SURAU.CO. Di balik rimbunnya semak liar yang sering terabaikan di pinggir jalan dan lereng gunung, tersimpan sebuah rahasia pengobatan kuno yang mulai kembali dilirik. Tanaman itu adalah Anting-anting (Acalypha indica). Bagi mata awam, ia hanyalah pengganggu estetika pekarangan, namun bagi para penggiat herbal, tumbuhan ini adalah “apotek hidup” yang tak ternilai harganya.
Secara fisik, anting-anting memiliki ciri yang khas: daunnya oval bergerigi menyerupai bayam, dengan bunga-bunga kecil hijau kekuningan yang menjuntai lemas layaknya perhiasan di telinga. Tak hanya manusia, kucing pun seakan memiliki ikatan batin dengan tanaman ini. Akar anting-anting mengeluarkan aroma yang mampu menarik perhatian kucing secara naluriah, hingga masyarakat sering menjulukinya sebagai “Bayam Kucing.”
Warisan yang Terlupakan
Dahulu, daun anting-anting bukanlah pemandangan asing di atas meja makan. Masyarakat tradisional kerap menyajikannya sebagai bagian dari menu harian—mulai dari pecel, urap, hingga lalap rebus. Namun, seiring berjalannya waktu dan modernisasi pangan, keberadaannya mulai terpinggirkan dari piring makan.
Retno Sulistyowati, seorang Acaraki (peramu jamu) dari Warisan Otentik, mengungkapkan bahwa tanaman ini menyimpan kandungan kimiawi yang kompleks namun bermanfaat. Senyawa seperti saponin, flavonoid, dan tanin yang terkandung di
dalamnya bukan sekadar istilah ilmiah, melainkan “senjata” alami untuk melawan berbagai penyakit.
Salah satu temuan paling menarik dalam praktik penggunaan anting-anting adalah perannya bagi kesehatan mata. Di tengah meningkatnya kasus gangguan penglihatan akibat faktor usia, anting-anting menawarkan solusi alami. “Saponin halus dalam daun ini sangat bagus untuk membersihkan lensa mata,” ujar Retno. Gangguan seperti selaput lendir atau bercak jamur pada lensa yang sering terjadi pada lansia usia 60-an. Banyak yang yakin bahwa masalah mata berair dapat menjadi berkurang dengan konsumsi rutin daun ini sebagai salad atau sayur bening setidaknya dua hari sekali.
Laboratorium Alam untuk Pencernaan dan Kulit
Berdasarkan catatan botani seluruh bagian tanaman ini (herba) memiliki khasiat medis. Dalam dunia pengobatan tradisional, anting-anting adalah spesialis saluran pencernaan. Penyakit berat seperti disentri amoeba, diare, hingga muntah darah dapat diobati dengan meminum air rebusan batang keringnya. Tak hanya di bagian dalam tubuh, tanaman ini juga bekerja efektif di permukaan kulit. Bagi penderita dermatitis, eksema, atau koreng, air rebusan herba segar menjadi antiseptik alami yang digunakan untuk mencuci luka. Bahkan, pendarahan dan luka bakar ringan bisa ditangani dengan lumatan daun segar yang dicampur sedikit gula pasir.
Meskipun tumbuh secara liar dan tidak diperjualbelikan secara luas di pasar modern, eksistensi anting-anting membuktikan bahwa alam telah menyediakan obat sebelum manusia mengenali penyakitnya. Tantangan saat ini adalah bagaimana mengedukasi masyarakat agar kembali mengenali potensi tanaman di sekitar mereka.
Meskipun pahit di lidah, anting-anting menawarkan kemanisan bagi kesehatan. Ia adalah bukti bahwa untuk sehat, manusia terkadang hanya perlu menundukkan kepala, melihat ke arah tanah di pinggir jalan, dan menghargai apa yang tumbuh di sana.
Manfaat Untuk Kesehatan
Dalam buku BUKU SAKU TANAMAN OBAT Warisan Tradisi Nusantara untuk Kesejahteraan Rakyat ada beberapa cara menggunakan anting-anting ini untuk kesehatan. Untuk mengobati disentri Amoeba cukup dengan menggunakan seluruh batang anting-ating kering sekitar 30-60 gram. Kemudian Anda harus merebusnya dan meminumnya 2 kali untuk 5-10 hari.
Untuk mengobati luka cukup dengan merebusnya dan air tersebut untuk mencuci bagian kulit yang sakit. Sedangkan untuk batuk, mimisan dan berak darah adalah dengan merebus anting-anting kering kering 30-60 g dab meminumnya setelah dingin.
Adapun ketika ada pendarahan atau luka bakar maka tambahlah dengan ditambah gula pasir secukupnya, lalu lumatkan. kemudian tempelkan ke tempat yang sakit. Sementara untuk disentri basiler rebus anting-anting kering seberat 30-60 gram. Kemudian tambahkan portulaka 30 gram, gula 30 gram. Setelah itu rebus dan minum ketika dingin. Sedangkan untuk diare dan muntah darah cukup merebus anting-anting kering 30-60 gram, lalu rebus dan minum setelah dingin.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
