SURAU.CO – Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat justru kian haus bimbingan. Agama dibicarakan di mana-mana, tetapi pemahaman sering tercecer. Di ruang inilah penyuluh agama bekerja tenang, konsisten, dan jarang disorot. Penyuluh Award hadir sebagai penanda bahwa ikhtiar sunyi itu tidak luput dari perhatian negara dan umat.
Penyuluh agama bukan sekadar pelengkap struktur birokrasi keagamaan. Mereka adalah simpul peradaban yang menghubungkan nilai-nilai langit dengan realitas bumi. Di masjid kecil, ruang kelas sederhana, balai warga, lapas, bahkan di sudut-sudut kampung yang jauh dari pusat kota, penyuluh menyemai ketenangan, meluruskan pemahaman, dan merawat harapan. Penyuluh Award, karenanya, bukan hanya seremoni tahunan, tetapi pengakuan atas peran strategis tersebut.
Peran Sunyi yang Menentukan
Dalam lanskap sosial hari ini, tantangan keagamaan semakin kompleks. Hoaks bernuansa agama mudah viral. Tafsir keagamaan dipotong, disederhanakan, bahkan dipelintir untuk kepentingan sesaat. Polarisasi sosial kerap dibungkus dalil. Di tengah situasi itu, penyuluh hadir sebagai penjaga keseimbangan, mengajarkan agama secara sejuk, rasional, dan berakar pada tradisi keilmuan yang lurus.
Penyuluh tidak hanya menyampaikan ceramah. Mereka mendengar keluh kesah keluarga yang retak, mendampingi warga yang terdampak bencana, menenangkan narapidana yang kehilangan arah, serta membimbing generasi muda agar tidak terjerumus pada paham keagamaan yang kering dari hikmah. Banyak konflik sosial berhasil diredam bukan oleh aparat, melainkan oleh nasihat yang tepat pada waktunya.
Namun, kerja seperti ini sering kali tak tercatat dalam statistik. Ia tidak selalu viral. Ia tidak selalu menghasilkan tepuk tangan. Justru di situlah kemuliaannya.
Apresiasi sebagai Etika Publik
Penyuluh Award menegaskan satu prinsip penting dalam kehidupan berbangsa: pengabdian layak dihargai. Apresiasi bukan bertentangan dengan keikhlasan. Dalam Islam, pengakuan atas kebaikan adalah bagian dari syukur. Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Penghargaan memberi pesan bahwa kerja-kerja substansial memiliki tempat terhormat. Ia memantik semangat untuk terus meningkatkan kualitas, memperluas dampak, dan menjaga integritas. Dalam konteks kelembagaan, Penyuluh Award juga menjadi instrumen evaluasi: apa yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki, dan inovasi apa yang layak ditularkan.
Lebih dari itu, penghargaan ini mendidik publik agar tidak hanya mengagungkan figur yang tampil di layar, tetapi juga menghormati mereka yang bekerja di balik layar.
Menjawab Tantangan Zaman Digital
Zaman berubah cepat. Dakwah tidak lagi hanya mimbar dan majelis taklim. Media sosial, podcast, video pendek, dan ruang digital lainnya menjadi arena baru pertarungan gagasan. Penyuluh dituntut adaptif tanpa kehilangan pijakan. Di sinilah Penyuluh Award memiliki fungsi strategis: mendorong lahirnya penyuluh yang kreatif, literat digital, tetapi tetap berakar pada akidah dan akhlak.
Banyak penyuluh kini mengembangkan konten edukatif yang menyejukkan, membangun dialog lintas kelompok, dan menghadirkan agama sebagai solusi, bukan sumber masalah.
Praktik-praktik baik ini perlu diangkat, diapresiasi, dan direplikasi. Penyuluh Award dapat menjadi etalase inspirasi nasional tentang bagaimana agama hadir secara relevan dan berkeadaban.
Menjaga Moderasi dan Persatuan
Indonesia adalah rumah besar yang majemuk. Kerukunan tidak hadir dengan sendirinya; ia dirawat setiap hari.
Penyuluh agama berperan penting dalam menanamkan nilai moderasi bersikap tegas pada prinsip, tetapi lapang dalam perbedaan. Mereka mengajarkan bahwa keberagamaan yang sehat adalah yang menumbuhkan kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Dalam banyak kasus, penyuluh menjadi jembatan antara negara dan masyarakat. Bahasa kebijakan diterjemahkan menjadi bahasa nurani. Aspirasi umat disampaikan dengan cara yang santun dan konstruktif. Di titik ini, penyuluh bukan hanya agen dakwah, tetapi juga penjaga persatuan.
Ruh Keikhlasan yang Harus Dijaga
Meski penting, penghargaan tidak boleh menggeser niat. Penyuluh Award harus diposisikan sebagai penguat etos, bukan tujuan akhir. Ruh pengabdian tetap harus dijaga: bekerja karena Allah, melayani dengan amanah, dan terus belajar.
Penghargaan idealnya melahirkan tanggung jawab moral yang lebih besar bahwa teladan harus dijaga, kualitas harus ditingkatkan.
Dalam tradisi ulama, kemuliaan bukan diukur dari seberapa sering disebut, tetapi seberapa besar manfaat yang ditinggalkan. Penyuluh Award seharusnya memperkuat kesadaran ini, bukan memudarkannya.
Menjadikan Apresiasi sebagai Gerakan
Akan lebih bermakna jika Penyuluh Award tidak berhenti pada malam penganugerahan. Ia perlu ditindaklanjuti dengan penguatan kapasitas, jejaring kolaborasi, dan dukungan kebijakan.
Penyuluh yang berprestasi perlu diberi ruang berbagi praktik baik, menjadi mentor, dan ikut merumuskan arah penyuluhan ke depan.
Dengan demikian, Penyuluh Award bukan hanya peristiwa, melainkan gerakan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama di Indonesia.
Penutup
Di tengah dunia yang bising, penyuluh agama memilih bekerja dalam ketenangan. Kemudian, mereka menanam, menyiram, dan menunggu dengan sabar. Penyuluh Award hadir untuk mengatakan satu hal sederhana namun mendalam: kerja seperti itu tidak sia-sia.
Bangsa ini berdiri bukan hanya oleh mereka yang bersuara lantang, tetapi juga oleh mereka yang setia menjaga nurani.
Dan di antara penjaga nurani itu, penyuluh agama menempati tempat yang terhormat, meski sering tak terlihat, namun sangat menentukan. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
