Khazanah
Beranda » Berita » Hidup di Tempat yang Gemar Menyanjung dan Memuji: Ujian Sunyi bagi Keikhlasan

Hidup di Tempat yang Gemar Menyanjung dan Memuji: Ujian Sunyi bagi Keikhlasan

Hidup di Tempat yang Gemar Menyanjung dan Memuji: Ujian Sunyi bagi Keikhlasan
Hidup di Tempat yang Gemar Menyanjung dan Memuji: Ujian Sunyi bagi Keikhlasan

 

SURAU.CO – Tidak semua ujian datang dalam rupa kesulitan, kekurangan, atau penolakan. Sebagian ujian justru hadir dalam bentuk yang lebih halus: sanjungan, pujian, dan pengagungan. Hidup di lingkungan yang gemar memuji sering kali terasa nyaman, bahkan menenangkan. Namun di balik kenyamanan itu, tersimpan bahaya laten yang dapat menggerus keikhlasan tanpa disadari.

Manusia secara fitrah menyukai pengakuan. Ketika amal dipuji, ketika nama disebut dengan baik, ketika kehadiran disambut dengan sanjungan, hati mudah merasa “sudah sampai”. Padahal, Islam mengajarkan bahwa keselamatan seorang hamba bukan ditentukan oleh pujian manusia, melainkan oleh penilaian Allah yang Maha Mengetahui isi hati.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan sangat tegas tentang bahaya pujian yang berlebihan. Ketika seseorang memuji orang lain secara langsung, beliau bersabda:

“Engkau telah memenggal leher saudaramu.” (HR. Muslim)¹

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Ungkapan ini bukan hiperbola kosong, melainkan peringatan keras bahwa pujian bisa membunuh keikhlasan, menumbuhkan ujub, dan menanamkan rasa puas diri yang berbahaya.

Pujian dan Ilusi Kesalehan

Lingkungan yang gemar menyanjung sering kali melahirkan ilusi kesalehan. Amal dinilai bukan dari ketulusan, tetapi dari seberapa sering terlihat. Kebaikan menjadi pertunjukan, bukan pengabdian. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa rajin beramal, namun lupa bertanya: untuk siapa semua ini dilakukan?

Al-Qur’an menegaskan:

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. an-Najm: 32)²

Ayat ini merupakan koreksi terhadap kecenderungan manusia merasa diri sudah baik karena penilaian sosial. Menurut tafsir Ibnu Katsir, larangan ini mencakup segala bentuk klaim kesucian diri, baik secara lisan maupun batin³. Pujian orang lain, jika diterima tanpa kewaspadaan, dapat menjelma menjadi klaim kesucian terselubung.

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq

Lebih jauh, Allah juga mengecam orang-orang yang merasa puas hanya karena dipuji:

“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas apa yang tidak mereka lakukan, mereka itu selamat dari azab…” (QS. Ali ‘Imran: 188)⁴

Ayat ini menunjukkan bahwa kegembiraan terhadap pujian bisa menjadi tanda penyakit hati, bukan prestasi iman.

Ketakutan Para Salaf terhadap Pujian

Para ulama salaf memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap sanjungan. Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:

“Jika engkau melihat seseorang senang dipuji, maka ketahuilah bahwa ia sedang tertipu.”⁵

Pesan Dakwah: Menghitung Dosa (105)

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله bahkan berkata:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku selain niat. Ia selalu berubah-ubah.”⁶

Pujian adalah salah satu faktor terbesar yang mengubah niat. Amal yang awalnya ikhlas bisa berbelok hanya karena satu kalimat sanjungan. Karena itu, salaf tidak mencari pujian, bahkan sering berusaha menyembunyikan amal mereka.

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله pernah dipuji di hadapan beliau. Maka beliau berkata dengan gemetar:

“Ya Allah, Engkau lebih tahu tentang diriku daripada mereka, dan aku lebih tahu tentang diriku daripada mereka.”⁷

Ucapan ini bukan sekadar kerendahan hati, melainkan kesadaran mendalam bahwa pujian manusia sering kali tidak sebanding dengan kenyataan batin.

Pujian dan Matinya Kritik

Salah satu dampak paling berbahaya dari lingkungan yang gemar menyanjung adalah matinya budaya nasihat. Ketika seseorang terbiasa dipuji, ia cenderung alergi terhadap kritik. Padahal, kritik yang jujur adalah kebutuhan ruhani.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aibku kepadaku.”⁸

Ucapan ini lahir dari pemahaman bahwa keselamatan iman justru terletak pada kesediaan dikoreksi, bukan pada kenyamanan dipuji. Lingkungan yang hanya memuji akan melahirkan generasi yang rapuh, mudah tersinggung, dan sulit bertumbuh.

Pujian sebagai Ujian Kepemimpinan dan Dakwah

Dalam konteks dakwah, keilmuan, dan kepemimpinan umat, pujian adalah ujian yang lebih berat daripada celaan. Celaan sering melahirkan kesabaran, tetapi pujian sering melahirkan kelengahan.

Rasulullah ﷺ berdoa:

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami.” (HR. at-Tirmidzi)⁹

Pujian adalah bagian dari “dunia” dalam bentuk pengakuan sosial. Jika hati bergantung padanya, maka dakwah berubah menjadi pencarian popularitas, dan amanah berubah menjadi panggung kehormatan.

Sikap Seorang Beriman di Tengah Sanjungan

Pertama, mengembalikan semua pujian kepada Allah. Ini bukan basa-basi, melainkan latihan tauhid. Setiap kali dipuji, ingatlah bahwa semua kebaikan adalah taufik-Nya.

Kedua, memperbanyak muhasabah di ruang sunyi. Maka, malam hari, sajadah, dan doa panjang adalah penyeimbang dari riuhnya sanjungan publik. Di sanalah kejujuran diuji.

Ketiga, mencari sahabat yang berani menasihati. Lebih baik satu penasehat yang jujur daripada seribu pemuji yang menipu.

Keempat, yakni, mengingat akhir kehidupan. Di kubur, pujian tidak berguna. Yang ditanya hanyalah iman, amal, dan keikhlasan.

Penutup: Selamat dari Pujian

Sesungguhnya, hidup di tempat yang gemar menyanjung bukanlah tanda kemuliaan, melainkan tanda ujian. Itulah orang yang benar-benar selamat, bukan yang paling banyak dipuji, tapi yang paling takut hatinya bergeser karena pujian.

Maka, di dunia yang bising oleh sanjungan, menjaga keikhlasan adalah jihad sunyi. Itulah yang tidak terlihat, tidak dipuji, tetapi sangat menentukan nilai seseorang di hadapan Allah.

Catatan Kaki

  1. HR. Muslim no. 3000, Kitab az-Zuhd.

  2. QS. an-Najm: 32.

  3. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. an-Najm: 32.

  4. QS. Ali ‘Imran: 188.

  5. Diriwayatkan dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu‘aim.

  6. Ibn Rajab, Jami‘ al-‘Ulum wal Hikam.

  7. Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad.

  8. Ibnu ‘Abdil Barr, Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih.

  9. HR. at-Tirmidzi no. 3502, hasan. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.