SURAU.CO – Toleransi bukan mencairkan iman. Ia adalah kemampuan hidup berdampingan tanpa saling mencampuradukkan akidah. Di situlah Islam berdiri: tegas dalam keyakinan, adil dalam pergaulan.
Di ruang publik hari ini, toleransi sering direduksi menjadi sekadar kesediaan melebur. Ukurannya bukan lagi saling menghormati, tetapi sejauh mana seseorang mau mengalahkan prinsip keyakinannya. Islam tidak berjalan di jalur itu. Sejak awal, Al-Qur’an telah meletakkan rumusan toleransi yang jernih dan beradab: “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. al-Kafirun: 6).
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas tawaran kompromi ibadah, bergantian menyembah Tuhan masing-masing.¹ Islam menolak tanpa amarah, menutup pintu sinkretisme tanpa membuka pintu permusuhan. Inilah toleransi berbasis prinsip, bukan relativisme akidah.
Kejelasan Identitas yang Saling Menghormati
Ulama kontemporer menegaskan hal yang sama. Syaikh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa toleransi dalam Islam (tasamuh) berarti mengakui keberadaan orang lain dan hak-haknya, bukan mengakui kebenaran teologi agama lain. Menurutnya, mencampuradukkan ritual dan simbol keagamaan atas nama toleransi justru merusak makna toleransi itu sendiri, karena menafikan kejujuran iman.²
Senada dengan itu, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menekankan bahwa QS. al-Kafirun adalah fondasi hubungan antaragama: hidup berdampingan tanpa paksaan, tanpa gangguan, dan tanpa kompromi akidah.³ Toleransi, menurutnya, berada pada ranah sosial dan kemanusiaan, bukan pada wilayah ibadah dan keyakinan.
Teladan Nabi ﷺ dan para sahabat menegaskan batas ini. Rasulullah ﷺ bermuamalah dengan non-Muslim, menjamin keamanan mereka, bahkan menerima tamu Nasrani di masjid. Namun ketika menyentuh urusan ibadah, beliau tetap berada pada garis tauhid. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun menolak shalat di gereja Yerusalem, not because of intolerance, but because of kehati-hatian akidah agar tidak membuka pintu pengaburan batas di masa depan.
Syaikh Abdullah bin Bayyah, ulama kontemporer, bilang masyarakat damai muncul dari kejelasan identitas yang saling menghormati, bukan penghapusan identitas. Menurutnya, konflik sering muncul bukan karena perbedaan, melainkan karena batas yang kabur.⁴
Pemisahan Keyakinan Secara Tegas
Toleransi jadi asimilasi iman ketika umat Islam dipaksa ikut ritual, simbol, atau ucapan keagamaan yang bertentangan dengan tauhid. Padahal Al-Qur’an telah menegaskan: la ikraha fid-din, tidak ada paksaan dalam agama, bersanding dengan lakum dinukum wa liya din, pemisahan keyakinan secara tegas.
Ibn Katsir menyebut ayat ini sebagai bentuk bara’ah pelepasan diri dari keyakinan selain Islam tanpa kezaliman dan tanpa kebencian.⁵ Ulama kontemporer menjelaskan: toleransi berarti memperlakukan semua pemeluk agama dengan adil, bukan menganggap semua agama sama.
Dalam konteks kebangsaan, prinsip ini justru memperkokoh harmoni. Masyarakat majemuk tidak membutuhkan pencampuran iman, tetapi kedewasaan beragama. Ketika setiap pihak jujur pada keyakinannya dan menghormati batas pihak lain, ruang damai justru terbuka lebar.
Karena itu, mengatakan “ini batas toleransiku” bukan tanda sempitnya iman. Ia adalah ekspresi iman yang matang, yang tahu kapan harus bersikap lembut, dan kapan harus berdiri tegak. Toleransi sejati bukan soal seberapa jauh kita mengalah, tetapi seberapa adil kita bersikap tanpa kehilangan arah.
Catatan Tafsir & Pendapat Ulama
-
Al-Qurthubi, al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Kafirun: sebab penolakan kompromi ibadah.
-
Yusuf al-Qaradawi, Ghair al-Muslimin fi al-Mujtama‘ al-Islami, konsep toleransi tanpa relativisme akidah.
- Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, penjelasan QS. al-Kafirun sebagai fondasi hubungan antaragama.
-
Abdullah bin Bayyah, Sina‘at al-Fatwa wa Fiqh al-Aqalliyyat, tentang kejelasan identitas dan harmoni sosial.
-
Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, makna lakum dinukum wa liya din sebagai pemisahan akidah tanpa kezaliman. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
