Khazanah
Beranda » Berita » Akhlak yang Baik: Buah Iman, Cermin Pergaulan, dan Jalan Keselamatan

Akhlak yang Baik: Buah Iman, Cermin Pergaulan, dan Jalan Keselamatan

Akhlak yang Baik: Buah Iman, Cermin Pergaulan, dan Jalan Keselamatan
Akhlak yang Baik: Buah Iman, Cermin Pergaulan, dan Jalan Keselamatan

 

SURAU.CO – Yang baik bukan sekadar hiasan kepribadian, tetapi inti dari ajaran Islam. Ia bukan hanya soal sopan santun di hadapan manusia, melainkan cerminan hubungan seorang hamba dengan Allah. Akhlak lahir dari iman yang hidup, tumbuh dari hati yang terdidik, dan berkembang melalui lingkungan yang membiasakan kebaikan.

Sering kali seseorang mengira akhlak adalah bawaan sejak lahir. Padahal akhlak lebih banyak dibentuk daripada diwariskan. Ia tumbuh dari apa yang sering dilihat, didengar, dan dilakukan. Dari situlah Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat mendalam:

> “Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Hadis ini bukan sekadar nasihat sosial, tetapi kaidah besar dalam pembinaan akhlak dan iman. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa seseorang hanya dipengaruhi oleh ilmunya, kecerdasannya, atau statusnya, melainkan oleh lingkar pergaulan yang ia pilih. Karena pergaulan adalah sekolah kehidupan yang paling nyata.

Invasi Afghanistan: Sejarah Panjang Ramadhan di Medan Tempur

Kebiasaan, lalu menetap dalam Karakter

Akhlak yang baik sering kali tidak diajarkan melalui ceramah panjang, tetapi melalui keteladanan yang berulang. Ketika seseorang duduk bersama orang-orang yang menjaga lisannya, ia belajar diam. Dan Ketika ia berteman dengan orang-orang yang jujur, ia merasa malu untuk berdusta. Ketika ia bergaul dengan orang-orang yang rendah hati, kesombongan menjadi sesuatu yang asing.

Tanpa disadari, akhlak itu menular. Ia meresap perlahan, masuk melalui kebiasaan, lalu menetap dalam karakter. Inilah sebabnya Islam sangat memperhatikan dengan siapa seorang muslim bergaul. Karena akhlak yang rusak sering kali bukan karena niat jahat, tetapi karena terbiasa berada di lingkungan yang salah.

Akhlak dalam Islam bukan sekadar etika sosial. Ia adalah ibadah. Senyum yang tulus, tutur kata yang lembut, kesabaran menghadapi orang lain, kejujuran dalam muamalah, dan menahan diri dari menyakiti semuanya bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Bahkan, Rasulullah ﷺ menyebut bahwa orang yang paling berat timbangannya di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.

Ini menunjukkan bahwa akhlak memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ibadah ritual yang banyak tetapi tidak dibarengi akhlak yang baik bisa kehilangan maknanya. Sebaliknya, akhlak yang baik sering menjadi sebab seseorang dicintai Allah dan manusia, meskipun amalnya terlihat sederhana.

Mencari mereka yang mengajak kepada Kebaikan

Orang yang berakhlak baik bukanlah orang yang tidak pernah marah, tetapi orang yang mampu mengendalikan marahnya. Bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang cepat sadar, mau mengakui kesalahan, dan rendah hati untuk meminta maaf. Akhlak yang baik tidak menghilangkan sisi manusiawi, tetapi menjaganya agar tidak melampaui batas.

Krisis Kemanusiaan di Sudan: Menjalankan Puasa di Tengah Desing Peluru

Sayangnya, akhlak sering runtuh bukan karena lemahnya pengetahuan, melainkan karena salah pergaulan. Lingkungan yang gemar meremehkan orang lain akan melahirkan pribadi yang kasar. Lingkungan yang menormalisasi kebohongan akan membuat dusta terasa ringan. Dan Lingkungan yang menjauh dari nilai-nilai agama akan membuat maksiat tampak biasa.

