Opinion
Beranda » Berita » Batas Candaan (Prank): Kapan Humor Berubah Menjadi Teror?

Batas Candaan (Prank): Kapan Humor Berubah Menjadi Teror?

Dunia digital saat ini penuh dengan konten kreatif yang menghibur. Salah satu format paling populer adalah video prank atau lelucon praktis. Kita sering melihat video tersebut di platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Namun, belakangan ini batas antara humor dan tindakan kriminal semakin kabur. Banyak kreator konten yang mengabaikan empati demi mengejar jumlah penayangan (views).

Mengapa Prank Begitu Digemari?

Prank menawarkan unsur kejutan yang memicu tawa penonton. Secara psikologis, manusia memang menyukai kejutan yang berakhir dengan kegembiraan. Penonton merasa terhibur saat melihat reaksi spontan orang lain dalam situasi aneh. Namun, tren ini mulai bergeser ke arah yang mengkhawatirkan. Kreator kini sering menciptakan situasi yang menakutkan atau mempermalukan orang asing secara berlebihan.

Garis Tipis Antara Lucu dan Kejam

Kapan sebuah candaan berubah menjadi teror? Jawabannya terletak pada perasaan korban. Jika subjek merasa terancam, terhina, atau trauma, maka itu bukan lagi candaan. Humor seharusnya bersifat inklusif, bukan menyerang martabat seseorang. Banyak konten kreator yang melakukan tindakan ekstrem, seperti berpura-pura menjadi perampok atau menyebarkan berita bohong.

Seorang pakar komunikasi pernah menyatakan, “Humor sejati tidak pernah bertujuan untuk menghancurkan mental orang lain secara sengaja.” Kutipan ini mengingatkan kita bahwa niat baik tidak menjamin hasil yang baik. Jika aksi tersebut menimbulkan ketakutan massal, maka ia telah berubah menjadi teror mental.

Dampak Psikologis yang Terabaikan

Korban prank yang ekstrem sering kali mengalami dampak psikologis jangka panjang. Rasa malu yang tersiar secara global melalui internet bisa memicu depresi. Selain itu, korban mungkin akan kehilangan rasa percaya terhadap orang asing di tempat umum.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Ketakutan yang muncul secara tiba-tiba juga berbahaya bagi fisik. Serangan jantung atau cedera saat melarikan diri menjadi risiko nyata. Sayangnya, banyak kreator menganggap remeh risiko-risiko kesehatan ini demi konten viral. Mereka melupakan bahwa kesehatan mental dan fisik orang lain jauh lebih berharga daripada algoritma media sosial.

Tinjauan dari Sisi Hukum

Indonesia memiliki aturan tegas mengenai tindakan yang merugikan orang lain di dunia maya. UU ITE dan KUHP dapat menjerat kreator yang melampaui batas. Tindakan yang menyebabkan kegaduhan atau penghinaan dapat berujung pada hukuman penjara.

Pihak kepolisian sering kali memberikan peringatan keras. “Jangan mencampuradukkan kreativitas dengan pelanggaran hukum yang merugikan kepentingan umum,” tegas salah satu pejabat hukum dalam sebuah sosialisasi. Penegakan hukum ini bertujuan untuk memberikan efek jera kepada mereka yang hobi membuat konten meresahkan.

Etika dalam Membuat Konten

Sebagai masyarakat digital, kita harus lebih kritis menilai konten. Kita jangan memberikan panggung bagi kreator yang melakukan tindakan tidak terpuji. Kreator konten yang bijak selalu memikirkan konsekuensi sebelum menekan tombol rekam. Mereka akan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat merasa nyaman.

Berikut adalah beberapa prinsip utama dalam melakukan candaan:

SPBU, Energi Rakyat, dan Krisis Amanah Publik

  1. Dapatkan persetujuan (consent) sebelum mengunggah video.

  2. Hindari tema yang menyentuh trauma atau phobia seseorang.

  3. Jangan menggunakan atribut yang memicu kepanikan publik (seperti bom palsu atau senjata).

  4. Pastikan tidak ada pihak yang merasa terhina secara fisik maupun verbal.

Menuju Ekosistem Konten yang Sehat

Kita semua berperan dalam membentuk ekosistem media sosial yang sehat. Penonton memiliki kekuatan besar melalui tombol like dan report. Jika kita berhenti menonton konten yang ofensif, kreator akan berpikir dua kali untuk membuatnya.

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Batas candaan prank sebenarnya sangat sederhana, yaitu rasa kemanusiaan. Jika Anda harus membuat orang lain menangis ketakutan demi sebuah tawa, berarti humor Anda telah gagal. Mari kita kembali pada esensi humor yang menyatukan, bukan humor yang meneror dan memecah belah.

Jadilah pengguna internet yang cerdas dan penuh empati. Ingatlah bahwa di balik layar monitor, ada manusia lain yang memiliki perasaan. Hargailah ruang publik dan privasi orang lain agar media sosial tetap menjadi tempat yang menyenangkan. Jangan sampai lelucon Anda hari ini menjadi penyesalan di meja hijau esok hari.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.