SURAU.CO – Spirit Diri: Mengajak sholat adalah seruan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan kedalaman niat yang amat halus. Di balik kalimat ajakan itu, tersembunyi dua kemungkinan spirit diri: ketulusan yang bening atau kesombongan yang tersamar. Keduanya hanya dibedakan oleh satu perkara yang tak kasat mata niat.
Dalam ketulusan, mengajak sholat lahir dari rasa cinta dan kepedulian. Ia tidak berdiri di atas mimbar penghakiman, melainkan berjalan sejajar dengan yang diajak. Orang yang tulus tidak merasa lebih tinggi, tidak merasa sudah sampai. Ia sadar bahwa sholat adalah perjalanan seumur hidup; hari ini bisa khusyuk, esok bisa lalai. Karena itu, ajakannya lembut, penuh empati, dan tidak memaksa. Ia mengajak karena ingin bersama-sama pulang.
Sebaliknya, dalam kesombongan, ajakan sholat menjelma menjadi cermin diri yang memantulkan rasa “lebih suci”. Kalimatnya bisa benar, dalilnya tepat, namun nadanya mengandung jarak. Yang diajak merasa kecil, tertekan, bahkan terhakimi. Di titik ini, sholat tidak lagi menjadi jalan mendekatkan manusia kepada Tuhan, melainkan alat menegaskan identitas: aku benar, kamu kurang.
Kesombongan sering bersembunyi rapi di balik simbol-simbol kebaikan
Spirit diri yang tulus selalu berangkat dari kesadaran akan kelemahan sendiri. Ia tahu bahwa sholatnya pun masih butuh ampunan. Ia mengajak bukan untuk menunjukkan ketaatan, melainkan untuk mengingatkan terutama dirinya sendiri. Maka, sebelum lidah mengajak, hatinya lebih dahulu bertanya: Apakah aku mengajak karena Alloh, atau karena ingin terlihat saleh?
Dalam tradisi batin, niat adalah pusat energi amal. Amal yang sama, dengan niat berbeda, melahirkan nilai yang berbeda pula.
Mengajak sholat dengan niat tulus menenangkan, bahkan ketika ditolak. Ia tidak marah, tidak kecewa berlebihan, karena yang ia jaga adalah amanah niat, bukan hasil. Sebaliknya, ajakan yang berangkat dari ego mudah berubah menjadi amarah saat tidak diterima. Di sanalah topeng kesalehan sering jatuh.
Ketulusan juga tercermin pada cara. Ajakan yang tulus memahami waktu, keadaan, dan bahasa jiwa. Kadang ia hadir sebagai teladan, bukan kata-kata.
Diam yang khusyuk lebih mengajak daripada seribu nasihat yang meninggikan suara. Dalam ketulusan, seseorang lebih sibuk memperbaiki sholatnya sendiri agar menjadi cahaya, bukan sibuk menghitung sholat orang lain.
Mengajak sholat sejatinya adalah mengajak pulang ke diri. Pulang dari hiruk-pikuk dunia menuju kesadaran bahwa kita semua hamba sama-sama belajar, sama-sama jatuh bangun. Ketika spirit ini hadir, ajakan menjadi doa. Bahkan tanpa kata, kehadiran kita mengingatkan.
Maka, ukurannya bukan seberapa lantang kita mengajak, tetapi seberapa dalam kita merendah. Bukan seberapa sering kita menasihati, tetapi seberapa jujur kita menata niat. Di hadapan Alloh, yang paling didengar bukanlah suara paling keras, melainkan hati yang paling ikhlas.
Semoga setiap ajakan sholat yang keluar dari diri kita lahir dari ketulusan, bukan kesombongan.
Semoga ia menjadi jembatan kasih, bukan tembok pembeda. Dan semoga, saat kita mengajak orang lain berdiri menghadapNya, kita pun terlebih dahulu berlutut dalam kejujuran niat.
