SURAU.CO. Imam Hasan Al-Basri berkata bahwa seorang mukmin adalah penjaga bagi dirinya sendiri; dia bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Allah. Kutipan kata bijak ini mengingatkan pada kita pentingnya untuk muhasabah atau introspeksi terhadap diri sendiri. Muhasabah menjadi penting bagi umat manusia untuk mengetahui tantang apa yang pernah dilakukan dan apa yang akan kita lakukan. Muhasabah adalah kompas spiritual dan peta perbaikan diri.
Secara etimologis, muhasabah berasal dari kata bahasa Arab yang yang berarti menghitung atau melakukan introspeksi. Dalam konteks keislaman, muhasabah mempunyai makna sebagai proses evaluasi diri secara sadar, mendalam, dan berkesinambungan terhadap segala aspek kehidupan, baik berupa perbuatan, ucapan, maupun pikiran. Adapun tujuannya adalah tujuan untuk mengoreksi kesalahan, meningkatkan kualitas diri, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT . Proses ini bukan sekadar refleksi pasif, melainkan sebuah aktivitas mental-spiritual yang aktif, melibatkan perenungan jujur, penghitungan amal, dan perencanaan target perbaikan yang konkret.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), muhasabah adalah bahasa Arab dari introspeksi. Muhasabah adalah peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya pada diri sendiri. Arti muhasabah diri adalah salah satu cara membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang pernah ada. Sementara itu, menurut Ahmad Warson Munawir dalam Al-Munawir Kamus Arab-Indonesia, muhasabah adalah perhitungan atau introspeksi.
Padangan Beberapa Ulama
Muhasabah ialah introspeksi, mawas, atau meneliti diri. Yakni menghitung-hitung perbuatan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, bahkan setiap saat. Oleh karena itu muhasabah tidak harus melakukannya pada akhir tahun atau akhir bulan. Namun perlu juga setiap hari, bahkan setiap saat untuk bermuhasabah. Dalam kitab Risalah Qusyairiyah Dzun Nun Al-Mishry menyatakan, “Tanda mawas diri adalah memilih apa yang menjadi pilihan Allah SWT. Menganggap besar apa yang dipandang besar oleh-Nya dan menganggap remeh apa yang dipandangNya remeh.” Sedangkan an-Nasrabadhi menegaskan mawa diri adalah Harapan mendorongmu untuk patuh, takut menghindarkanmu dari maksiat, dan mawas diri membawamu kepada jalan kebenaran hakiki. Sementara Abul Ja’far bin Nasir menyebut mawas diri adalah kewaspadaan terhadap batin sendiri karena adanya kesadaran akan pengawasan Allah SWT terhadap setiap pemikiran
Sementara Imam Ghazali mengatakan muhasabah adalah perhitungan seorang hamba terhadap setiap gerak gerik dan diam yang telah dilaluinya, seperti seorang pedagang yang berhubungan dengan modal, untung dan rugi. Modal hamba pada agama adalah ibadah-ibadah fardhu, keuntungannya adalah ibadah-ibadah sunah, dan kerugiannya pada perbuatan maksiat. Adapun tahapannya adalah Musyarathah, Muraqabah, Mu’aqabah, Mujahadah dan terakhir Mu’atabah.
Manfaat Muhasabah
Menurut Ibnul Qayyim muhasabah memiliki pengaruh dan manfaat yang luar biasa. Pertama adalah ,mengetahui aib sendiri. Beliau mengatakan barangsiapa yang tidak memeriksa aib dirinya, maka ia tidak akan mungkin menghilangkannya. Kedua, dengan melakukan muhasabah, seseorang akan bersikap kritis terhadap diri sendiri dalam memenuhi hak-hak Allah.Ketiga, muhasabah akan membantu seseorang untuk melakukan muraqabah. Keempat, muhasabah memungkinkan seseorang untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Kelima, muhasabah akan membebaskan seseorang dari kemunafikan. Keenam, muhasabah akan membukakan pintu kerendahan hati dan penyerahan diri di hadapan Allah bagi seseorang. Ketujuh, muhasabah akan memperoleh keberuntungan untuk memasuki dan menempati Surga serta melihat Wajah Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Suci.
Sedangkan Imam Ghazali menyebut muhasabah mempunyai beberapa manfaat yaitu melihat kekurangan diri, memperbaiki amal, meningkatkan keimanan. Selain itu juga menumbuhkan tanggung jawab, menghindari maksiat, dan mempersiapkan diri untuk hisab akhirat. Kemudian hidup lebih bermakna dan kembali kepada Allah dengan baik, seperti pedagang yang teliti menghitung untung rugi agar dagangannya sukses. selain itu muhasabah membantu menyadari nikmat, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan merancang amal kebaikan masa depan untuk mencapai ketenangan hati. Sudahkan bermuhasabah hari ini ?
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
