Ibadah
Beranda » Berita » Sudah Sholat seperti Tidak Sholat, Tidak Sholat seperti Sudah Sholat

Sudah Sholat seperti Tidak Sholat, Tidak Sholat seperti Sudah Sholat

Sudah Sholat seperti Tidak Sholat, Tidak Sholat seperti Sudah Sholat
Sudah Sholat seperti Tidak Sholat, Tidak Sholat seperti Sudah Sholat

 

SURAU.CO – Tidak semua orang diberi anugerah untuk mampu merenung. Karena renungan bukan sekadar berpikir, melainkan kesadaran batin yang lahir dari kejernihan hati.

Ada orang sudah sholat, namun sholatnya belum sampai pada sholat. Gerakannya lengkap, waktunya tepat, bacaannya fasih, tetapi hatinya masih berkelana sibuk menilai orang lain, sibuk menghitung dunia, sibuk membela ego.

Sholatnya belum mencegah dari keji dan mungkar, belum melembutkan lisan, belum menenangkan amarah.

Maka ia sudah sholat, tetapi seperti tidak sholat. Di sisi lain, ada orang belum mampu sholat secara lahir, namun hatinya penuh rasa takut kepada Alloh, lisannya terjaga, tangannya enggan menyakiti, dan hidupnya dipenuhi rasa malu untuk berbuat zalim.

Bunga Pukul Empat, kembang Indah yang Kaya Manfaat

Ia tunduk ketika disebut nama Tuhan,
ia menangis dalam sunyi karena merasa kecil di hadapanNya. Maka ia tidak sholat, tetapi seperti sudah sholat.

Renungan ini bukan untuk membenarkan meninggalkan sholat, dan bukan pula untuk meremehkan syariat.

Sholat tetap wajib, tiang agama, jalan utama mendekat kepada Alloh. Namun renungan ini mengingatkan kita: bahwa sholat sejati bukan hanya pada tubuh, tetapi pada jiwa.

Sholat yang hidup adalah sholat Membuat kita semakin rendah hati

Membuat kita semakin jujur
Membuat kita semakin lembut

Membuat kita semakin takut menyakiti sesama
Jika sholat belum mengubah perilaku,
barangkali yang perlu diperbaiki bukan waktunya,
melainkan kehadiran hati di dalamnya.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Karena Alloh tidak membutuhkan gerakan kita, tetapi menginginkan ketundukan dan kejujuran hati.

Maka sebelum menilai sholat orang lain,
lebih baik kita bertanya pada diri sendiri:

“Apakah sholatku sudah menghidupkan nurani, atau baru sekadar menggugurkan kewajiban?” Semoga kita termasuk orang yang sholatnya menegakkan jiwa, bukan sekadar menegakkan raga.

 

 

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat


Pemahaman Diri: Salaf – Salafi – Salafiyah

  1. Salaf: Akar Keteladanan

Salaf secara bahasa berarti orang-orang terdahulu. Dalam paparan Islam, istilah ini merujuk pada tiga generasi terbaik umat Islam:

Sahabat Nabi Muhammad SAW
Tabi’in (murid para sahabat)
Tabi’ut Tabi’in (murid tabi’in)
Mereka disebut salafus shalih karena kedekatan mereka dengan sumber ajaran Islam: Al-Qur’an dan Sunnah, baik secara waktu, pemahaman, maupun pengamalan.

Salaf bukan organisasi, bukan mazhab baru, dan bukan identitas eksklusif, melainkan rujukan keteladanan.

  1. Salafi: Sikap Metodologis

Salafi adalah orang yang berusaha mengikuti manhaj (metode beragama) salafus shalih dalam:

Akidah
Ibadah
Akhlak
Cara memahami dalil
Seorang salafi idealnya:
Mendahulukan dalil sahih
Memahami dalil sesuai pemahaman generasi awal
Menjaga diri dari bid’ah yang mengubah substansi ibadah
Tetap berakhlak lembut, adil, dan berilmu

Salafi bukan gelar kesucian, melainkan komitmen proses untuk terus meluruskan niat dan pemahaman.

Perbedaan Pendekatan, Gaya Dakwah, dan Respons Terhadap Realitas Sosial

  1. Salafiyah: Istilah Gerakan dan Wacana

Salafiyah sering dipakai untuk menyebut:
Pendekatan dakwah
Arah pemikiran keislaman
Atau dalam paparan modern, gerakan sosial keagamaan

Namun perlu disadari:
Salafiyah bukan satu warna tunggal
Di dalamnya ada perbedaan pendekatan, gaya dakwah, dan respons terhadap realitas sosial

Risiko muncul ketika istilah ini berubah dari manhaj menjadi identitas kelompok yang kaku

Ketika “salafiyah” lebih sibuk menghakimi daripada membina, maka ruh salaf justru mulai ditinggalkan.

  1. Pemahaman Diri: Inti yang Perlu Dijaga

Dalam refleksi diri, memahami salaf salafi salafiyah bukan soal label, tetapi soal kedalaman kesadaran:
Apakah pemahaman kita mendekatkan diri kepada Allah? Apakah ilmu kita menumbuhkan kerendahan hati, bukan kesombongan? Dan Apakah dakwah kita menyejukkan, bukan memecah? Apakah kita lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari kesalahan orang lain?
Salafus shalih dikenal bukan karena kerasnya ucapan, tetapi karena:
Kejujuran iman
Ketekunan ibadah
Ketinggian akhlak
Keluasan kasih sayang

  1. Penutup

Menjadi salafi sejati bukan berarti hidup di masa lalu, tetapi menghidupkan nilai luhur masa lalu untuk masa kini.

Meneladani salaf bukan meniru bentuk lahiriah semata, tetapi menyerap hikmah, adab, dan ketulusan mereka.
Ilmu tanpa adab melahirkan kekeringan,
adab tanpa ilmu melahirkan kesesatan,
salaf mengajarkan keseimbangan keduanya. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.