Khazanah
Beranda » Berita » Riyadus Shalihin dan Etika Mengantre: Cermin Peradaban Bangsa yang Beradab

Riyadus Shalihin dan Etika Mengantre: Cermin Peradaban Bangsa yang Beradab

Budaya mengantre seringkali menjadi tolok ukur kemajuan sebuah bangsa. Masyarakat yang tertib mengantre menunjukkan tingkat kedisiplinan dan penghargaan terhadap hak orang lain yang tinggi. Etika Mengantre dalam Islam dan konteks keislaman, perilaku ini bukan sekadar urusan teknis menunggu giliran. Kitab legendaris Riyadus Shalihin karya Imam Nawawi memberikan landasan moral yang kuat mengenai pentingnya adab dan etika dalam kehidupan sosial, termasuk dalam urusan mengantre.

Menelusuri Nilai Adab dalam Riyadus Shalihin

Kitab Riyadus Shalihin merupakan kumpulan hadis yang membimbing umat Islam menuju kesalehan individu dan sosial. Imam Nawawi menyusun kitab ini untuk memperbaiki akhlak manusia agar selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW. Salah satu inti ajaran dalam kitab ini adalah menghormati hak sesama muslim dan menjaga ketertiban umum.

Mengantre pada hakikatnya adalah praktik nyata dari nilai keadilan. Saat seseorang mengantre, ia sedang mengakui hak orang lain yang datang lebih awal. Perilaku ini mencerminkan sikap rendah hati dan pengendalian diri. Islam sangat menekankan bahwa seorang mukmin yang baik adalah mereka yang tidak merugikan orang lain, baik melalui lisan maupun perbuatan.

Mengantre sebagai Bentuk Sabar dan Disiplin

Dalam Riyadus Shalihin, bab mengenai kesabaran menempati posisi yang sangat penting. Mengantre membutuhkan kesabaran yang luar biasa, terutama di tengah situasi yang mendesak. Seseorang yang menyerobot antrean menunjukkan ketidaksabaran dan egoisme yang besar. Mereka menganggap waktu mereka jauh lebih berharga daripada waktu orang lain.

Imam Nawawi mengutip banyak hadis yang menekankan pentingnya mendahulukan orang lain dan bersikap tenang. Rasulullah SAW bersuara tegas mengenai pentingnya ketertiban. Disiplin dalam barisan salat, misalnya, menjadi latihan dasar bagi umat Islam untuk disiplin dalam barisan duniawi, seperti mengantre. Jika dalam salat kita harus lurus dan rapat, maka dalam urusan sosial kita harus teratur dan mengikuti prosedur.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Cermin Peradaban Bangsa

Sebuah bangsa yang besar tidak hanya terlihat dari kemajuan teknologinya. Peradaban yang agung justru tampak dari perilaku sederhana masyarakatnya di ruang publik. Mengantre adalah tes kejujuran bagi setiap warga negara. Apakah kita tetap bertahan di barisan saat tidak ada petugas yang menjaga? Atau kita justru mencari celah untuk berbuat curang?

Kitab Riyadus Shalihin mengajarkan bahwa pengawasan terbaik datang dari dalam diri sendiri (muraqabah). Kesadaran bahwa Allah SWT melihat setiap tindakan kita akan mendorong kita untuk selalu berlaku adil. Ketika nilai-nilai ini tertanam kuat, budaya mengantre akan tumbuh secara organik tanpa perlu paksaan. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang setiap individunya merasa malu jika mengambil hak orang lain, sekecil apa pun itu.

Kutipan Penting dalam Konteks Adab

Kita perlu merenungkan kembali prinsip-prinsip yang tertuang dalam kitab ini. Kutipan hadis di bawah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga hak sesama:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kutipan tersebut menegaskan bahwa menyerobot antrean adalah bentuk kezaliman kecil yang merusak persaudaraan. Selain itu, terdapat kutipan lain yang menekankan pentingnya akhlak:

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).

Implementasi Etika Mengantre di Era Modern

Pada era digital ini, tantangan menjaga etika tetap ada. Mengantre tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga secara virtual. Mematuhi sistem antrean digital merupakan bentuk ketaatan terhadap aturan yang telah disepakati bersama. Masyarakat yang terbiasa hidup dengan panduan Riyadus Shalihin pasti akan lebih mudah beradaptasi dengan keteraturan ini.

Pendidikan karakter sejak dini menjadi kunci utama. Orang tua dan guru harus mengajarkan bahwa mengantre adalah soal harga diri. Dengan mengantre, kita menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang terdidik dan menghormati hukum. Kita tidak sedang merendahkan diri saat menunggu, melainkan sedang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan kita.

Kesimpulan

Etika mengantre adalah refleksi dari kualitas batin seseorang. Melalui lensa Riyadus Shalihin, kita memahami bahwa keteraturan sosial berakar dari kesalehan akhlak. Mari kita jadikan budaya mengantre sebagai identitas bangsa Indonesia yang religius dan beradab. Dengan menghargai antrean, kita sedang membangun fondasi peradaban yang kuat, adil, dan bermartabat di mata dunia. Ketaatan pada aturan kecil adalah langkah awal menuju kejayaan besar sebuah bangsa.

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.