SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosok
Beranda » Berita » Kiai Sahal Memilih Terus Mengabdikan Diri kepada Masyarakat dan Santri

Kiai Sahal Memilih Terus Mengabdikan Diri kepada Masyarakat dan Santri

Kiai Sahal bersama dengan KH. Maimun Zubair, putra gurunya, Kiai Zubair
Kiai Sahal bersama dengan KH. Maimun Zubair, putra gurunya, Kiai Zubair

 

SURAU.CO – Di Pesantren Sarang, Kiai Sahal menimba ilmu dari Mbah Ahmad, Mbah Imam, dan Mbah Zubair, ayahanda KH. Maemun Zubair. Atas perintah KH. Abdullah Salam, Kiai Sahal ditargetkan menguasai ilmu ushul fiqih selama kurang lebih 3,5 tahun (1957-1960).

Mbah Zubair bahkan menyediakan waktu khusus empat hari seminggu untuk mengaji sorogan dengan Kiai Sahal, tanpa jadwal tetap. Kiai Sahal harus siap 24 jam jika dipanggil gurunya. Kedekatan Kiai Sahal dengan Mbah Zubair sangat erat, bahkan disebut sebagai santri kesayangan.

Kiai Sahal memiliki hubungan sangat dekat dengan Mbah Zubair, yang membuat beberapa santri lain merasa cemburu. Salah satu santri itu bahkan meminta izin untuk ikut mengaji sorogan bersama Kiai Sahal di rumah Mbah Zubair. Namun, karena Mbah Zubair dan Kiai Sahal menggunakan bahasa Arab selama proses belajar, santri tersebut merasa tidak nyaman dan akhirnya tidak pernah datang lagi.

Mengajar Beberapa Santri

Di Pesantren Sarang, Kiai Sahal memperdalam ilmu ushul fiqih, qawa’id fiqih, dan balaghah kepada Mbah Zubair, serta ilmu tasawuf kepada Kiai Ahmad. Kitab-kitab yang dipelajari antara lain Jam’ul Jawami’, Uqudul Juman, Tafsir Baidlowi, dan Lubbabun Nuqul. Pesantren Sarang menjadi tempat penting bagi Kiai Sahal untuk mengembangkan intelektualitasnya, bahkan ia mulai mengajar beberapa santri setelah mendapat izin dari Mbah Zubair dan Mbah Abdullah Salam.

Kesimpulan Final Isu Tarawih (11 Vs 20 Rakaat)

Kiai Sahal juga berkorespondensi dengan Syekh Yasin al-Fadani, ulama asal Padang yang menjadi Imam di Masjidil Haram, dengan mengirimkan kritik dan argumentasi tentang pendapat Syekh Yasin. Mereka saling bertukar surat, dan Kiai Sahal mengaku menulis dan menerima beberapa surat balasan dari Syekh Yasin.

Hubungan Kiai Sahal dengan Syekh Yasin al-Fadani semakin erat melalui korespondensi surat yang intensif, hampir setiap bulan. Ketika Kiai Sahal pergi haji ke Mekkah, Syekh Yasin menyambutnya di pelabuhan Jeddah dan mengajak makan bersama. Syekh Yasin bahkan menyediakan kamar di bawah rumahnya untuk Kiai Sahal tinggal. Selama di Mekkah, Kiai Sahal tidak hanya menunaikan ibadah haji, tapi juga belajar langsung dari Syekh Yasin.

Kiprah Kiai Sahal dimulai pada tahun 1963, ketika ia memimpin Pondok Pesantren Maslakul Huda di Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang merupakan peninggalan ayahnya. Ia juga menjadi Direktur Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen. Kiai Sahal aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sejak level terbawah, menjabat sebagai Katib Syuriah NU Pati (1967-1975), Ketua Rabithah Ma’ahid Jawa Tengah, dan Ketua MUI Jawa Tengah. Ia kemudian dipercaya sebagai Wakil Rais ‘Am dan Rais ‘Am NU selama tiga periode berturut-turut (1999-2010).

Mendukung Lembaga Ekonomi Secara Kultural dan Konsultatif

Kiai Sahal Mahfudz juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan masih dalam masa baktinya di kedua lembaga tersebut saat wafat. Selain aktif di tingkat nasional, Kiai Sahal juga melakukan gerakan nyata di level lokal dengan menginisiasi berbagai lembaga pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Meski demikian, ia tidak duduk dalam struktur semua lembaga yang diinisiasinya.

Sebagai contoh, Kiai Sahal tidak aktif dalam struktur kepengurusan BPR Artha Huda Abadi dan BPRS Artha Mas Abadi, bahkan tidak memiliki saham di dalamnya, namun ia secara aktif mendukung lembaga ekonomi tersebut secara kultural dan konsultatif. Kiai Sahal juga tercatat sebagai Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Anggota Dewan Penyantun Universitas.

Kiai Sahal Mahfudz memiliki berbagai jabatan penting, antara lain Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN), Anggota Dewan Penyantun Universitas Diponegoro Semarang. Dewan Pembina Yayasan Kesejahteraan Fatayat, Dewan Pembina Yayasan Nurussalam, dan Rektor INISNU (kini UNISNU). Meski memiliki banyak jabatan, Kiai Sahal memilih tetap tinggal di Kajen, Pati, untuk terus mengabdikan diri kepada masyarakat dan santri.

Kiai Sahal memiliki prinsip untuk memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menempuh pendidikan dan mengoptimalkan potensi mereka. Ia percaya bahwa kesetaraan gender sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Dan laki-laki serta perempuan memiliki kedudukan yang setara sebagai khalifah di muka bumi. Kiai Sahal mendukung istrinya, Nyai Nafisah, dalam berorganisasi dan menjadi contoh bagi perempuan lainnya. (Dr. H. Basnang Said), (CM)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.