SURAU.CO – Rajab datang tanpa hingar. Ia tidak membawa euforia massal, tidak pula gegap gempita ritual. Namun justru di situlah Rajab berbicara paling jujur: tentang batas, disiplin, dan kesadaran moral yang mulai longgar dalam kehidupan umat dan bangsa.
Di tengah kegaduhan politik, krisis keteladanan publik, serta pendidikan yang kian kehilangan orientasi nilai, Rajab hadir sebagai pengingat: ada waktu yang Allah muliakan agar manusia belajar menahan diri, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa.
Bulan Haram dan Etika Menahan Diri
Allah ﷻ menegaskan:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram.” (QS. at-Taubah: 36)
Para mufasir seperti Ibn Katsir menjelaskan bahwa bulan-bulan haram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab dimuliakan dengan penegasan larangan berbuat zalim, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain¹. Makna “kezaliman” di sini bukan sekadar kekerasan fisik, tetapi juga pelanggaran moral, pengkhianatan amanah, dan kerusakan nilai.
Rajab, dengan demikian, bukan bulan mitos atau romantisme spiritual, melainkan bulan pendidikan etika. Ia mendidik umat untuk memahami bahwa tidak semua hal boleh dilakukan meski ada peluang dan kekuasaan.
Meluruskan Cara Memuliakan Rajab
Dalam sejarah, Rajab sering diselimuti praktik-praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar kuat. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani menegaskan:
“Tidak ada hadis sahih yang menetapkan keutamaan puasa Rajab secara khusus, begitu pula shalat tertentu di dalamnya.”²
Pernyataan ini penting bukan untuk mematikan semangat ibadah, tetapi untuk meluruskan orientasi pendidikan umat. Rajab dimuliakan bukan dengan ritual rekaan, melainkan dengan ketaatan yang sesuai tuntunan.
Sayyidina Umar bin Khattab r.a. bahkan pernah mengingatkan agar kaum Muslimin tidak kembali pada sikap jahiliah yang mengultuskan Rajab tanpa pemahaman syar’i³. Ini pelajaran besar: agama ini dibangun di atas ilmu, bukan semata tradisi.
Rajab dan Pendidikan Karakter Umat
Para ulama salaf memberi ungkapan pedagogis yang terkenal: Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen. Meski bukan hadis, ungkapan ini mengandung filosofi pendidikan iman yang mendalam.
Rajab mengajarkan tadarruj pendidikan bertahap. Dalam konteks pendidikan umat hari ini, ini menjadi kritik serius terhadap budaya instan: ingin hasil cepat tanpa proses, ingin perubahan tanpa disiplin.
Padahal, Imam Ibn Rajab al-Hanbali رحمه الله menegaskan bahwa Rajab adalah kunci pembiasaan amal sebelum datangnya Ramadan⁴. Artinya, Rajab adalah ruang latihan karakter:
Melatih kejujuran sebelum berbicara tentang integritas
Melatih disiplin sebelum menuntut kinerja
Serta, Melatih shalat tepat waktu sebelum bicara moral publik.
Shalat dan Krisis Keteladanan Publik
Peristiwa Isra’ Mi’raj meski waktu pastinya diperselisihkan sering dikaitkan dengan Rajab. Namun esensi peristiwa itu tidak pernah diperdebatkan: shalat adalah fondasi peradaban iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Para ulama seperti Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menekankan bahaya besar meremehkan shalat, bukan semata vonis akidah⁵. Dalam konteks bangsa, shalat adalah simbol keterikatan moral kepada hukum yang lebih tinggi dari kepentingan manusia.
Ketika shalat diremehkan, lahirlah krisis keteladanan: pejabat mudah berdusta, pendidik kehilangan wibawa moral, dan hukum dipermainkan. Rajab mengingatkan bahwa perbaikan sosial selalu berawal dari perbaikan hubungan dengan Allah.
Rajab dan Etika Kekuasaan
Menariknya, tradisi Arab pra-Islam pun menghormati Rajab dengan menghentikan peperangan. Islam tidak menghapus kemuliaan itu, tetapi memurnikannya dari kepentingan suku dan kekuasaan.
Ibn al-Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa bulan haram adalah mekanisme syariat untuk mengerem nafsu destruktif manusia⁶. Jika individu saja diminta menahan diri, maka kekuasaan yang daya rusaknya jauh lebih besar, lebih layak untuk dikendalikan.
Dalam realitas kebangsaan hari ini, Rajab menjadi cermin pahit:
ketika bulan yang Allah muliakan pun tidak lagi dihormati secara moral, bagaimana mungkin hukum dan etika publik dijaga?.
Pendidikan Tanpa Spirit Rajab
Salah satu krisis terbesar pendidikan umat hari ini adalah hilangnya pendidikan pengendalian diri. Kurikulum sibuk mengejar capaian kognitif, tetapi abai membentuk karakter sabar, jujur, dan takut kepada Allah.
Rajab mengajarkan bahwa menahan diri adalah kecerdasan tertinggi. Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Tidak semua yang menguntungkan boleh diambil.
Inilah pelajaran Rajab bagi dunia pendidikan: mendidik manusia yang tahu batas, bukan sekadar tahu cara.
Penutup: Rajab sebagai Ujian Kejujuran
Rajab tidak menuntut perayaan. Ia menuntut kejujuran. Kejujuran untuk mengakui bahwa kerusakan umat dan bangsa tidak selalu lahir dari kekurangan aturan, tetapi dari hilangnya rasa hormat kepada batas-batas Allah.
Rajab datang setiap tahun untuk bertanya: apakah kita masih mampu menahan diri ketika ada kesempatan berbuat zalim?
Jika Rajab gagal mendidik kesadaran, maka Ramadan hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan sosial yang nyata.
Dan di situlah Rajab menemukan maknanya: bulan sunyi yang menguji integritas iman, sebelum Allah membuka pintu ampunan dan perubahan.
Catatan Kaki
-
Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. at-Taubah: 36.
-
Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tabyin al-‘Ajab bima Warada fi Fadhl Rajab.
-
Riwayat atsar Umar bin Khattab r.a., disebutkan dalam Shahih al-Bukhari secara makna.
-
Ibn Rajab al-Hanbali, Latha’if al-Ma‘arif.
-
An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, bab shalat.
-
Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma‘ad, pembahasan bulan-bulan har Republika (lebih pendek).
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
