SURAU.CO – Di lantai masjid yang sederhana, di atas sajadah yang tak selalu empuk, duduk orang-orang dengan posisi yang sama: menunduk, diam, dan khusyuk. Tidak semua yang hadir membawa mushaf. Tidak semua mengangkat tangan tinggi-tinggi. Namun hampir dapat dipastikan, setiap hati yang hadir membawa satu doa yang sama: harapan agar anak-anak mereka dekat dengan Al-Qur’an.
Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar target pendidikan, bukan pula ambisi sosial. Ia adalah doa panjang orang tua yang sering kali tak terdengar, namun dicatat rapi oleh langit.
Hafalan Al-Qur’an Bukan Hanya Kuatnya Ingatan
Banyak orang keliru memandang hafalan Al-Qur’an semata soal kecerdasan. Seolah anak yang hafal Al-Qur’an pasti anak yang cepat menangkap pelajaran. Padahal para ulama sepakat, Al-Qur’an tidak menetap di dada kecuali pada hati yang dijaga Allah.
Karena itu, mendoakan anak agar hafal Al-Qur’an sejatinya adalah doa agar:
Allah melembutkan hatinya
Allah menjaga akhlaknya
Allah menenangkan jiwanya
Allah mengikat hidupnya dengan petunjuk
Hafalan bisa hilang, tetapi cinta kepada Al-Qur’an yang ditanam dengan doa tidak pernah benar-benar sirna.
Doa Orang Tua: Kunci yang Tak Pernah Ditolak
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Doa orang tua memiliki posisi istimewa. Bahkan ketika orang tua itu merasa dirinya belum sempurna, doanya tetap memiliki nilai besar di sisi Allah. Karena Allah menilai ketulusan, bukan kelayakan.
Maka ketika seorang ayah atau ibu memohon:
“Ya Allah, jadikan anakku penjaga Kalam-Mu,”
Sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu rahmat yang luas.
Mendoakan, Bukan Memaksa
Salah satu ujian orang tua adalah keinginan baik yang berubah menjadi tekanan. Menginginkan anak hafal Al-Qur’an adalah cita-cita mulia, tetapi Al-Qur’an tidak tumbuh di hati yang dipaksa, melainkan di hati yang dicintai.
Doa mengajarkan kita bersabar. Doa mendidik kita untuk menyerahkan hasil kepada Allah. Karena tugas orang tua bukan memastikan anak cepat hafal, tetapi menjaga agar anak tidak jauh dari Al-Qur’an.
Kadang anak belum hafal banyak ayat, tetapi ia menjaga adab kepada mushaf. Itu sudah pertanda kebaikan. Kadang hafalan belum lancar, tetapi ia senang mendengar tilawah. Itu pun bagian dari pertumbuhan.
Teladan Lebih Kuat daripada Target
Anak belajar bukan dari apa yang diperintahkan, tetapi dari apa yang ia lihat. Maka doa yang paling kuat sering kali dibungkus dengan teladan:
Orang tua yang membuka hari dengan Al-Qur’an
Orang tua yang menenangkan diri dengan ayat-ayat Allah
Orang tua yang menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan hidup
Dalam kondisi seperti itu, doa dan suasana saling menguatkan.
Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa hati anak ibarat permata yang belum terukir. Apa yang sering ia saksikan, itulah yang akan menetap lama.
Doa yang Diajarkan Al-Qur’an
Allah ﷻ mengabadikan doa keluarga orang-orang saleh:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Menjadi penyejuk mata bukan berarti sempurna tanpa cela, tetapi anak yang mengingatkan kita kepada Allah, salah satunya melalui Al-Qur’an.
Ketika Doa Tak Langsung Dikabulkan
Ada orang tua yang bertahun-tahun mendoakan anaknya hafal Al-Qur’an, namun hasilnya belum terlihat. Jangan berburuk sangka. Bisa jadi Allah sedang:
Menyiapkan waktunya
Menguji kesabaran orang tua
Mengganti dengan keberkahan lain
Atau menyimpan pahala doa itu untuk akhirat
Karena tidak ada doa yang sia-sia. Yang ada hanya doa yang belum kita pahami bentuk jawabannya.
Penutup: Doa yang Mengalir Diam-Diam
Di majelis-majelis sunyi, di masjid-masjid kampung, di lantai sajadah yang sederhana, doa-doa itu terus mengalir. Tidak semua anak menjadi hafizh, tetapi setiap doa orang tua menjadi cahaya yang menemani langkah anaknya.
Dan bisa jadi, di hari ketika orang tua itu telah tiada, Al-Qur’an yang pernah ia doakan untuk anaknya datang memberi syafaat, bukan hanya untuk sang anak, tetapi juga untuk dirinya.
Karena mendoakan anak hafal Al-Qur’an bukan sekadar berharap hafalan, melainkan menitipkan generasi kepada penjagaan Allah. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
