Ekonomi
Beranda » Berita » Ekonomi Perhatian: Perang Memperebutkan Fokus dalam Salat

Ekonomi Perhatian: Perang Memperebutkan Fokus dalam Salat

Dunia modern menempatkan perhatian manusia sebagai komoditas paling berharga saat ini. Para ahli menyebut fenomena ini sebagai Ekonomi Perhatian (Attention Economy). Perusahaan teknologi raksasa merancang algoritma sedemikian rupa hanya untuk memikat mata kita. Sayangnya, persaingan memperebutkan fokus ini tidak berhenti di luar pintu masjid. Gangguan digital ini telah menyusup ke dalam ruang paling pribadi manusia, yaitu saat melaksanakan salat.

Memahami Ekonomi Perhatian di Era Digital

Ekonomi perhatian menganggap perhatian manusia sebagai sumber daya yang terbatas. Setiap aplikasi di dalam ponsel pintar Anda bersaing ketat untuk mendapatkan durasi pemakaian. Mereka menggunakan notifikasi, warna cerah, dan umpan balik instan sebagai senjata utama. Masalah muncul ketika kebiasaan memeriksa ponsel ini terbawa ke dalam aktivitas ibadah.

Banyak orang merasakan tarikan magnetis dari gawai mereka bahkan saat sedang berdiri di atas sajadah. Fenomena ini bukan sekadar masalah perilaku, melainkan hasil dari rekayasa teknologi yang sangat canggih. Otak kita sudah terbiasa dengan stimulasi cepat dari media sosial. Akibatnya, keheningan dalam salat terasa asing dan membosankan bagi sebagian orang.

Gangguan Digital dalam Kekhusyukan

Salat membutuhkan konsentrasi penuh dan kehadiran hati atau yang kita kenal sebagai khusyuk. Namun, ekonomi perhatian menciptakan kondisi mental yang selalu terfragmentasi. Pikiran kita sering melayang memikirkan pesan WhatsApp yang belum terbaca. Kita juga mungkin merasa cemas jika tidak segera melihat notifikasi terbaru di Instagram.

Seorang pakar komunikasi pernah menyatakan: “Dalam ekonomi perhatian, setiap detik fokus Anda adalah mata uang bagi perusahaan teknologi.” Kutipan ini menggambarkan betapa mahalnya harga sebuah fokus di zaman sekarang. Bahkan saat kita sedang menghadap Sang Pencipta, algoritma tetap bekerja untuk menarik kembali kesadaran kita ke dunia digital.

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

Dampak Psikologis pada Ibadah

Kecanduan terhadap stimulasi digital mengubah struktur kerja otak manusia. Kita menjadi sulit untuk fokus pada satu hal dalam durasi yang lama. Saat salat, pikiran seringkali melompat-lompat dari satu masalah duniawi ke masalah lainnya. Hal ini terjadi karena otak kita sudah terbiasa dengan pola multitasking yang diciptakan oleh gawai.

Seringkali kita mengalami phantom vibration syndrome. Kita merasa ponsel bergetar di saku padahal sebenarnya tidak ada notifikasi masuk. Gangguan semacam ini merusak kualitas komunikasi spiritual kita. Salat yang seharusnya menjadi momen istirahat dari hiruk-pikuk dunia, justru menjadi medan perang melawan gangguan pikiran.

Strategi Melawan Ekonomi Perhatian

Kita harus mengambil langkah nyata untuk memenangkan kembali fokus kita. Mematikan ponsel atau meletakkannya jauh dari jangkauan saat salat adalah langkah awal yang krusial. Kita perlu menciptakan batasan yang tegas antara kehidupan digital dan kehidupan spiritual. Tanpa batasan ini, teknologi akan terus mendominasi setiap aspek kehidupan kita, termasuk ibadah.

Kesadaran penuh atau mindfulness dapat membantu kita mengembalikan kualitas salat. Kita harus menyadari bahwa dunia digital tidak akan lari ke mana pun selama sepuluh menit kita salat. Fokuskan pandangan pada tempat sujud dan resapi setiap bacaan salat dengan saksama. Hal ini merupakan bentuk perlawanan terhadap arus ekonomi perhatian yang agresif.

Kesimpulan: Mengembalikan Hakikat Salat

Salat adalah media untuk melepaskan diri sejenak dari keterikatan duniawi. Jika kita membiarkan gangguan digital masuk, maka kita kehilangan esensi dari ibadah tersebut. Kita perlu memahami bahwa perhatian kita adalah milik kita sendiri, bukan milik algoritma.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Sebagai penutup, mari kita renungkan satu hal penting. Jika kita tidak mampu menguasai perhatian kita sendiri di hadapan Tuhan, lantas di mana lagi kita bisa menemukan kedamaian sejati? Ekonomi perhatian mungkin menguasai pasar dunia, namun jangan biarkan ia menguasai sajadah kita. Rebut kembali fokus Anda, dan temukan kekhusyukan yang selama ini hilang di balik layar ponsel.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.