SURAU.CO – Tidak semua yang putus harus dibiarkan runtuh. Ada jarak yang tercipta bukan karena kebencian, tapi karena lelah yang tak sempat dijelaskan. Ada jembatan yang roboh bukan sebab niat buruk, melainkan karena ego yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali.
Menyambung jembatan yang putus adalah pekerjaan sunyi. Ia tidak selalu disambut tepuk tangan, bahkan sering dimulai dengan menelan harga diri. Sebab yang pertama harus diturunkan bukan nada suara, melainkan kesombongan hati.
Dalam kehidupan sosial, keluarga, bahkan dalam umat, banyak jembatan yang dahulu kokoh dibangun oleh kepercayaan, adab, dan niat baik perlahan retak oleh prasangka. Kata-kata yang tak dijaga, sikap yang tergesa, dan penilaian yang lahir tanpa tabayun, semuanya menjadi palu yang memukul pilar-pilar hubungan.
Allah ﷻ mengingatkan:
> “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini bukan sekadar seruan persatuan, tetapi perintah untuk merawat penghubung. Sebab perpecahan sering kali bukan datang dari perbedaan prinsip, melainkan dari kegagalan menjaga adab dalam perbedaan.
Menyambung Bukan Berarti Mengalah dalam Kebenaran
Perlu dipahami, menyambung jembatan bukan berarti mengorbankan prinsip. Ia adalah upaya memisahkan antara kebenaran dan emosi, antara sikap tegas dan sikap keras. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik: paling tegas dalam kebenaran, namun paling lembut dalam cara.
Beliau ﷺ bersabda:
> “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali ia menghiasinya, dan tidaklah dicabut kelembutan dari sesuatu kecuali ia merusaknya.” (HR. Muslim)
Jembatan yang putus sering kali tidak butuh debat panjang. Ia hanya menunggu satu sikap: kelembutan yang jujur.
Dimulai dari Diri Sendiri
Menyambung jembatan hampir selalu dimulai dengan satu pertanyaan berat:
“Di bagian mana aku ikut berkontribusi atas keretakan ini?”
Introspeksi adalah bahan bangunan terpenting. Tanpanya, setiap upaya penyambungan hanya akan menjadi jembatan rapuh tampak tersambung, tapi mudah runtuh kembali.
Dalam banyak kasus, Allah membuka jalan damai bukan saat kedua pihak sama-sama benar, tetapi saat salah satu pihak memilih dewasa.
Jembatan Umat dan Tanggung Jawab Moral
Di level umat, menyambung jembatan berarti menahan diri dari provokasi, tidak menambah api pada luka lama, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan panggung. Orang beriman bukan hanya dituntut benar, tetapi menjadi penenang di tengah kegaduhan.
Karena itu, menyambung jembatan adalah bagian dari amal besar—meski sering tak tercatat, tak viral, dan tak dipuji.
Penutup
Tidak semua jembatan bisa disambung, dan tidak semua orang mau kembali menyeberang. Namun tugas kita adalah berusaha sebelum menyerah, menjaga adab sebelum menuntut menang.
Sebab di hadapan Allah, bisa jadi yang paling mulia bukan yang paling keras membela pendapatnya, tetapi yang paling ikhlas memperbaiki hubungan.
Menyambung jembatan yang putus adalah tanda jiwa yang hidup karena hanya hati yang matang yang sanggup mendahulukan maslahat daripada gengsi.
Kalau Seandainya Ruwaibidah Lancang Bicara
Di antara tanda zaman yang Rasulullah ﷺ peringatkan dengan nada serius adalah munculnya sosok yang disebut ruwaibidah. Ia bukan sekadar orang bodoh, tapi figur yang tidak layak bicara urusan umat, namun justru tampil lantang, percaya diri, dan merasa paling tahu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dianggap berkhianat, dan ruwaibidah berbicara.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah ruwaibidah itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi perkara umum.” (HR. Ibnu Majah)
Bayangkan, kebodohan bukan lagi rasa malu, tapi justru diberi mimbar. Ketidaktahuan bukan lagi alasan untuk diam, malah menjadi modal untuk tampil. Inilah tragedi besar peradaban: ketika yang tak berilmu merasa paling berhak menentukan arah.
Ketika Ketidaktahuan Menjadi Keberanian
Ruwaibidah lancang bicara bukan sekadar bicara asal-asalan. Ia berbicara tentang:
agama tanpa ilmu,
hukum tanpa amanah,
maslahat umat tanpa kejujuran,
kebenaran tanpa rasa takut kepada Allah.
Yang lebih berbahaya, ia pandai merangkai kata, fasih memainkan emosi, dan lihai membungkus kebodohan dengan retorika. Maka masyarakat awam pun terkecoh. Yang dangkal tampak cerdas, yang keras dianggap tegas, yang sembrono dikira berani.
Lidah yang Mendahului Ilmu
Dalam Islam, diam karena tidak tahu adalah ibadah, sedangkan bicara tanpa ilmu adalah dosa. Allah ﷻ berfirman:
> “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Namun ruwaibidah justru melakukan kebalikannya:
ia mengikuti opini, bukan dalil;
mengutamakan viral, bukan kebenaran;
mengejar sorak, bukan ridha Allah.
Ketika lidah mendahului ilmu, yang lahir bukan pencerahan, tapi kerusakan.
Fitnah yang Lebih Berbahaya dari Senjata
Ucapan ruwaibidah bisa memecah umat, menyesatkan generasi, dan merusak kepercayaan publik. Oleh karena itu, kita harus waspada dan selektif dalam menerima informasi. Sebab ia berbicara di ruang umum, tentang perkara umum, namun tanpa tanggung jawab akhirat.
Ibn Sirin رحمه الله pernah berkata:
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama.”
Masalahnya, di zaman ini orang lebih melihat jumlah pengikut daripada kedalaman ilmu, lebih percaya popularitas daripada integritas. Jadi, yang penting trending dulu, ilmu menyusul.
Pelajaran untuk Kita Semua
Tulisan ini bukan sekadar mengkritik “orang lain”. Ia juga cermin untuk diri sendiri:
Sudahkah kita menahan lisan saat tidak paham?
Sudahkah kita belajar sebelum berpendapat?
Atau jangan-jangan, tanpa sadar, kita ikut barisan ruwaibidah digital?
Sebab di era media sosial, setiap orang bisa punya mimbar, tapi tidak semua pantas berdakwah. Oleh karena itu, kita harus bijak dalam bermedia sosial.
Penutup
Jika ruwaibidah lancang bicara, maka tugas orang beriman adalah menjaga akal, menimbang ucapan, dan kembali kepada ulama yang amanah. Zaman boleh gelap, tapi kebenaran tak pernah kehilangan cahaya selama masih ada orang yang mau rendah hati untuk belajar dan takut untuk sembarangan bicara.
Keselamatan agama sering kali terletak pada satu sikap sederhana: tahu kapan harus berbicara, dan pada akhirnya tahu kapan harus diam. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
