SURAU.CO. Mentari menyinari jalanan datar di wilayah Baikindi, Ustaz Abu Ali Ad-Daqaq melangkah tenang. Sufi alim ini menyusuri jalanan dengan tenang. Namun, tiba-tiba dirinya terusik oleh kegaduhan pada sebuah sudut jalan. Beliau melihat sekelompok dengan penih emosi dan tampak geram. Syekh abu Ali kemudian melangkah menuju tempat tersebut dengan rasa penasaran. Setelah mendekat tampak seorang pemuda yang tertunduk lesu.
Orang-orang sepertinya hendak mengusir pemuda tersebut dan mengasingkannya dari lingkungan. Selidik punya selidik, hal itu karena masyarakat sangat muak dengan tabiatnya yang telah melampaui batas dan merusak ketenteraman. Tiba-tiba antara amarah warga, terdengar isak tangis yang memilukan. Seorang ibu tua berdiri gemetar dan menuju samping pemuda tersebut. Ternyata perempuan itu adalah ibu sang pemuda. Sambil menahan malu, ibu itu memohon belas kasihan yang tampaknya tak lagi bersisa dari hati orang-orang yang sudah muak itu.
Melihat kejadian itu tersebut, Syekh Ali ad Daqaq merasa terketuk hatinya. Beliau langsung mendekat dan berkata dengan suara yang menyejukkan, “Serahkanlah urusan pemuda ini kepadaku. Biarlah aku yang menjaminnya. Jika kelak ia mengulangi kerusakannya, maka silakan kalian lakukan apa yang kalian kehendaki.”
Warga yang menghormati syekh Abu Ali akhirnya luluh. Pemuda itu selamat dari pengusiran hari itu karena mendapat jaminan dan perlindungan sang syekh.
Sebuah Kabar dari Balik Pintu
Beberapa waktu berlalu. Suatu ketika Syekh Abu Ali kembali melewati jalan yang sama. Namun suasana kali ini terasa santgat berbeda. Tidak lagi terdengar suara kegaduhan, kan tetapi rintihan pelan dan isak tangis yang tertahan dari balik sebuah pintu rumah.
Hati Syekh Abu kembali penasaran. “Mungkinkah pemuda itu berbuat ulah lagi hingga ibunya menangis seperti ini?” gumamnya dalam hati. Dengan penuh rasa ingin tahu dan kepedulian, Syekh Abu Ali kemudian mengetuk pintu kayu itu. Tak lama berselang pintu terbuka. Terlihat sang ibu dari pemuda yang pernah ia tolong keluar dengan mata yang sembab. Sebelum Syekh Ali sempat bertanya tentang kelakuan putranya, wanita tua itu berucap dengan suara parau, “Ia telah tiada, Tuan. Putraku sudah meninggal dunia.”
Terkejut, Abu Amr pun menanyakan bagaimana akhir hayat pemuda yang pernah ia tolong itu. Sang ibu bercerita dengan air mata yang kembali mengalir: “Sebelum napasnya yang terakhir, ia memegang tanganku dan berpesan, ‘Wahai Ibu, jika aku mati, jangan kabarkan kepada para tetangga. Aku telah banyak menyakiti hati mereka. Aku takut mereka akan mencibir jenazahku atau enggan menyalatiku. Cukuplah Ibu sendiri yang mengurusku.'”
Cincin Dengan Tulisan Bismillah
Wanita itu menyeka air matanya, lalu melanjutkan, “Ia kemudian memberiku sebuah cincin. Di permukaannya terukir kalimat agung: Bismillah (Dengan menyebut nama Allah). Ia berpesan, ‘Ibu, kuburkan cincin ini bersamaku. Setelah tanah kau ratakan, mintalah pertolongan dan ampunan kepada Tuhanku untukku.’ Aku telah menjalankan seluruh wasiatnya, Tuan.”
Abu Amr terdiam. Beliau merenungi betapa luasnya pintu taubat bagi mereka yang benar-benar menyesal. Namun, sebuah kejadian ajaib terjadi saat ia hendak melangkah pergi meninggalkan rumah duka tersebut. Tiba-tiba, sebuah suara yang lembut namun jelas—seolah datang dari arah pusara yang sunyi—terdengar memecah keheningan: “Wahai Ibu, pulanglah dengan tenang. Aku telah menghadap Tuhanku, dan Dia telah menerimaku.” Syekh Abu Ali terpaku. Beliau menyadari bahwa di balik kenakalan masa lalu, ada penyesalan sedalam samudra yang telah mempertemukan pemuda itu dengan kasih sayang Sang Pencipta yang tak bertepi.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
