atau lebih bersih dibanding sesama.
Padahal, perasaan inilah yang kerap menggugurkan nilai amal tanpa disadari. Amal yang tampak besar di mata manusia bisa menjadi ringan, bahkan hampa, ketika disertai rasa ujub dan meremehkan orang lain.
Allah SWT telah mengingatkan dengan sangat tegas: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”¹ Ayat ini menempatkan manusia pada posisi yang sangat jelas: tidak ada satu pun hamba yang berhak memastikan kemuliaan dirinya. Takwa bukan milik klaim, melainkan rahasia antara hamba dan Rabb-nya.
Jangan pernah berdiri di hadapan manusia dengan perasaan paling suci. Sebab kita tidak pernah tahu, di sudut sunyi malamnya, ada doa yang ia sembunyikan; ada air mata taubat yang tak pernah ia pamerkan; ada kebaikan yang sengaja ia rahasiakan hanya untuk Allah. Amal tidak selalu bersuara, dan keikhlasan justru tumbuh dalam diam.
Husnuzan kepada Manusia, Curiga kepada Diri Sendiri
Ketika engkau melangkah keluar rumah, pandanglah setiap orang dengan prasangka baik. Anggap mereka lebih mulia, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah daripada dirimu. Sisakan satu ruang curiga, bukan untuk orang lain, tetapi untuk hati sendiri. Di situlah introspeksi menemukan maknanya.
Prinsip ini bukanlah ajaran untuk merendahkan diri secara berlebihan, tetapi latihan ruhani agar hati tetap hidup dan bersih. Para ulama salaf dikenal sangat takut terhadap penyakit merasa paling benar. Mereka berkata, “Jika engkau melihat orang lain lebih taat darimu, katakanlah: ia lebih dekat kepada Allah. Jika engkau melihat orang lain lebih buruk amalnya, katakanlah: mungkin akhir hidupnya lebih baik dariku.”
Sikap seperti ini menjaga hati dari penghakiman. Sebab, penghakiman adalah awal dari kerusakan sosial dan spiritual. Allah SWT mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”² Ayat ini menegaskan bahwa tidak semua yang terlintas di benak layak dijadikan vonis.
Ukuran Kemuliaan Ada di Hati
Sering kali manusia menilai kemuliaan dari tampilan luar: cara berpakaian, gaya bicara, simbol-simbol agama, atau citra kesalehan yang terlihat. Padahal, Islam justru memindahkan ukuran itu ke dalam hati.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”³ Hadis ini mengguncang standar penilaian manusia. Yang tampak belum tentu bernilai, dan yang tersembunyi belum tentu hina.
Betapa banyak orang yang di mata manusia terlihat biasa saja, namun di sisi Allah memiliki kedudukan yang tinggi. Dan betapa banyak pula yang tampak saleh, tetapi amalnya runtuh karena hatinya penuh kesombongan. Di sinilah letak bahaya merasa diri lebih baik dari orang lain: ia merusak dari dalam, tanpa suara.
Kesombongan Spiritual yang Paling Halus
Kesombongan tidak selalu berbentuk harta, jabatan, atau kekuasaan. Ada kesombongan yang jauh lebih halus, namun lebih berbahaya: kesombongan spiritual. Merasa lebih taat, lebih selamat, atau lebih dicintai Allah dibanding orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”⁴ Ketika para sahabat bertanya tentang orang yang senang berpakaian rapi dan terlihat indah, Rasulullah menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
Meremehkan manusia, dalam bentuk apa pun adalah tanda rusaknya hati. Bahkan merasa aman dari murka Allah juga termasuk kesombongan yang tercela. Allah SWT berfirman: “Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”⁵
Akhlak Lebih Tinggi dari Sekadar Amal
Kerendahan hati adalah jalan keselamatan. Ia adalah buah dari pemahaman yang benar tentang diri dan Tuhan. Orang yang rendah hati tidak sibuk mengukur amal orang lain, karena ia sadar betapa banyak kekurangannya sendiri.
Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”⁶ Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran keislaman bukan hanya ibadah personal, tetapi juga dampak sosialnya. Jika kehadiran kita melukai, merendahkan, atau menghakimi, maka ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita beragama.
Sering kali orang sibuk membela kebenaran, tetapi lupa menjaga akhlak. Padahal, kebenaran yang disampaikan tanpa akhlak justru menjauhkan manusia dari kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu, akhlak adalah pintu dakwah yang paling kuat.
Penutup: Takut Amal Tidak Diterima
Orang-orang saleh terdahulu bukan takut amalnya sedikit, tetapi takut amalnya tidak diterima. Mereka menangis bukan karena dosa orang lain, tetapi karena dosa dirinya sendiri. Inilah tanda hati yang hidup.
Maka, jangan pernah merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Bisa jadi orang yang hari ini kita pandang rendah, justru lebih dekat kepada Allah dibanding diri kita. Dan bisa jadi amal yang kita banggakan, tidak bernilai karena hati yang kotor.
Keselamatan bukan milik mereka yang merasa paling benar, tetapi milik mereka yang paling takut kepada Allah dan paling lembut kepada sesama. Di situlah iman menemukan keindahannya, dan pada akhirnya akhlak menemukan kemuliaannya.
Catatan Kaki
- Al-Qur’an al-Karim, QS. An-Najm [53]: 32.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Hujurat [49]: 12.
-
Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, hadis no. 2564.
-
Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, hadis no. 91.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-A’raf [7]: 99.
- Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadis no. 10; Muslim, hadis no. 40. (Tengku Iskandar, M. Pd: Penyuluh Agama Islam Fungsional
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
