SURAU.CO – Ada makhluk yang hidup di sekitar kita, nyaris tanpa suara, tanpa tuntutan, dan tanpa ambisi berlebihan. Ia tidur ketika lelah, bergerak ketika perlu, dan berhenti ketika cukup. Di tengah dunia yang semakin bising oleh kejaran dan kegelisahan, kehidupan kucing justru menghadirkan ketenangan yang jujur.
Kucing tidak banyak bicara tentang hidup, tetapi caranya menjalani hidup sering lebih tertata daripada manusia. Ia tidak menumpuk kecemasan, tidak memelihara amarah, dan tidak mengejar apa yang bukan kebutuhannya. Barangkali, karena itulah kehadirannya terasa menenangkan, ia hidup sebagaimana mestinya.
Kesucian Ialah Kebiasaan bukan Ritual Semata
Islam, sejak awal, tidak memisahkan iman dari cara memperlakukan makhluk hidup. Bahkan seekor kucing pun mendapat tempat dalam etika keislaman, bukan sebagai simbol, tetapi sebagai pelajaran hidup yang nyata.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kucing itu tidak najis. Ia termasuk hewan yang sering berkeliling di sekitar kalian” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Pernyataan ini sederhana, namun sarat makna. Ia bukan sekadar penetapan hukum fikih, tetapi penegasan bahwa Islam adalah agama yang akrab dengan kehidupan, tidak kaku, dan tidak mempersulit.
Kucing adalah makhluk yang menjaga kebersihan dirinya dengan disiplin alami. Ia menjilati tubuhnya berulang-ulang, memastikan tidak ada kotoran yang tertinggal. Tanpa perintah, tanpa pengawasan, ia memahami batas antara bersih dan kotor. Dalam kehidupan manusia yang sering lalai merawat kebersihan batin, kucing seolah mengingatkan bahwa kesucian bukan hanya ritual, tetapi kebiasaan.
Tawakkal yang Alami
Lebih dari itu, kucing hidup tanpa dendam. Ia bisa diusir, disakiti, bahkan diabaikan, namun jarang menyimpan kebencian. Esok hari, ia tetap hadir dengan wajah yang sama tenang dan pasrah. Padahal Al-Qur’an menempatkan kemampuan menahan amarah dan memaafkan sebagai derajat akhlak yang tinggi (QS. Ali ‘Imran: 134). Kucing mempraktikkannya tanpa retorika.
Kehidupan kucing juga mencerminkan tawakal yang alami. Ia berusaha mencari makan, tetapi tidak panik ketika belum mendapatkannya. Ia tahu ada hari sempit dan hari lapang. Tidak ada keluhan, tidak ada kegaduhan batin. Ia hidup dalam ritme yang seimbang, bergerak ketika perlu, berhenti ketika cukup. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa rezeki datang kepada makhluk yang bertawakal sebagaimana burung pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang (HR. at-Tirmidzi). Kucing hidup dengan logika yang sama.
Dalam sejarah Islam, kecintaan kepada kucing bukan hal asing. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan julukan yang berarti “Bapak Kucing Kecil”, karena kegemarannya merawat kucing. Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela kebiasaan itu. Sebaliknya, kasih sayang kepada hewan dipandang sebagai bagian dari iman. Nabi ﷺ bersabda, “Pada setiap makhluk yang bernyawa terdapat pahala dalam berbuat baik” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, kucing sering ditemukan di masjid-masjid. Ia tidur di sudut saf, melintas di antara jamaah, atau diam di dekat mimbar. Kehadirannya tidak dianggap mengganggu kesucian, justru menambah kesejukan. Masjid dalam Islam bukan ruang steril yang menolak kehidupan, tetapi ruang rahmat bagi seluruh makhluk.
Mengajarkan Keseimbangan
Dalam relasi, kucing juga mengajarkan keseimbangan. Ia dekat, tetapi tidak posesif. Ia akrab, namun tahu kapan harus menyendiri. Ia hadir tanpa menuntut. Di tengah relasi manusia yang sering melelahkan karena tuntutan dan ekspektasi, kucing menunjukkan bahwa kedekatan tidak harus membebani.
Indahnya kehidupan kucing bukan karena ia bebas dari kesulitan, tetapi karena ia tidak memperumit hidup. Ia tidak menumpuk beban yang tidak perlu. Ia hidup di hari ini, tanpa terikat oleh penyesalan masa lalu atau ketakutan masa depan. Dalam bahasa spiritual, inilah hidup dengan hati yang hadir.
Manusia tentu tidak diminta menjadi kucing. Namun manusia diajak belajar darinya. Tentang hidup yang bersih, tenang, cukup, dan penuh penerimaan. Tentang iman yang tercermin dalam sikap kepada makhluk yang lemah. Dan tentang bahwa rahmat Allah sering hadir dalam hal-hal kecil yang kita anggap sepele.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh ambisi dan kemarahan, barangkali kita perlu lebih sering berhenti sejenak, belajar dari seekor kucing yang tidur dengan tenang di sudut masjid, tanpa beban, tanpa keluhan, dan tanpa kehilangan makna hidup. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
