Khazanah
Beranda » Berita » Mengatasi Sindrom “Tidak Enakan” dengan Panduan Kitab Riyadhus Shalihin

Mengatasi Sindrom “Tidak Enakan” dengan Panduan Kitab Riyadhus Shalihin

Teks ALT: Dua wanita berhijab tertawa di kafe, suasana santai dan penuh kebahagiaan.
Keterangan: Wanita berhijab tersenyum dan tertawa di kafe modern, menambah suasana hangat dan ramah.

Fenomena “tidak enakan” atau dalam istilah psikologi disebut people pleaser kini menjadi masalah serius bagi banyak orang. Kondisi ini menggambarkan seseorang yang memiliki dorongan kuat untuk selalu menyenangkan orang lain. Sindrom Tidak Enakan dalam Islam Mereka seringkali mengorbankan kenyamanan, waktu, bahkan prinsip pribadi demi menghindari konflik atau penilaian buruk. Namun, bagaimanakah Islam memandang perilaku ini? Jika kita merujuk pada kitab legendaris Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, kita akan menemukan batasan yang sangat jelas mengenai adab dan ketegasan.

Mengenal Sindrom “Tidak Enakan”

Seorang people pleaser biasanya sulit berkata “tidak”. Mereka merasa bersalah saat menolak permintaan orang lain, meskipun permintaan tersebut memberatkan. Dalam jangka panjang, sikap ini memicu stres kronis dan hilangnya jati diri. Islam memang mengajarkan umatnya untuk bersikap lembut dan suka menolong. Namun, Islam tidak membenarkan sikap lemah yang membuat seseorang kehilangan prinsip kebenaran.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menekankan pentingnya niat dan kejujuran. Islam menuntut umatnya untuk berbuat baik karena Allah, bukan karena haus akan pujian manusia. Ketika seseorang terjebak dalam sindrom “tidak enakan”, fokus mereka sering kali bergeser dari mencari rida Allah menjadi mencari rida manusia.

Batasan Mencari Rida Manusia dalam Islam

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya mencari rida manusia dengan cara yang memicu murka Allah. Kutipan hadis yang relevan dengan masalah ini adalah:

“Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari ketergantungan pada manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dia kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).

Bunga Pukul Empat, kembang Indah yang Kaya Manfaat

Hadis ini menjadi fondasi utama dalam menetapkan batasan. Jika sikap “tidak enakan” membuat Anda melakukan hal yang melanggar syariat atau meninggalkan kewajiban, maka sikap tersebut harus Anda tinggalkan. Memprioritaskan perasaan manusia di atas perintah Tuhan adalah bentuk kekeliruan iman.

Pelajaran dari Bab Ikhlas dalam Riyadhus Shalihin

Bab pertama dalam Riyadhus Shalihin membahas tentang niat dan keikhlasan. Hal ini sangat berkaitan dengan fenomena people pleaser. Seorang mukmin yang ikhlas tidak akan merasa hancur hanya karena orang lain merasa kecewa atas penolakannya yang benar.

Islam mengajarkan kita untuk bersikap Izzah (memiliki harga diri yang mulia). Menjadi orang baik bukan berarti menjadi orang lemah yang bisa diinjak-injak. Riyadhus Shalihin mengajarkan bahwa akhlak mulia harus berjalan beriringan dengan ketegasan dalam kebenaran. Anda boleh menolak ajakan yang sia-sia dengan cara yang sopan. Inilah yang disebut dengan kombinasi antara Linnul Janib (lemah lembut) dan Al-Quwwah (kekuatan prinsip).

Cara Menentukan Batasan (Boundary) yang Islami

Bagaimana cara berhenti menjadi people pleaser namun tetap menjadi muslim yang baik? Berikut adalah beberapa langkah berdasarkan nilai-nilai dalam Riyadhus Shalihin:

  1. Luruskan Niat: Tanyakan pada diri sendiri, apakah saya menolong karena Allah atau karena takut dianggap jahat?

    Pentingnya Thaharah dalam Islam

  2. Pahami Skala Prioritas: Islam mendahulukan kewajiban diri sendiri dan keluarga sebelum membantu orang lain secara berlebihan.

  3. Gunakan Kata-Kata yang Baik (Qawlan Marufa): Anda bisa menolak permintaan tanpa harus menyakiti hati. Gunakan bahasa yang santun namun tetap tegas (firmed).

  4. Takutlah Hanya kepada Allah: Ketakutan akan penilaian manusia adalah akar dari sindrom tidak enakan. Tanamkan dalam hati bahwa hanya penilaian Allah yang bersifat kekal.

Dampak Buruk Terlalu “Tidak Enakan”

Terlalu sering mengikuti keinginan orang lain tanpa filter dapat menjerumuskan seseorang pada kemunafikan. Anda mungkin lisan berkata “ya”, namun hati Anda merasa dongkol dan penuh kebencian. Kitab Riyadhus Shalihin sangat menekankan kesesuaian antara lahir dan batin. Jika Anda memaksakan diri melakukan sesuatu demi orang lain hingga hati tidak rida, maka Anda telah mencederai kemurnian amal tersebut.

Selain itu, seorang people pleaser cenderung sulit menjalankan amar makruf nahi mungkar. Karena rasa “tidak enakan”, mereka sering diam saat melihat kemungkaran di depan mata. Padahal, Rasulullah mengajarkan kita untuk mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan, atau setidaknya hati.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Kesimpulan

Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain adalah cita-cita setiap muslim. Namun, jangan sampai keinginan membantu tersebut berubah menjadi sindrom “tidak enakan” yang merusak kesehatan mental dan kualitas ibadah Anda.

Kitab Riyadhus Shalihin mengingatkan kita bahwa rida Allah adalah tujuan utama. Mulailah menetapkan batasan yang sehat. Katakan “tidak” pada hal yang melanggar prinsip atau melampaui kemampuan Anda. Dengan begitu, Anda akan menjadi pribadi yang lebih jujur, tenang, dan dicintai Allah tanpa harus menjadi budak dari ekspektasi manusia.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.