SURAU.CO – KH. Ali Yafie lahir pada 1 September 1926 di Wani, Sulawesi Tengah, sebuah kawasan yang sejak lama menjadi jalur perdagangan dan penyebaran Islam di Sulawesi. Nama lengkapnya adalah Muhammad Ali Yafie, dan ia dikenal dengan sapaan “Puang Ali” di kalangan masyarakat Bugis, sebuah panggilan kehormatan bagi tokoh yang dituakan dan dihormati.
Ayahnya, KH. Muhammad Yafie, adalah seorang ulama dan pendidik yang memiliki pengaruh besar di Parepare dan sekitarnya. Ia mendirikan sebuah madrasah sederhana di rumahnya, tempat anak-anak setempat belajar mengaji, membaca kitab dasar, dan memahami ajaran tauhid. Di madrasah rumahan inilah Ali kecil menimba ilmu pertamanya.
Ibunya dikenal sebagai sosok perempuan salehah yang lembut dan tekun dalam ibadah. Dari ibunyalah, Ali kecil mewarisi keteduhan hati dan keikhlasan yang kelak menjadi ciri khas kepribadiannya.
Menjaga Waktu dan Kebersihan Hati
Garis keturunan Ali Yafie memiliki akar mendalam dalam tradisi keilmuan Islam. Kakeknya, Syekh Abdul Hafidz al-Bugisi, adalah seorang ulama besar Bugis yang pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram.
Keluarga KH. Ali Yafie memiliki latar belakang keilmuan yang kuat. Kakeknya, Syekh Abdul Hafidz al-Bugisi, adalah seorang ulama besar Bugis yang pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram, Makkah. Ia hidup sezaman dengan Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Di rumah, kitab-kitab peninggalan kakeknya tersimpan rapi, seperti Tafsir Jalalain, Fath al-Qarib, Uqud al-Lujjain, dan Ihya’ Ulumuddin. Ali kecil sudah akrab dengan lembaran kitab beraksara Arab-Pegon dan membaca dengan suara lirih, sementara sang ayah mendengarkan dari kejauhan.
Ayahnya, KH. Muhammad Yafie, mengajarkan bahwa seorang penuntut ilmu tidak boleh hidup sembarangan. Ia harus menjaga waktu dan kebersihan hati. “Ilmu itu cahaya,” kata sang ayah, “dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang kotor.” Pesan ini membekas dalam diri Ali kecil dan menjadi prinsip hidup yang ia pegang hingga akhir hayat.
Masa kecil Ali Yafie berlangsung di tengah masyarakat sederhana namun religius di Wani, Sulawesi Tengah. Kecintaannya terhadap ilmu tumbuh sejak usia dini, dan ia sudah mampu membaca kitab-kitab dasar fikih dan tauhid sebelum berusia sepuluh tahun. Dengan demikian, KH. Ali Yafie dikenal sebagai ulama kitab yang berangkat dari nalar teks dan menafsirkan maknanya dengan jiwa zamannya.
Belajar untuk Mengabdi
KH. Ali Yafie menjalani masa kecilnya di lingkungan masyarakat sederhana namun religius di Wani, Sulawesi Tengah, tempat nelayan dan pedagang kecil menjunjung tinggi kejujuran dan gotong royong. Dalam suasana itu, Ali kecil menjadi anak yang tekun, tenang, dan tidak banyak bicara, sering terlihat duduk bersila di beranda rumah, membaca kitab atau menulis catatan di kertas lusuh.
Bagi KH. Ali Yafie, mencari ilmu adalah perjalanan panjang yang penuh kesabaran dan pengabdian, bukan sekadar belajar untuk tahu, tapi belajar untuk mengabdi. Prinsip ini diwarisi dari ayahnya, KH. Muhammad Yafie, yang menanamkan keyakinan bahwa ilmu adalah jalan untuk mendekat kepada Allah dan melayani sesama manusia.
Ali kecil menempuh pendidikan dasar di Volkschool, tapi pendidikan sejatinya dia dapatkan di rumah dan surau, tempat ayahnya mengajarkan Al-Qur’an, ilmu tajwid, dan kitab-kitab klasik. Jadi, pendidikan formal cuma pelengkap, yang utama adalah belajar langsung dari ayahnya. Sejak usia lima tahun, ia belajar iqra’ dan menghafal Juz ‘Amma dengan bimbingan ayahnya.
Dia menghabiskan masa remajanya di lingkungan pesantren lokal yang sederhana namun bersemangat tinggi dalam tradisi ilmu. Ali Yafie belajar kepada beberapa ulama besar di Sulawesi Selatan, termasuk Syekh Ali Mathar, Syekh Ibrahim, dan Syekh Mahmud Abdul Jawad. Guru yang paling berpengaruh adalah Syekh Muhammad Firdaus, ulama besar asal Makkah yang mendirikan lembaga pendidikan Islam yang menjadi cikal bakal Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI), tempat Ali Yafie belajar selama lebih dari lima belas tahun, menekuni kitab-kitab fikih, tafsir, dan hadis. (Dr. H. Basnang Said), (CM)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
