SURAU.CO – Segala perubahan besar dalam hidup manusia hampir selalu berawal dari satu hal kecil namun menentukan: niat. Ia tidak terlihat, tidak terdengar, dan sering dianggap sepele. Namun di hadapan Allah, niat justru menjadi penentu nilai sebuah amal—bahkan sebelum langkah pertama benar-benar diayunkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar kaidah fikih, melainkan hukum kehidupan. Niat yang jujur akan menuntun seseorang menemukan jalan, meski jalannya sempit, terjal, dan tidak selalu sesuai rencana awal.
Niat yang Benar Mengundang Pertolongan Allah
Tidak semua niat melahirkan jalan. Hanya niat yang lurus karena Allah yang dibukakan pintu-pintu pertolongan. Ketika seseorang berniat baik, Allah tidak selalu langsung memberi hasil, tetapi Allah menyediakan arah. Kadang berupa kemudahan, kadang berupa orang-orang yang ditemui di tengah perjalanan, dan kadang berupa ujian agar niat itu dimurnikan.
Allah ﷻ berfirman:
> “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Ayat ini menegaskan bahwa jalan itu bukan selalu terlihat sejak awal. Ia sering muncul setelah langkah pertama diambil dengan niat yang benar.
Jalan Tidak Selalu Mudah, Tapi Selalu Ada
Ungkapan “di mana ada niat, di sana ada jalan” bukan janji bahwa semua akan berjalan mulus. Jalan bisa berupa:
kesabaran yang diuji,
kegagalan yang mendewasakan,
penundaan yang menyelamatkan,
atau perubahan rencana yang justru lebih baik.
Yang berbahaya bukan jalan yang sulit, melainkan niat yang goyah di tengah perjalanan. Sebab ketika niat ditinggalkan, jalan pun terasa buntu meski terbentang luas.
Antara Niat dan Kesungguhan
Islam tidak mengenal niat yang pasif. Niat harus dibuktikan dengan usaha, doa, dan tawakal. Niat tanpa ikhtiar hanyalah angan, sedangkan ikhtiar tanpa niat yang lurus hanyalah kelelahan.
Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
“Iman bukanlah angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal.”
Di sinilah letak keseimbangannya: niat meluruskan tujuan, usaha menggerakkan langkah, dan tawakal menenangkan hati.
Penutup
Jika hari ini jalan terasa sempit, jangan buru-buru menyalahkan takdir. Mungkin Allah sedang menguji ketulusan niat kita. Sebab jalan tidak selalu tampak di awal, tapi ia selalu disediakan bagi mereka yang sungguh-sungguh berniat baik dan bersandar kepada-Nya.
Di mana ada niat yang lurus, di sana selalu ada jalan meski kadang jalannya harus dibuka dengan sabar, doa, dan keyakinan.
BSI: Lembaga Keuangan Syariah yang Hadir Membantu Bencana di Sumatera
Bencana alam selalu datang tanpa aba-aba, meninggalkan duka, kehilangan, dan luka yang tidak ringan. Di tengah kondisi seperti itu, kehadiran lembaga yang tidak hanya menghitung keuntungan, tetapi juga menjalankan amanah kemanusiaan, menjadi sangat berarti. Bank Syariah Indonesia (BSI) menempatkan peran tersebut sebagai bagian dari jati dirinya: lembaga keuangan syariah yang berpihak pada kemaslahatan umat.
Ketika berbagai wilayah di Sumatera dilanda bencana baik banjir, longsor, gempa, maupun kebakaran BSI tidak sekadar hadir sebagai institusi finansial, tetapi sebagai mitra kemanusiaan yang bergerak cepat membantu masyarakat terdampak.
Kepedulian sebagai Amanah Syariah
Dalam prinsip ekonomi Islam, harta bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah yang harus memberi manfaat seluas-luasnya. Allah ﷻ berfirman:
> “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menjadi fondasi etis bagi lembaga keuangan syariah, termasuk BSI, dalam merespons musibah. Membantu korban bencana bukan sekadar program sosial, tetapi implementasi langsung nilai ta’awun (saling menolong) yang menjadi ruh ekonomi Islam.
Bentuk Bantuan Nyata di Lapangan
Melalui sinergi BSI bersama BSI Maslahat dan berbagai mitra kemanusiaan, bantuan disalurkan dalam berbagai bentuk, antara lain:
bantuan logistik dan kebutuhan pokok,
bantuan darurat bagi korban terdampak,
dukungan untuk pemulihan pascabencana,
serta penguatan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Bantuan ini bukan hanya meringankan beban fisik, tetapi juga menguatkan psikologis dan harapan mereka yang sedang diuji.
BSI dan Tanggung Jawab Sosial Umat
Sebagai bank syariah nasional, BSI membawa identitas umat. Artinya, keberadaannya tidak boleh terlepas dari denyut kehidupan masyarakat, terutama saat mereka berada dalam kondisi paling rentan. Di sinilah perbedaan mendasar antara pendekatan syariah dan sekadar korporasi: keuntungan berjalan seiring dengan kepedulian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Prinsip ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan sebuah institusi tidak hanya diukur dari neraca keuangan, tetapi dari seberapa besar manfaatnya saat umat membutuhkan.
Menguatkan Harapan, Menjaga Kepercayaan
Di tengah bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga kehadiran yang menenangkan. Ketika lembaga keuangan syariah hadir membersamai, kepercayaan publik pun tumbuh: bahwa sistem syariah bukan sekadar label, melainkan solusi yang nyata dan membumi.
Kepedulian BSI dalam membantu korban bencana di Sumatera menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam dapat diimplementasikan secara konkret dalam dunia modern, profesional, dan terstruktur.
Penutup
Bencana boleh memporak-porandakan alam, tetapi solidaritas mampu menegakkan kembali harapan. Melalui peran aktifnya membantu masyarakat Sumatera yang terdampak bencana, BSI menegaskan posisinya sebagai lembaga keuangan syariah yang tidak berjarak dengan umat.
Karena dalam ekonomi Islam, keberkahan tidak lahir dari angka semata, tetapi dari doa orang-orang yang tertolong di saat paling sulit dalam hidup mereka. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
