Khazanah
Beranda » Berita » Hati yang Tunduk, Bukan Amal yang Dibanggakan

Hati yang Tunduk, Bukan Amal yang Dibanggakan

Hati yang Tunduk, Bukan Amal yang Dibanggakan
Hati yang Tunduk, Bukan Amal yang Dibanggakan

 

SURAU.CO – Salah satu penyakit batin yang paling halus namun paling berbahaya dalam kehidupan beragama adalah merasa lebih baik dari orang lain. Penyakit ini sering muncul bukan pada mereka yang jauh dari agama, melainkan justru pada orang-orang yang rajin beribadah. Dari sinilah Islam mengajarkan kehati-hatian besar dalam memandang dosa orang lain dan dalam menilai amal diri sendiri.

Jangan tergesa memandang rendah mereka yang pernah jatuh dalam dosa. Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan iman seseorang. Bisa jadi, di balik sunyinya malam, Allah menerima taubat yang tulus, taubat yang tidak diumumkan, tidak dipamerkan, dan tidak diketahui manusia. Taubat semacam inilah yang sering mengangkat derajat seorang hamba tanpa disadari orang lain.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, Allah mencintai orang yang bertaubat bukan karena dosanya, tapi karena kerendahan hati dan kejujuran penghambaan yang lahir dari taubat itu¹. Dosa yang diiringi taubat bisa jadi sebab kemuliaan, sementara amal yang diiringi kesombongan jadi sebab kehinaan.

Taubat yang Sunyi, Kemuliaan yang Tinggi

Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat dalam tentang luasnya rahmat Allah kepada pendosa yang kembali. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan kisah seorang hamba yang melakukan dosa, lalu bertaubat, kemudian jatuh lagi dalam dosa, lalu kembali bertaubat. Allah berfirman tentang hamba tersebut, “Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum dosa. Maka Aku telah mengampuninya.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam syarah hadis ini bahwa pengulangan dosa tidak membatalkan taubat selama taubat itu jujur dan disertai penyesalan². Hadis ini menjadi peringatan keras agar manusia tidak mudah memvonis orang lain hanya berdasarkan masa lalunya.

Dalam banyak kasus, orang yang pernah jatuh justru memiliki hati yang lebih lembut. Ia mengenal pahitnya dosa dan manisnya ampunan. Ia lebih mudah menangis dalam doa dan lebih rendah hati dalam ibadah. Sementara orang yang merasa “bersih” sering kali terjebak dalam rasa aman yang menipu.

Bahaya Merasa Suci

Allah secara tegas melarang manusia merasa suci:

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ayat ini, menurut tafsir Al-Qurthubi, merupakan larangan dari tazkiyatun nafs yang melahirkan kesombongan dan meremehkan orang lain³. Merasa suci bukan sekadar sikap batin, tetapi bisa membatalkan pahala amal tanpa disadari.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahaya ini dalam hadis yang sangat terkenal:

“Ada dua orang dari Bani Israil. Salah satunya rajin beribadah, sementara yang lain banyak berbuat dosa. Orang yang rajin beribadah itu berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu.’ Maka Allah berfirman, ‘Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni hamba-Ku? Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalmu.’” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan betapa berbahayanya merasa memiliki otoritas atas rahmat Allah⁴. Amal yang banyak bisa gugur hanya karena satu ucapan yang lahir dari kesombongan batin.

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq

Amal yang Tampak, Hati yang Dipertaruhkan

Islam tidak menafikan pentingnya amal lahiriah. Shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya adalah fondasi agama. Namun Islam juga menegaskan bahwa amal lahiriah tidak pernah berdiri sendiri. Nilainya sangat bergantung pada kondisi hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Dalam syarah hadis ini, para ulama menjelaskan bahwa hati disebut lebih dahulu karena ia adalah penggerak amal. Jika hati rusak, amal akan rusak. Jika hati lurus, amal akan bernilai⁵.

Inilah sebabnya para salaf lebih takut terhadap rusaknya niat dibandingkan sedikitnya amal. Mereka menangis bukan karena merasa kurang beribadah, tetapi karena khawatir amal yang mereka lakukan tidak diterima.

Orang Saleh Takut, Pendosa Berharap

Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, “Orang beriman menggabungkan antara rasa takut dan harapan. Jika salah satunya hilang, rusaklah hatinya.” Atsar ini menunjukkan keseimbangan iman yang sehat.

Orang saleh tidak merasa aman dengan amalnya, sementara pendosa tidak putus asa dari rahmat Allah.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seseorang sibuk mencela dosa orang lain, ketahuilah bahwa ia lupa terhadap dosanya sendiri.” Atsar ini relevan dalam kehidupan beragama hari ini, ketika sebagian orang lebih sibuk menghakimi daripada memperbaiki diri.

Ujian Orang Beribadah

Ujian terbesar orang yang rajin beribadah bukan lagi syahwat, tetapi ‘ujub dan merasa lebih tinggi. Inilah ujian yang sangat halus. Ia tidak terasa seperti dosa, tetapi dampaknya sangat merusak.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa amal bisa menjadi hijab antara hamba dan Allah jika melahirkan rasa bangga dan aman dari murka-Nya⁶. Amal yang seharusnya mendekatkan justru menjauhkan jika hati tidak tunduk.

Karena itu, para ulama selalu mengajarkan doa agar amal diterima, bukan agar amal diperbanyak semata. Justru, amal yang sedikit namun ikhlas lebih dicintai Allah dibanding amal banyak yang tercemar oleh kesombongan.

Penutup: Keselamatan Ada pada Kerendahan Hati

Pada akhirnya, Allah tidak menilai siapa yang paling tampak saleh, tetapi siapa yang paling jujur di hadapan-Nya. Allah tidak menimbang seberapa sering seseorang menunjuk dosa orang lain, tetapi seberapa sering ia menundukkan hatinya sendiri.

Jangan tergesa merendahkan mereka yang pernah jatuh dalam dosa. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan kemuliaan baginya melalui taubat yang sunyi dan tulus. Dan jangan pula merasa tinggi karena ibadah yang kita lakukan, sebab rasa suci di hati bisa menghapus nilai amal tanpa kita sadari.

Keselamatan bukan pada panjangnya daftar amal, tetapi pada hati yang tunduk, takut, berharap, dan terus bergantung kepada rahmat Allah hingga akhir hayat.

Catatan Kaki

  1. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Al-Baqarah: 222.

  2. An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, bab taubat.

  3. Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. An-Najm: 32.

  4. An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, syarah hadis tentang dua orang Bani Israil.

  5. An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, syarah HR. Muslim tentang hati dan amal.

  6. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, bab penyakit ‘ujub dan riya’. (Tengku Iskandar, Afiliasi: Pemerhati Dakwah dan Sosial Keagamaan,  Lokasi: Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.