Khazanah
Beranda » Berita » Memberi Kebaikan dan Kesadaran Diawasi Allah

Memberi Kebaikan dan Kesadaran Diawasi Allah

Memberi Kebaikan dan Kesadaran Diawasi Allah
Memberi Kebaikan dan Kesadaran Diawasi Allah

 

SURAU.CO – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, keras, dan penuh tuntutan, kebaikan sering kali kehilangan tempat. Ia dipersempit menjadi sesuatu yang besar, mahal, dan jarang.

Padahal, dalam pandangan Islam, kebaikan justru berakar dari kesadaran paling mendasar dalam diri manusia: merasakan pengawasan Allah dalam setiap lintasan hati dan gerak tubuh. Kesadaran inilah yang oleh para ulama disebut sebagai muraqabah.

Sebuah ungkapan hikmah menyatakan: “Siapa yang merasa diawasi Allah dalam bisikan dan lintasan hatinya, niscaya Allah akan menjaganya dalam gerak-gerik anggota tubuhnya.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi ringkasan dari bangunan akidah dan akhlak Islam. Ia menegaskan bahwa sumber kebaikan bukanlah tekanan sosial atau sorotan publik, melainkan kesadaran batin akan kehadiran Allah.

Al-Qur’an menanamkan kesadaran tersebut secara mendalam. Allah berfirman:

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)

Menurut tafsir Ibn Katsir, ayat ini menegaskan kesempurnaan ilmu Allah yang meliputi apa yang tampak dan tersembunyi, bahkan lintasan hati yang belum terucap.¹ Kesadaran ini seharusnya melahirkan rasa malu (haya’) dan kehati-hatian, bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan kewaspadaan yang menuntun pada kebaikan.

Buah dari Hati yang Terjaga

Dalam Islam, kebaikan tidak lahir secara kebetulan. Ia merupakan buah dari hati yang terjaga. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dasar penting dalam pendidikan akhlak: perbaikan amal tidak akan kokoh tanpa perbaikan hati.² Dari sinilah kebaikan memperoleh fondasinya. Hati yang merasa diawasi Allah akan mengarahkan lisan, tangan, dan langkah pada perkara yang diridhai-Nya.

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Praktik sosial sering memahami kebaikan secara sempit dan seremonial. Masyarakat menunggu kebaikan dalam momen besar, acara resmi, atau sorotan kamera. Padahal Rasulullah ﷺ justru memperluas makna kebaikan hingga mencakup hal-hal paling sederhana. Beliau bersabda:

“Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Hadis ini, menurut para ulama, menunjukkan bahwa Islam tidak membatasi kebaikan pada materi atau tindakan heroik. Senyum, tutur kata yang lembut, menahan amarah, memaafkan kesalahan, bahkan niat baik yang belum terwujud karena keterbatasan, semuanya bernilai di sisi Allah.³

Keikhlasan dan Ketepatan Niat

Di sinilah relevansi muraqabah menjadi nyata. Orang yang merasa diawasi Allah langsung berbuat baik, tak peduli kecil atau tak terlihat. Ia sadar bahwa Allah tidak menilai besarnya amal, tetapi keikhlasan dan ketepatan niat. Allah berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan keadilan Allah yang sempurna: tidak ada kebaikan sekecil apa pun yang luput dari perhitungan-Nya.⁴ Optimisme spiritual bangkit: berbuat baik tak pernah sia-sia.

Lebih jauh, memberi kebaikan juga merupakan bentuk penjagaan diri. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Dalam syarah hadis ini, Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kebaikan bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga berfungsi sebagai penebus dan penetralisir keburukan.⁵ Artinya, memberi kebaikan adalah kebutuhan spiritual, bukan sekadar pilihan etis.

Memancar dalam Relasi Sosial

Ujaran kasar, prasangka, dan polarisasi memenuhi ruang publik, membuat memberi kebaikan jadi sikap yang semakin relevan. Ia adalah perlawanan sunyi terhadap budaya saling melukai. Ia menegaskan bahwa iman tidak berhenti di ruang privat, tetapi memancar dalam relasi sosial.

Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi manusia yang keras dan reaktif. Sebaliknya, Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mampu mengendalikan diri dan berbuat baik bahkan saat disakiti:

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain; Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Puncak kebaikan bukan hanya memberi saat lapang, tapi menjaga akhlak saat diuji. Inilah buah dari hati yang hidup dalam pengawasan Allah.

Kebaikan yang Sunyi namun Kokoh

Akhirnya, memberi kebaikan bukanlah proyek sesaat, melainkan jalan hidup. Hati yang jujur menumbuhkannya, muraqabah memeliharanya, dan amal-amal sederhana yang konsisten mewujudkannya. Ketika seseorang menjaga lintasan hatinya, Allah akan menjaga langkahnya. Ketika batin lurus, lahir pun akan terarah.

Di tengah dunia yang bising oleh pencitraan, Islam menawarkan kebaikan yang sunyi namun kokoh. Allah mengawasi kebaikan yang tak butuh pengakuan. Karena ia yakin, Allah Maha Melihat, dan itu sudah lebih dari cukup.

Catatan Kaki

  1. Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Qaf: 16.
  2. An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Kitab al-Birr.

  3. Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab az-Zakat.

  4. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Az-Zalzalah: 7.

  5. Ibn Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, syarah hadis ke-18. (Penulis: Tengku Iskandar, Afiliasi: Penyuluh Agama Islam, Lokasi: Padang, Sumatera Barat)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.