SURAU.CO – Timbo marani sumur, ora sumur marani timbo. (KH. Ahmad Sahal). Santri yang butuh Kiai, bukan Kiai yang butuh santri. Santri datang ke Kiai mohon izin diperkenankan meuntut ilmu dan pendidikan dari Kiai, kalau diterima dia wajib mengikuti ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh Kiai, seperti Nabi Musa AS datang untuk belajar kepada Nabi Khidir dan disyaratkan mengikuti aturannya. Al‘ilmu yu’taa walaa ya’tii (ilmu itu didatangi dan tidak mendatangi).
Sumur adalah sumber air dan ember merupakan wadahnya. Jika ember ingin terisi penuh air maka hendaknya ia mau dan mampu turun ke dalam sumur. Jika ember hanya menanti saja di luar sumur maka ia tidak akan pernah terisi air sumur tersebut.
Seorang santri sebagai penuntut ilmu dan juga murid yang berasal dari serapan bahasa Arab araada – yuriidu – iraadatan- fahuwa muriidun artinya adalah yang menginginkan atau memiliki keinginan, maka afdhalnya ia yang mendatangi Kiai, Ustadz/ah dan Guru Ngaji sehingga akan diperoleh ilmu dan keberkahan. Jangan sampai justru Kiai, Ustadz/ah atau Guru Ngaji yang harus bersusah-payah menghampiri santri. Ini adalah kiasan pertama.
Kiasan kedua adalah seperti yang dijelaskan berikut ini. Menjadi santri itu sungguh luar biasa karena merupakan anugerah Ilahi sehingga ia harus selalu rajin mengaji dan mau serta mampu melakukan berbagai aktifitas secara mandiri.
Shadaqah Jariyah
Sebagai salah-seorang yang tumbuh remaja sebagai santri dan kini berkhidmah untuk memberikan excellent service kepada para santri, penulis punya pengalaman menarik bagaimana membersamai mereka ketika sedang mengaji di masjid dan belajar di kelas sampai timbul fikiran membuat analogi ini yang diharapkan mudah difahami para santri bagaimana seharusnya sikap mereka ketika mengaji dan belajar. Jika berkenan silahkan gunakan juga tulisan ini untuk menasehati para santri yang sedang dididik, semoga menjadi shadaqah jariyah bagi kita semuanya.
Jika para Kiai dan Ustadz/ah yang menyampaikan pencerahan berbagai ilmu pengetahuan dibaratkan hujan yang tercurah dari langit maka para santri laksana tempat yang akan menerima air tersebut. Tempat air tersebut bisa saja berupa kolam, bak, drum, ember, baskom, kaleng, gelas dan lainnya sesuai kapasitas masing-masing. Baiklah, penulis ambil pertengahan yakni ember yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Juga, karena kata ember ini sudah sering dijadikan ‘panggilan atau julukan’ untuk menyifati orang dengan karakter tertentu.
Penulis gunakan Piramida sebagai pola penulisan dengan harapan akan lebih membuat kesan dan perhatian hal mana yang harus paling dihindari bagi seorang santri ketika sedang belajar atau mengaji bersama Ustadz/ah atau Kiai.
Pertama, ketika air hujan turun dari langit dan ember yang ada dalam keadaan tengkurap (bagian terbuka menghadap ke bawah) maka tidak akan ada sedikitpun air yang masuk ke dalamnya. Inilah kondisi santri yang tidur ketika mengaji atau belajar di kelas. Sehebat dan sesemangat apapun Kiai dan Ustadz/ah mengajarkan ilmu pengetahuan yang penting kalau santrinya tidur maka tidak akan mendapatkan tambahan pengetahuan sama sekali. An Nâim Kal Mayyit, orang yang tidur itu seperti mayat.
Ember Bocor
Kedua, ketika air hujan turun ke bumi namun sementara embernya dalam posisi miring maka air yang masuk tidak akan penuh. Demikian juga santri yang melamun, menghayal dan tidak fokus menyimak pencerahan. Dari Kiai atau Ustadz/ah tidak akan memahaminya dengan kuat dan tepat.
Ketiga adalah ember bocor yang menerima air hujan, meskipun air masuk maka tidak akan tersisa karena keluar lagi semuanya. Inilah gambaran santri yang suka ngobrol saja ketika Kiai atau Ustadz/ah menyampaikan pencerahan. Walaupun ia mendengar tetapi dapat dipastikan tidak akan mengerti sama sekali.
Ember yang terbaik adalah yang tidak bocor, tidak miring dan tidak tengkurap. Ketika turun air hujan sehingga akan terisi air dengan penuh.
Sikap santri yang dengan penuh khusyu’, khudhu’ dan tawadhu’ ketika menyimak penjelasan Kiai atau Ustadz/ah merupakan bagian dari Shuhbatul Ustâdzi. Yakni 1 diantara 6 syarat memperoleh ilmu: Cerdas, Tamak terhadap Ilmu, Bersungguh-sungguh, Dana, Bergaul dengan guru, Waktu yang memadai. Seperti dalam Mahfudzat masyhûr yang berbunyi: أخي لن تنال العلم إلا بستة، سأنبيك عن تفصيلها ببيان: ذكاء وحرص واجتهاد و درهم و صحبة أستاذ و طول زمان. Sabilun Najihin, halaman 195-197. (Muhlisin Ibnu Muhtarom)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
