SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Ketika Alam Rusak, Kesadaran Manusia Retak (Refleksi Fungsi Jiwa di Ujung Tahun)

Ketika Alam Rusak, Kesadaran Manusia Retak (Refleksi Fungsi Jiwa di Ujung Tahun)

Ketika Alam Rusak, Kesadaran Manusia Retak: Refleksi fungsi jiwa di ujung tahun
Ketika Alam Rusak, Kesadaran Manusia Retak: Refleksi fungsi jiwa di ujung tahun

 

SURAU.CO – Banjir, longsor, dan kekeringan kian sering hadir dalam kehidupan kita. Namun di balik bencana ekologis yang kasatmata itu, tersimpan persoalan yang lebih dalam dan berdurasi panjang: retaknya kesadaran manusia. Yang satu merusak bumi, yang lain mengaburkan arah hidup.

Al-Qur’an sejak awal telah memperingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. al-A‘raf [7]: 56). Larangan ini bukan sekadar etika lingkungan, melainkan peringatan mendasar tentang relasi antara jiwa manusia dan keberlangsungan alam semesta.

Kerusakan ekologis tidak pernah hadir secara tiba-tiba. Al-Qur’an menegaskan bahwa musibah yang menimpa manusia bersumber dari perbuatannya sendiri. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…” (QS. asy-Syura [42]: 30). Ayat ini menuntun kita pada satu kesadaran penting: tangan yang merusak digerakkan oleh jiwa yang lebih dahulu kehilangan arah.

Nabi Muhammad ﷺ menegaskan hubungan langsung antara kondisi batin dan perilaku lahiriah manusia. Dalam hadis masyhur beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Jejak Diplomasi Ramadhan: Kisah Pengakuan Mesir Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Pusat Kendali Seluruh Sikap dan Orientasi Batin

Syarah singkat: para ulama menjelaskan bahwa “hati” dalam hadis ini mencakup pusat kesadaran, niat, dan orientasi jiwa. Ketika hati rusak, maka akal kehilangan kejernihan, dan tindakan manusia termasuk dalam memperlakukan alam menjadi destruktif. Hadis ini menegaskan bahwa krisis ekologis tidak bisa dilepaskan dari krisis batin manusia.

Dalam perspektif Al-Qur’an, perbuatan fisik hanyalah ujung dari rangkaian panjang yang bermula dari niat, pemikiran, dan orientasi batin. Jiwa manusia (nafs) adalah pusat kendali seluruh sikap dan tindakan. Allah bersumpah atas jiwa dan kesempurnaannya, lalu menegaskan bahwa keberuntungan atau kehancuran manusia bergantung pada bagaimana ia menyucikan atau mengotorinya (QS. asy-Syams [91]: 7–10).

Karena itu, makna fasād fil ardh (kerusakan di muka bumi) tidak boleh dipersempit hanya pada rusaknya hutan, sungai, atau udara. Jauh lebih berbahaya adalah kerusakan moral, etika, adab, sistem sosial, pola pikir, bahkan akidah. Kerusakan ekologis mungkin berdampak dalam hitungan musim, tetapi kerusakan jiwa dan pemikiran dapat melintasi generasi dan berujung pada krisis peradaban.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang bahaya sikap melampaui batas. “Sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena sikap berlebih-lebihan (melampaui batas).” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).

Penyakit Jiwa Kolektif

Syarah singkat: sikap ghuluw dan thughyan (melampaui batas) tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam eksploitasi alam, kerakusan ekonomi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ketika manusia tidak lagi mengenal batas moral, kerusakan menjadi keniscayaan.

Kesimpulan Final Isu Tarawih (11 Vs 20 Rakaat)

Bencana hidrometeorologi memiliki batas waktu. Namun bencana psikologis ketika akal kehilangan orientasi dan jiwa kehilangan nilai dapat berlangsung jauh lebih lama, bahkan melampaui kehidupan dunia. Di sinilah ideologi memainkan peran menentukan. Ketika sekularisme, hedonisme, liberalisme, dan kapitalisme dijadikan kiblat hidup, manusia diputus dari nilai transenden. Al-Qur’an mengingatkan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah rela hingga kaum beriman mengikuti jalan hidup mereka (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Al-Qur’an juga menggambarkan dengan tegas kondisi penyakit jiwa kolektif. “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya…” (QS. al-Baqarah [2]: 10–12). Mereka merasa sebagai pembaharu, padahal sesungguhnya perusak. Inilah tragedi terbesar: ketidakmampuan menyadari kesalahan sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang… ilmunya, untuk apa ia amalkan.” (HR. at-Tirmidzi).

Berdiri di Atas Prinsip Keadilan dan Kesadaran

Syarah singkat: ilmu dan kecanggihan teknologi tidak bernilai jika tidak diarahkan oleh kesadaran moral. Kemajuan tanpa akhlak justru mempercepat kerusakan, termasuk kerusakan lingkungan dan tatanan sosial.

Meski demikian, Al-Qur’an menegaskan bahwa agama berdiri di atas prinsip keadilan dan kesadaran. “Tidak ada paksaan dalam agama; sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat…” (QS. al-Baqarah [2]: 256). Ayat ini menegaskan bahwa fondasi iman yang rasional adalah penolakan terhadap thāghūt dan komitmen untuk menjalani Islam secara menyeluruh (QS. al-Baqarah [2]: 208).

Jembatan Ampera: Hadiah Ramadhan Abadi untuk Masyarakat Palembang

Pada akhirnya, bencana ekologis hanyalah gejala. Akar persoalannya terletak pada bencana psikologis, retaknya kesadaran, kaburnya nilai, dan melemahnya orientasi tauhid. Selama jiwa manusia tidak dipulihkan, upaya menyelamatkan bumi akan selalu berjalan setengah jalan.

Refleksi di ujung tahun ini semestinya mengantar kita pada satu kesimpulan sederhana namun mendasar: menyelamatkan lingkungan harus dimulai dari penyembuhan jiwa. Sebab bumi tidak hancur oleh alam semata, melainkan oleh manusia yang kehilangan arah hidupnya.

Catatan Hadis & Rujukan Singkat (Versi Cetak)

HR. al-Bukhari no. 52; Muslim no. 1599 (hadis tentang hati).
HR. Ahmad no. 27742; an-Nasa’i no. 3057 (larangan melampaui batas).
HR. at-Tirmidzi no. 2417 (pertanggungjawaban ilmu). Oleh: Alfin el Fikri-SSQ. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.