SURAU.CO – Langkah Pengabdian yang Panjang: Refleksi tentang Muhammadiyah dan Makna Kesetiaan pada Amal. Dalam perjalanan sebuah bangsa, tidak semua jejak ditinggalkan oleh gemuruh kekuasaan. Ada jejak yang hadir dalam diam, bekerja tanpa sorak, namun dampaknya melintasi zaman. Muhammadiyah adalah salah satu jejak itu. Ia tidak sekadar tercatat dalam kalender sejarah sebagai organisasi Islam yang lahir lebih dari satu abad silam, tetapi hadir sebagai denyut pengabdian yang terus mengalir, dari generasi ke generasi, dari desa hingga kota, dari ruang ibadah hingga ruang kemanusiaan.
Sejarah Muhammadiyah bukan sekadar deretan tahun dan peristiwa. Ia adalah kisah tentang kesetiaan pada amal. Tentang keyakinan bahwa dakwah tidak selalu harus berdiri di mimbar, tetapi bisa tumbuh di ruang kelas, di bangsal rumah sakit, di panti asuhan, dan di setiap tempat di mana martabat manusia membutuhkan penguatan. Inilah dakwah yang membumi, yang menjelma kerja nyata, yang menjahit luka bangsa dengan tangan-tangan keikhlasan.
Menunaikan Amanah Kemanusiaan
Di bawah cahaya Sang Surya simbol pencerahan Muhammadiyah hadir menjawab dahaga umat akan keberdayaan. Ketika kebodohan menjadi akar kemiskinan, ia mendirikan sekolah. Ketika keterbatasan ekonomi mengancam masa depan anak-anak yatim, ia membangun panti asuhan. Dan Ketika kesehatan menjadi barang mahal bagi rakyat kecil, ia menghadirkan rumah sakit dan layanan medis yang menjangkau mereka yang kerap terpinggirkan. Semua dilakukan bukan untuk meneguhkan identitas kelompok, tetapi untuk menunaikan amanah kemanusiaan.
Yang menarik, langkah pengabdian Muhammadiyah hampir selalu berjalan dengan “kepak sayap yang tenang”. Tidak hiruk-pikuk, tidak gemar memamerkan jasa. Amal dijalankan sebagai ibadah, bukan sebagai komoditas pujian. Dalam sikap inilah tersimpan kedewasaan gerakan: bahwa bekerja untuk umat tidak membutuhkan tepuk tangan, melainkan keteguhan niat dan konsistensi nilai.
Lebih dari satu abad, Muhammadiyah mengajarkan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada simbol, tetapi harus terwujud dalam transformasi sosial. Tajdid pembaruan yang diusungnya bukan sekadar wacana intelektual, melainkan keberanian membaca zaman dan menjawabnya dengan solusi yang berakar pada nilai Islam. Amar ma’ruf nahi munkar tidak diterjemahkan sebagai kemarahan, tetapi sebagai ikhtiar membangun kebaikan secara sistematis dan berkelanjutan.
Menjaga Nurani Publik
Dalam konteks kebangsaan, Muhammadiyah telah menempatkan dirinya sebagai suluh. Ia tidak larut dalam politik praktis yang memecah belah, namun tetap hadir menjaga nurani publik. Ia mengajarkan bahwa mencintai Indonesia tidak harus dengan retorika berlebihan, melainkan dengan kerja-kerja sunyi yang memperkuat fondasi masyarakat: pendidikan, kesehatan, dan kepedulian sosial. Di sinilah nasionalisme bertemu dengan iman, dan keislaman menjelma sebagai rahmat bagi semesta.
Hari ini, ketika tantangan umat dan bangsa semakin kompleks disrupsi teknologi, krisis moral, ketimpangan sosial langkah pengabdian itu dituntut untuk terus berlanjut. Bukan dengan mengulang romantisme masa lalu, tetapi dengan menyalakan kembali spirit awal: keikhlasan, keberanian berpikir maju, dan kesetiaan pada amal. Muhammadiyah tidak boleh sekadar besar secara institusi, tetapi harus tetap jernih secara ruhani.
Akhirnya, langkah pengabdian yang panjang ini mengajarkan kita satu hal penting: bahwa amal yang ikhlas akan menemukan jalannya sendiri dalam sejarah. Lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah membuktikan bahwa suluh yang dinyalakan dengan iman dan ilmu tidak mudah padam. Ia terus menerangi, bukan hanya untuk satu golongan, tetapi bagi Indonesia dan umat manusia seluruhnya. (Oleh : Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat Indonesia)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