Inilah mengapa memilih teman bukan perkara remeh. Berteman dengan orang baik bukan berarti mencari mereka yang sempurna, tetapi mencari mereka yang mengajak kepada kebaikan. Orang-orang yang jika kita salah, mereka menasihati. Jika kita lalai, mereka mengingatkan. Jika kita lemah, mereka menguatkan.

Teman yang baik adalah mereka yang kehadirannya membuat kita lebih dekat kepada Allah, bukan hanya lebih nyaman di dunia. Bersama mereka, pembicaraan tidak selalu tentang agama, tetapi akhlak terasa dijaga. Tidak ada caci maki, tidak ada ghibah yang dinikmati, dan tidak ada keburukan yang dibanggakan.

Rendah hati meski bisa menyombongkan Diri

Sebaliknya, teman yang buruk sering kali tidak mengajak secara langsung kepada dosa, tetapi membuat dosa terasa biasa. Awalnya hanya mendengar, lalu tertawa, kemudian ikut membenarkan, hingga akhirnya ikut terjerumus. Inilah bahaya terbesar: ketika hati tidak lagi sensitif terhadap kesalahan.

Akhlak yang baik juga diuji ketika seseorang memiliki kekuasaan, harta, atau pengaruh. Di saat itulah tampak apakah akhlaknya benar-benar lahir dari iman atau hanya topeng sosial. Orang yang berakhlak baik tetap adil meski mampu menzalimi, tetap rendah hati meski bisa menyombongkan diri, dan tetap lembut meski memiliki alasan untuk keras.

Embargo Ekonomi Irak: Perjuangan Ibu-Ibu Memasak Rumput di Bulan Ramadhan

Dalam kehidupan modern, pergaulan tidak hanya terbatas pada dunia nyata. Media sosial telah menjadi lingkar pertemanan virtual yang sangat luas. Apa yang kita konsumsi setiap hari konten, komentar, candaan perlahan membentuk cara berpikir dan bersikap. Jika yang kita ikuti adalah cacian, hinaan, dan kebencian, maka akhlak pun akan ikut tergerus. Namun jika yang kita ikuti adalah ilmu, nasihat, dan teladan kebaikan, hati akan lebih mudah dijaga.

Rasulullah ﷺ diutus bukan hanya membawa syariat, tetapi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ini menunjukkan bahwa akhlak adalah tujuan besar risalah Islam. Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kesombongan. Ibadah tanpa akhlak akan melahirkan kekakuan. Dakwah tanpa akhlak akan kehilangan ruh dan keindahannya.

Menjauh dari lingkungan yang buruk dan mendekati lingkungan yang Baik

Karena itu, memperbaiki akhlak tidak cukup dengan memperbanyak teori, tetapi dengan membenahi lingkungan dan pergaulan. Terkadang perubahan besar dalam hidup tidak dimulai dari amalan yang rumit, tetapi dari keputusan sederhana: menjauh dari lingkungan yang buruk dan mendekat kepada lingkungan yang baik.

Akhirnya, setiap kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah pergaulan kita hari ini membantu memperbaiki akhlak atau justru merusaknya?
Apakah setelah bersama teman-teman kita, iman terasa bertambah atau berkurang?
Apakah kita menjadi pribadi yang lebih lembut, atau justru lebih mudah meremehkan orang lain?

Sebab tanpa disadari, akhlak dan kebiasaan kita hari ini adalah hasil dari siapa yang paling sering kita temani.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita akhlak yang mulia, hati yang lembut, dan teman-teman yang shalih. Karena akhlak yang baik bukan hanya jalan menuju kebaikan pribadi, tetapi juga jalan keselamatan bagi masyarakat dan umat seluruhnya. (Tengku Iskandar, M. Pd – Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.