Khusnul Khatimah
Kita hidup bermasyarakat kadang sering mendengar kata husnul khatimah berikut sedikit pembelajaran tentang salah kaprah (kesalahpahaman) yang sering terjadi dalam penerapan husnul khotimah, beserta pelurusan maknanya agar tidak terjebak pada pemahaman yang keliru (serta mhn koreksinya apabila ada kekurangan) :
- Mengira Husnul Khotimah Hanya Soal Cara Mati
Salah kaprah:
Seseorang dianggap husnul khotimah hanya karena meninggal saat shalat, di masjid, atau pada hari Jumat.
Pelurusan:
Husnul khotimah bukan semata-mata peristiwa kematian, melainkan akumulasi kehidupan iman dan amal. Cara dan waktu wafat bisa menjadi indikasi, tetapi bukan jaminan tanpa keistiqamahan hidup sebelumnya.
“Sesungguhnya amal itu tergantung penutupnya.”
Artinya: penutup adalah hasil dari rangkaian amal, bukan kebetulan sesaat.
- Merasa Aman dari Maksiat Karena “Nanti Tobat di Akhir”
Salah kaprah:
“Santai saja sekarang, nanti di akhir umur saya bertobat agar husnul khotimah.”
Pelurusan:
Ini adalah tipuan nafsu dan setan. Tidak ada jaminan seseorang sempat bertobat. Justru kebiasaan maksiat mengunci hati sehingga sulit kembali kepada kebenaran di akhir hayat.
- Menganggap Doa Saja Cukup Tanpa Perubahan Perilaku
Salah kaprah:
Rajin berdoa minta husnul khotimah, tetapi perilaku tidak berubah.
Pelurusan:
Doa harus disertai ikhtiar nyata. Allah memerintahkan usaha dan kesungguhan, bukan sekadar permohonan lisan.
Doa tanpa amal adalah harapan kosong.
- Menilai Husnul Khotimah Orang Lain Secara Pasti
Salah kaprah:
Mudah mengatakan “pasti husnul khotimah” atau sebaliknya “pasti su’ul khotimah” kepada seseorang.
Pelurusan:
Hanya Allah yang mengetahui akhir iman seseorang. Tugas manusia adalah mendoakan dan mengambil pelajaran, bukan memastikan vonis akhir.
- Meremehkan Akhlak Sosial
Salah kaprah:
Fokus ibadah ritual, tetapi mengabaikan kejujuran, amanah, dan keadilan sosial.
Pelurusan:
Husnul khotimah tidak mungkin terpisah dari akhlak. Hak Allah (ibadah) dan hak manusia (muamalah) harus berjalan seimbang.
Anugerah Allah Atas Keistiqamahan Iman dan Amal
- Mengira Husnul Khotimah Bisa “Direkayasa”
Salah kaprah:
Menyusun skenario agar wafat dalam kondisi tertentu (misalnya selalu di masjid agar “mati bagus”).
Pelurusan:
Husnul khotimah bukan hasil manipulasi, tetapi anugerah Allah atas keistiqamahan iman dan amal.
- Terlalu Fokus pada Tanda-Tanda Lahiriah
Salah kaprah: Lebih sibuk mencari tanda fisik kematian daripada memperbaiki hati.
Pelurusan: Allah menilai qalbu dan amal, bukan sensasi tanda-tanda. Fokus pada perbaikan batin jauh lebih utama.
- Merasa Sudah Pasti Selamat Karena Identitas
Salah kaprah:
Merasa aman karena status: Muslim sejak lahir, tokoh agama, atau keturunan orang saleh.
Pelurusan:
Keselamatan akhir tidak diwariskan, tetapi diusahakan dengan iman dan amal pribadi.
Inti Pelurusan: Husnul khotimah bukan tujuan instan, tetapi proses hidup.
Ia bukan hasil klaim, simbol, atau asumsi, melainkan rahmat Allah bagi hamba yang berusaha istiqamah hingga akhir.
“Hiduplah seolah engkau akan mati besok, dan beramallah seolah engkau akan hidup selamanya.” (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
