Era digital saat ini membuat hampir setiap orang tua ingin membagikan momen bahagia buah hati mereka ke media sosial. Foto anak yang lucu, video tingkah menggemaskan, hingga prestasi sekolah sering menghiasi lini masa Instagram maupun TikTok. Namun, di balik tren berbagi ini, muncul kekhawatiran mengenai fenomena yang kita kenal sebagai penyakit ain. Banyak orang tua mulai mempertanyakan, apakah rasa takut terhadap ain adalah bentuk paranoia atau justru sebuah kewaspadaan yang memang perlu.
Memahami Apa Itu Penyakit Ain
Secara harfiah, “ain” berasal dari bahasa Arab ’ana – ya’inu yang berarti mata. Penyakit ain merupakan gangguan yang timbul akibat pandangan mata orang lain yang disertai rasa iri, dengki, atau bahkan kekaguman yang luar biasa. Uniknya, penyakit ini tidak hanya muncul dari niat jahat, tetapi bisa juga lahir dari pujian tulus tanpa menyebut nama Tuhan.
Dalam sebuah hadits yang populer, Rasulullah SAW bersabda:
“Ain itu nyata (benar adanya), jika ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka ain-lah yang melakukannya.” (HR. Muslim).
Kutipan ini menegaskan bahwa pengaruh pandangan mata bukanlah sekadar mitos atau khayalan belaka. Dalam konteks media sosial, satu unggahan foto anak bisa dilihat oleh ribuan pasang mata dengan berbagai macam kondisi hati.
Mengapa Media Sosial Menjadi Ladang Subur Ain?
Media sosial bertindak sebagai etalase raksasa yang memamerkan kelebihan dan kebahagiaan. Saat Anda mengunggah foto anak yang sedang tertawa cantik, mata yang melihatnya mungkin merasa iri karena belum memiliki keturunan. Di sisi lain, ada pula orang yang sangat mengagumi kecantikan anak tersebut namun lupa mendoakan keberkahan baginya.
Kondisi inilah yang memicu energi negatif yang dapat berdampak pada fisik maupun psikis sang anak. Gejala yang sering dikaitkan dengan ain meliputi anak yang tiba-tiba rewel tanpa sebab, demam yang tidak terdeteksi medis, hingga perubahan perilaku yang drastis.
Paranoia atau Kewaspadaan?
Banyak pihak menganggap orang tua yang menutupi wajah anaknya dengan stiker sebagai sosok yang terlalu paranoid. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang perlindungan, tindakan tersebut merupakan langkah preventif yang bijak. Kewaspadaan terhadap ain sebenarnya berjalan beriringan dengan isu privasi digital dan keamanan anak di internet.
Dunia siber tidak hanya berisi ancaman spiritual seperti ain, tetapi juga ancaman nyata dari predator anak atau pencuri identitas. Oleh karena itu, membatasi unggahan foto anak bukan berarti Anda menutup diri dari kebahagiaan. Anda hanya sedang menyaring siapa saja yang berhak melihat perkembangan pribadi buah hati Anda.
Seorang ulama pernah berpesan mengenai pentingnya menjaga nikmat dari pandangan orang lain:
“Gunakanlah cara yang rahasia di dalam menyukseskan kebutuhan-kebutuhan kalian, karena setiap orang yang mempunyai nikmat itu pasti dicemburui (hasad).” (HR. Thabrani).
Cara Melindungi Anak dari Bahaya Ain
Bagi orang tua yang tetap ingin berbagi momen di media sosial, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk meminimalisir risiko ain.
Pertama, biasakanlah untuk menyertakan kalimat pujian kepada Allah saat mengunggah foto, seperti “Masya Allah Tabarakallah”. Kalimat ini berfungsi sebagai penangkal agar kekaguman orang lain tidak berubah menjadi energi ain yang merusak.
Kedua, aturlah privasi akun media sosial Anda. Pastikan hanya orang-orang terdekat yang mengenal Anda dengan baik yang dapat melihat foto anak. Hindari memamerkan kelebihan anak secara berlebihan yang dapat memicu rasa cemburu sosial di kalangan pengikut Anda.
Ketiga, rutinlah membacakan doa perlindungan untuk anak. Rasulullah SAW sering membentengi Hasan dan Husain dengan doa:
“Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, binatang berbisa, dan pandangan mata yang jahat.”
Menemukan Titik Tengah
Menghadapi fenomena ain tidak harus membuat Anda hidup dalam ketakutan yang mencekam. Kuncinya adalah keseimbangan antara iman, logika, dan etika dalam bermedia sosial. Penyakit ain memang nyata, namun kekuasaan Allah jauh lebih besar untuk melindungi hamba-Nya yang senantiasa waspada dan berdoa.
Menjaga privasi anak bukan berarti Anda adalah orang tua yang kuno atau paranoid. Tindakan ini justru menunjukkan bahwa Anda sadar akan adanya risiko di balik layar ponsel. Mari kita lebih bijak dalam menyebarkan momen kebahagiaan, agar nikmat yang kita miliki tetap terjaga dan membawa keberkahan bagi keluarga.
Dengan memahami bahwa mata bisa “berbicara” tanpa suara, kita akan lebih berhati-hati dalam menaruh harta paling berharga kita di ruang publik digital. Kesadaran ini adalah bentuk kasih sayang tertinggi orang tua untuk melindungi masa depan anak-anak mereka.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
