SURAU.CO – Masyarakat hari ini sedang berada pada fase kelelahan kolektif. Kelelahan itu bukan semata akibat pekerjaan yang menumpuk atau tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya reda, tetapi juga karena beban psikologis dan sosial yang terus menekan. Arus informasi yang deras, konflik pendapat yang tak berkesudahan, serta ketegangan sosial yang mudah tersulut membuat banyak orang kehilangan ruang hening untuk menenangkan batin.
Dalam situasi seperti ini, agama sejatinya diharapkan hadir sebagai peneduh. Namun tidak jarang, agama justru tampil dengan wajah yang kaku dan menghakimi. Alih-alih menenangkan, sebagian ekspresi keberagamaan malah memperkeruh suasana, menambah kegelisahan, bahkan memperdalam jurang perpecahan. Padahal, sejak awal risalahnya, Islam diturunkan sebagai rahmat, bukan sebagai beban.
Allah SWT menegaskan misi agung kenabian ini: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”¹ Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis, tetapi juga pedoman sosial. Kehadiran Islam di tengah masyarakat semestinya menghadirkan ketenangan, menumbuhkan harapan, dan memperbaiki relasi antarmanusia.
Kesalehan yang Menyentuh Realitas Sosial
Salah satu tantangan keberagamaan hari ini adalah terputusnya kesalehan personal dari kepekaan sosial. Tidak sedikit orang yang rajin menjalankan ritual ibadah, namun kurang peka terhadap penderitaan orang lain. Padahal, Islam tidak pernah memisahkan ibadah dari tanggung jawab sosial.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”² Hadis ini menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan atau praktik individual, tetapi harus tercermin dalam sikap sosial. Mencintai sesama berarti menghadirkan rasa aman, bukan ancaman; memberi ruang, bukan tekanan.
Dalam masyarakat yang sedang lelah, kehadiran orang-orang beriman seharusnya terasa menenangkan. Iman yang hidup adalah iman yang mampu merangkul, bukan memukul; menasihati dengan empati, bukan dengan caci maki.
Dakwah yang Memudahkan dan Menyembuhkan
Refleksi penting lainnya adalah wajah dakwah di ruang publik. Di era digital, dakwah sering kali tampil dalam bentuk pesan singkat yang keras, penuh penilaian, dan minim konteks. Kesalahan kecil diperbesar, perbedaan pendapat dipertajam, dan kekhilafan manusia dipertontonkan tanpa empati.
Padahal, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pendakwah yang lembut dan penuh kebijaksanaan. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu memilih jalan yang paling mudah selama tidak mengandung dosa.³ Prinsip ini menunjukkan bahwa kemudahan dan kelembutan adalah bagian dari manhaj dakwah Nabi.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya agama ini mudah.”⁴ Kemudahan bukan kompromi prinsip, tapi penyampaian yang tidak memberatkan. Dalam masyarakat yang sedang tertekan, pendekatan dakwah yang keras justru akan menjauhkan umat dari nilai-nilai agama itu sendiri.
Dakwah sejatinya adalah proses penyembuhan batin. Ia hadir untuk menguatkan yang rapuh, membimbing yang tersesat, dan menenangkan yang gelisah. Ketika dakwah kehilangan dimensi ini, ia berisiko berubah menjadi sekadar alat legitimasi moral tanpa ruh kasih sayang.
Agama sebagai Sumber Harapan Sosial
Kelelahan sosial sering kali berujung pada keputusasaan. Banyak orang merasa tidak lagi memiliki harapan terhadap keadaan. Di sinilah agama memiliki peran yang sangat penting. Islam mengajarkan, harapan tak boleh padam meski kondisi seberat apa pun.
Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”⁵ Ayat ini menegaskan bahwa putus asa bukanlah sikap seorang mukmin. Rahmat Allah selalu terbuka, baik bagi individu maupun bagi masyarakat yang sedang berada dalam krisis.
Islam menawarkan harapan yang tidak kosong, tapi disertai ajakan memperbaiki diri, memperkuat solidaritas, dan saling menolong dalam kebaikan. Agama tidak mengajarkan umatnya untuk pasrah tanpa usaha, tetapi juga tidak membiarkan mereka berjuang tanpa sandaran spiritual.
Menjadi Umat yang Menenangkan
Dalam Al-Qur’an, umat Islam disebut sebagai ummatan wasathan, umat yang moderat dan seimbang.⁶ Moderasi ini tercermin dalam sikap adil, bijaksana, dan mampu menjadi penengah di tengah berbagai ketegangan sosial. Dalam konteks hari ini, menjadi umat yang moderat berarti menghadirkan ketenangan, bukan memperuncing konflik.
Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”⁷ Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan sosial modern, termasuk di ruang digital. Ujaran yang melukai, komentar yang merendahkan, dan konten yang memicu kebencian adalah bentuk-bentuk kekerasan sosial yang bertentangan dengan nilai Islam.
Menjadi Muslim yang menenangkan berarti menjaga lisan, tulisan, dan sikap. Ia hadir sebagai solusi, bukan provokasi; sebagai peneduh, bukan pemantik api. Inilah bentuk ibadah sosial yang sering kali terlupakan, padahal dampaknya sangat besar bagi kehidupan bersama.
Penutup
Agama tidak pernah kehilangan relevansinya. Yang sering kali bermasalah adalah cara kita menghadirkannya di tengah masyarakat.
Ketika agama tampil dengan wajah ramah, empatik, dan solutif, ia akan kembali menemukan tempatnya di hati masyarakat yang sedang lelah.
Di tengah dunia yang kian bising, menghadirkan ketenangan adalah sebuah amal besar. Dan di sanalah dakwah menemukan maknanya yang paling hakiki: bukan hanya menyeru kepada kebenaran, tetapi juga menghadirkan rahmat. Bukan sekadar mengingatkan tentang akhirat, tetapi juga menenangkan perjalanan hidup manusia di dunia.
Catatan Kaki
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Anbiya [21]: 107. Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Beirut: Dar al-Fikr, juz 5.
-
HR. al-Bukhari no. 13; Muslim no. 45.
-
HR. al-Bukhari no. 3560; Muslim no. 2327. Lihat: An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
-
HR. al-Bukhari no. 39.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. Az-Zumar [39]: 53.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 143.
- HR. al-Bukhari no. 10; Muslim no. 40. (Rahma Juwita, SH. I: Penyuluh Agama Islam, Kabupaten Damasraya Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
