SURAU.CO – Setiap pergantian tahun, ruang publik kita nyaris selalu dipenuhi euforia. Hitung mundur, pesta kembang api, dan keramaian malam panjang seolah menjadi ritual yang tak terpisahkan. Pergantian angka pada kalender diperlakukan layaknya peristiwa istimewa yang patut dirayakan.
Tidak ada dasar yang menunjukkan perayaan tahun baru istimewa, baik dari wahyu maupun akal sehat, terutama dalam Islam.
Nilai Tanggung Jawab Manusia
Islam menempatkan waktu sebagai makhluk Allah, bukan entitas sakral. Al-Qur’an memang bersumpah dengan waktu, wal-‘ashr, wal-lail, wan-nahar, tetapi sumpah itu bukan untuk memerintahkan perayaan, melainkan untuk menegaskan nilai tanggung jawab manusia atas amalnya. Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)
Tafsir para ulama: waktu adalah modal. Isi dengan iman dan amal saleh, atau berakhir kerugian, bukan sekedar euforia simbolik.¹
Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan umatnya agar tidak memosisikan waktu secara keliru:
“Janganlah kalian mencela waktu, karena Allah-lah yang mengatur waktu.” (HR. Muslim)
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini meluruskan keyakinan jahiliah yang mengaitkan baik-buruk nasib dengan waktu. Waktu tidak membawa keberkahan atau kesialan; ia berjalan sesuai kehendak Allah.² Karena itu, menganggap malam tahun baru sebagai “malam istimewa” dengan nilai tertentu adalah klaim tanpa landasan syariat.
Hukum Asal Ibadah adalah Menunggu Dalil
Dalam Islam, keistimewaan waktu ibadah selalu disertai dalil. Ramadhan, dua hari raya, hari Jumat, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan yang jelas. Tidak ada legitimasi ibadah atau perayaan pergantian tahun Masehi dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Para sahabat Nabi ﷺ, generasi paling memahami agama ini, juga tidak pernah menjadikannya sebagai momen ritual.
Kaedah ushul fiqh menegaskan: al-ashlu fil ‘ibadat at-tauqif, hukum asal ibadah adalah menunggu dalil. Tanpa dalil, pengagungan itu gugur dengan sendirinya.
Sering kali perayaan tahun baru dibungkus dengan alasan “refleksi diri”. Namun realitas sosial justru memperlihatkan paradoks. Tidak sedikit perayaan yang berujung pada pemborosan, hura-hura, pelanggaran moral, bahkan kecelakaan. Refleksi yang diklaim sering tenggelam dalam euforia sesaat. Padahal Islam mengajarkan muhasabah sepanjang waktu, bukan menunggu satu malam tertentu.
Bertentangan Dengan Prinsip Islam
Umar bin Khaththab r.a. berpesan:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Pesan ini menegaskan bahwa evaluasi diri adalah kesadaran harian, bukan seremoni tahunan. Perubahan hidup yang cuma diikatkan pada detik pergantian kalender, lalu menguap keesokan harinya, bukan transformasi iman, cuma rutinitas simbolik.
Islam tidak melarang penggunaan kalender Masehi sebagai alat administrasi. Kita harus kritisi pengagungan simbolik dan peniruan tradisi yang kehilangan nilai. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)
Para ulama menjelaskan bahwa tasyabbuh yang tercela adalah meniru tradisi yang sarat nilai ideologis atau gaya hidup yang bertentangan dengan prinsip Islam.³ Ketika perayaan tahun baru identik dengan budaya hura-hura, pemborosan, dan pelanggaran batas, maka sikap kritis menjadi keniscayaan moral.
Ketaatan dan Istiqamah
Pergantian tahun sejatinya hanyalah perubahan angka, bukan perubahan hakikat. Ia tidak menghapus dosa, tidak menjamin kebaikan, dan tidak menentukan masa depan. Yang menentukan kualitas hidup adalah ketaatan, amal saleh, dan istiqamah. Allah menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Ayat ini, menurut penjelasan para mufasir, menegaskan bahwa perubahan sejati bersumber dari kesadaran internal, bukan dari momentum eksternal seperti pergantian tahun.⁴
Dalam konteks sosial kebangsaan, sikap kritis terhadap perayaan tahun baru juga relevan. Di tengah problem kemiskinan, kerusakan moral, dan krisis keteladanan, euforia sesaat justru berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan substansial. Islam mendidik umatnya untuk tenang, sadar, dan bertanggung jawab, bukan larut dalam perayaan tanpa makna.
Alternatif sikap yang lebih bermartabat justru sederhana: mengisi malam biasa dengan amal biasa yang bernilai luar biasa; menjaga keluarga dari arus budaya hura-hura; dan meneguhkan orientasi hidup bahwa setiap hari adalah kesempatan taubat dan perbaikan.
Perubahan Iman dan Amal
Pada akhirnya, tahun baru tidak membawa keistimewaan apa pun selain satu kenyataan: usia berkurang dan ajal mendekat. Maka yang lebih penting bukanlah bagaimana kita merayakannya, tetapi bagaimana kita mengisinya. Dalam diam tanpa pesta, justru ada ruang luas untuk mendekat kepada Allah, Tuhan yang menggenggam waktu dan kehidupan.
Karena dalam Islam, yang istimewa bukan pergantian tahun, melainkan perubahan iman dan amal.
Catatan Kaki
- Lihat Tafsir Ibn Katsir, penjelasan QS. Al-‘Ashr.
-
An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Bab Larangan Mencela Waktu.
-
Ibn Taimiyah, Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim.
-
Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Ar-Ra‘d: 11. (Oleh: Tengku Iskandar, Afiliasi: Penyuluh Agama Islam, Lokasi: Padang, Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
