SURAU.CO – Tidak semua nikmat bertahan lama. Sebagian datang lalu pergi tanpa disadari. Sebagian lain tetap ada secara lahiriah, tetapi kehilangan makna dan keberkahan.
Islam mengajarkan bahwa nikmat bukan sekadar sesuatu yang diterima, melainkan amanah yang harus dijaga. Jika tidak, nikmat justru berubah menjadi sebab kelalaian dan kerugian.
Beriringan dengan Tanggung Jawab
Ulama besar Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menyampaikan sebuah kaidah penting dalam kehidupan:
“Barang siapa yang memiliki banyak nikmat, hendaknya ia ikat nikmat tersebut dengan syukur. Jika tidak, nikmat itu akan pergi.”¹
Ungkapan ini ringkas, namun sangat dalam. Nikmat, menurut Ibnu Rajab, bukan sesuatu yang otomatis menetap. Ia seperti sesuatu yang mudah terlepas, sehingga membutuhkan pengikat. Pengikat itu bukan harta, jabatan, atau kecerdikan, melainkan syukur.
Al-Qur’an menegaskan bahwa nikmat selalu beriringan dengan tanggung jawab. Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa janji penambahan nikmat dalam ayat ini bersifat umum, mencakup nikmat agama dan dunia. Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sikap batin dan amal nyata yang menjaga nikmat tetap berada dalam koridor kebaikan².
Pengakuan Hati bahwa Nikmat dari Allah SWT
Ibnu Rajab menggunakan istilah mengikat nikmat, yang menunjukkan bahwa nikmat pada dasarnya mudah pergi. Kekayaan bisa habis, kesehatan bisa hilang, kedudukan bisa runtuh, bahkan ketenangan batin bisa lenyap tanpa tanda. Banyak orang kehilangan nikmat bukan karena kurang usaha, tetapi karena putusnya ikatan syukur.
Syukur dalam Islam bukan sekadar mengucap alhamdulillah. Para ulama menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga unsur: pengakuan hati bahwa nikmat berasal dari Allah, pujian lisan kepada-Nya, dan penggunaan nikmat dalam ketaatan. Jika salah satu unsur ini hilang, syukur menjadi rapuh.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa nikmat, sebagaimana musibah, adalah ujian:
“Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “kebaikan” dalam ayat ini mencakup kelapangan hidup, kesehatan, dan keberhasilan, yang sering kali justru lebih berat ujiannya dibandingkan kesempitan³. Sebab, nikmat datang tanpa rasa sakit, namun perlahan melalaikan.
Mengikat Nikmat dengan Syukur dan Ketundukan
Sejarah mencatat, banyak kehancuran terjadi bukan saat manusia diuji dengan kesulitan, tetapi ketika diuji dengan kelapangan. Fir‘aun binasa dalam puncak kekuasaan. Qarun tenggelam bersama hartanya. Mereka gagal mengikat nikmat dengan syukur dan ketundukan.
Rasulullah ﷺ memberi teladan tertinggi dalam bersyukur. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa beliau shalat malam hingga bengkak kakinya. Ketika ditanya alasannya, beliau bersabda:
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam syarah hadis ini, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa syukur Nabi ﷺ bukan karena kekurangan nikmat, tetapi karena kesempurnaan ma‘rifat beliau kepada Allah⁴. Semakin besar nikmat, semakin besar pula tuntutan syukur.
Syukur yang benar tidak melahirkan rasa aman palsu, tetapi ketundukan. Ia membuat manusia sadar bahwa nikmat adalah titipan, bukan hak mutlak. Karena itu, syukur justru menjaga manusia dari kesombongan dan kelalaian.
Keselamatan atau Pintu Kehancuran
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Nikmat itu seperti hewan liar. Jika tidak diikat, ia akan pergi.” Atsar ini sejalan dengan nasihat Ibnu Rajab, menegaskan bahwa nikmat tidak pernah netral. Ia bisa menjadi jalan keselamatan atau pintu kehancuran.
Di zaman modern, manusia hidup dalam limpahan fasilitas. Namun ironisnya, keluhan justru semakin banyak, sementara rasa cukup semakin tipis. Nikmat hadir, tetapi syukur tertinggal. Akibatnya, nikmat kehilangan keberkahan meski secara angka terus bertambah.
Inilah bentuk kehilangan yang paling berbahaya: nikmat masih ada, tetapi tidak menenangkan. Harta bertambah, namun hati gelisah. Ilmu meningkat, tetapi akhlak menurun. Inilah nikmat yang tidak diikat dengan syukur.
Nasihat Ibnu Rajab mengajarkan satu prinsip penting: nikmat tidak cukup dimiliki, ia harus dijaga. Dan penjagaan itu bernama syukur. Syukur mengikat nikmat agar tidak pergi, mengubah nikmat menjadi jalan mendekat kepada Allah, bukan menjauh.
Di tengah dunia yang sibuk menambah, Islam mengajarkan satu kunci untuk menjaga. Sebab nikmat yang diikat dengan syukur akan bertahan, sementara nikmat yang dilepas dari syukur, cepat atau lambat, akan hilang.
Catatan Kaki
-
Ibnu Rajab al-Hanbali, Majmū‘ Rasā’il Ibni Rajab, Juz 1, hlm. 379.
-
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Ibrahim: 7.
-
Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Anbiya: 35.
-
An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, bab syukur Nabi ﷺ.
-
Atsar Hasan al-Bashri, diriwayatkan dalam karya-karya zuhud klasik. (Tengku Iskandar, Afiliasi: Pemerhati Dakwah dan Sosial Keagamaan, Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
