SURAU.CO – “The Pearl” adalah kisah yang sunyi dan menyayat hati, mengalir seperti gelombang kesedihan, lambat, tak terhindarkan, dan tak mungkin dihentikan setelah dimulai. John Steinbeck menulisnya dengan kesederhanaan dongeng, namun di balik kesederhanaan itu terdapat kesedihan mendalam tentang keinginan manusia dan keseimbangan rapuh dari kebahagiaan biasa. Novel ini dibuka di sebuah desa pesisir miskin tempat Kino, seorang penyelam mutiara, menjalani kehidupan yang dibentuk oleh rutinitas, cinta, dan bertahan hidup. Dunianya kecil tetapi lengkap: istrinya Juana, putra kecilnya Coyotito, dan laut yang memberi dan mengambil tanpa kebencian. Ini adalah kehidupan yang diukur bukan oleh kekayaan, tetapi oleh harmoni.
Harmoni itu hancur saat Kino menemukan mutiara besar. Di permukaan, penemuan itu terasa seperti pembebasan. Coyotito telah disengat kalajengking, dan dokter, yang mewakili kekejaman kolonial dan arogansi kelas, menolak untuk merawatnya karena Kino miskin. Mutiara itu muncul sebagai harapan yang menjadi nyata: pendidikan untuk anak itu, martabat untuk keluarga, kebebasan dari penderitaan yang diwariskan. Steinbeck membiarkan pembaca merasakan harapan ini sepenuhnya, karena hanya dengan begitu kehancurannya dapat benar-benar melukai.
Membangkitkan Sesuatu yang Ada dalam diri Manusia
Hampir seketika, mutiara itu mengubah cara dunia memandang Kino. Tetangga menjadi penasaran, pembeli menjadi tidak jujur, orang asing menjadi berbahaya. Mutiara itu menjadi cermin yang mencerminkan keserakahan manusia, dan setiap pandangan yang ditariknya membawa ancaman tersembunyi. Steinbeck secara halus menyiratkan bahwa mutiara itu bukanlah jahat secara alami; melainkan, ia membangkitkan sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia, sesuatu yang diasah oleh ketidaksetaraan dan haus kekuasaan. Apa yang dulunya “Lagu Keluarga” perlahan-lahan memberi jalan pada musik yang lebih keras, yang menenggelamkan cinta dan akal sehat.
Juana memahami hal ini jauh sebelum Kino. Ia merasakan bahwa mutiara itu membawa kehancuran, bukan keselamatan, dan memohon kepada Kino untuk melemparkannya kembali ke laut. Kebijaksanaannya tenang, naluriah, berakar pada kehidupan daripada ambisi. Namun, Kino mengikat harga dirinya pada mutiara itu. Meninggalkannya berarti menyerahkan mimpinya dan mengakui rasa takut. Dalam penolakannya, Steinbeck mengungkap kebenaran yang menyakitkan: betapa mudahnya harapan mengeras menjadi obsesi, dan bagaimana maskulinitas, ketika didefinisikan oleh dominasi dan pembangkangan, dapat membutakan seorang pria terhadap cinta.
Saat Kino berpegang teguh pada mutiara itu, kekerasan mengikutinya seperti bayangan. Ia diserang, rumahnya dihancurkan, dan akhirnya ia dan Juana terpaksa melarikan diri ke hutan belantara. Kisah ini menyempit menjadi pengejaran, melucuti ilusi bahwa mutiara itu masih dapat membawa kebaikan. Tragedi mencapai puncaknya yang sunyi dan menghancurkan ketika Coyotito terbunuh oleh tembakan yang dimaksudkan untuk membungkam tangisannya. Mimpi yang dimaksudkan untuk menyelamatkan anak itu menjadi alasan ia hilang. Steinbeck tidak mendramatisir momen ini dengan emosi yang berlebihan; sebaliknya, ia membiarkan keniscayaannya berbicara, membuat kehilangan terasa lebih berat dan lebih final.
Alam Itu Bukanlah Musuh
Ketika Kino dan Juana kembali ke desa, mereka bukan lagi orang yang sama yang pernah tinggal di sana. Mereka berjalan berdampingan, bersatu bukan oleh harapan tetapi oleh kesedihan. Bersama-sama, mereka melemparkan mutiara itu kembali ke laut. Tindakan itu bersifat simbolis, namun tidak menawarkan penghiburan yang nyata. Tidak ada yang dipulihkan. Desa tetap tidak adil, sistem eksploitasi tidak berubah, dan Coyotito tetap tiada. Laut menerima mutiara itu tanpa komentar, seolah mengingatkan kita bahwa alam itu sendiri bukanlah musuh.
Kekuatan melankolis dari The Pearl terletak pada penolakannya untuk menghibur pembaca. Steinbeck tidak menentang mimpi; ia memperingatkan terhadap mimpi yang dibentuk oleh keserakahan dan dipaksakan oleh dunia yang mengajarkan kaum miskin bahwa mereka tidak berharga tanpa kekayaan. Novela ini mengungkap bagaimana kolonialisme dan kapitalisme mengubah harapan menjadi jebakan, menawarkan jalan keluar sambil diam-diam memperketat cengkeramannya.
Pada akhirnya, The Pearl terasa kurang seperti sebuah cerita dan lebih seperti ratapan, pengingat bahwa kehilangan yang paling berbahaya bukanlah tiba-tiba, tetapi bertahap. Cinta terkikis, perdamaian retak, dan kepolosan dihancurkan bukan oleh monster, tetapi oleh keinginan manusia biasa. Steinbeck meninggalkan kita dengan kebenaran yang menghantui: terkadang harta karun yang paling terang menebarkan bayangan yang paling gelap, dan terkadang melepaskan adalah satu-satunya martabat yang tersisa bagi mereka yang telah kehilangan segalanya. (Yanuardi Syukur)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
