SURAU.CO – Antara Keyakinan Tauhid, Ikhtiar Nyata, dan Ujian Kehidupan. Kalimat ini tampak sederhana, bahkan terasa sangat “populer” di telinga generasi hari ini. Namun jika direnungi secara mendalam, ia menyimpan makna tauhid yang sangat kuat.
Kalimat ini bukan sekadar motivasi emosional, melainkan pernyataan akidah: siapa sandaran hidupnya adalah Allah, maka perjalanan hidupnya tidak akan sia-sia, meskipun penuh luka, jatuh bangun, dan kepayahan.
Namun di sinilah pentingnya refleksi ilmiah dan keimanan: apa makna “terjamin sampai finish” dalam pandangan Islam? Apakah ia berarti hidup tanpa masalah? Atau jalan yang selalu mulus? Atau justru sebuah jaminan yang jauh lebih agung dari sekadar kenyamanan dunia?.
Allah sebagai “Backing” Utama: Makna Tauhid Rububiyyah
Dalam Islam, menjadikan Allah sebagai sandaran hidup bukan sekadar klaim lisan, tetapi konsekuensi dari tauhid rububiyyah dan uluhiyyah. Allah adalah Rabb pengatur, pemelihara, dan penentu segala urusan.
Allah berfirman:
“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taghabun: 13)
Tawakal bukan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. Ketika Allah menjadi “backing”, maka seseorang tidak menggantungkan harapan pada makhluk, jabatan, relasi, atau materi. Ia bekerja, berjuang, dan melangkah namun hatinya tetap bergantung pada Allah semata.
Inilah fondasi ketenangan seorang mukmin. Ia tahu bahwa dunia ini tidak sepenuhnya ramah, tetapi Rabb-nya Maha Adil.
Hidup Sulit Bukan Tanda Allah Meninggalkan
Kesalahan berpikir yang sering terjadi adalah menganggap bahwa jika Allah “memback-up” seseorang, maka hidupnya harus mudah. Padahal Al-Qur’an justru menegaskan sebaliknya.
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’ sementara mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Kesulitan hidup bukan tanda Allah menjauh, melainkan alat seleksi keimanan. Orang yang menjadikan Allah sebagai sandaran justru akan diuji: diuji kesabaran, kejujuran, keikhlasan, dan keteguhan prinsipnya.
Para nabi adalah bukti paling nyata. Nabi Muhammad ﷺ diboikot, dicaci, disakiti, bahkan diusir. Namun apakah hidup beliau gagal? Justru beliau mencapai “finish” paling sempurna: ridha Allah dan kemuliaan abadi.
“Finish” Menurut Islam: Bukan Sekadar Sukses Dunia
Inilah titik krusial yang sering dilupakan. Kata “finish” dalam perspektif dunia sering diartikan sebagai kaya, terkenal, atau berhasil secara materi. Namun Islam mengajarkan bahwa finish sejati adalah husnul khatimah dan keselamatan akhirat.
Allah berfirman:
“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Maka seseorang bisa saja hidupnya penuh luka, tidak terkenal, tidak kaya, bahkan wafat dalam kesederhanaan namun jika imannya terjaga hingga akhir, ia telah “finish” dengan sempurna.
Sebaliknya, seseorang bisa tampak sukses di dunia, tetapi kehilangan arah, nilai, dan iman maka sejatinya ia gagal sebelum garis akhir.
Antara Tawakal dan Ikhtiar: Kesalahan yang Sering Terjadi
Menjadikan Allah sebagai backing bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Rasulullah ﷺ menegur keras sikap pasif yang berlindung di balik agama.
Dalam hadis disebutkan:
“Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.” (HR. At-Tirmidzi)
Ini adalah prinsip keseimbangan Islam: usaha maksimal, doa yang sungguh-sungguh, dan penyerahan total kepada Allah. Orang yang benar-benar menjadikan Allah sandarannya akan bekerja dengan jujur, disiplin, dan amanah karena ia sadar Allah Maha Melihat.
Tawakal tanpa ikhtiar adalah kemalasan yang dibungkus religiusitas. Sebaliknya, ikhtiar tanpa tawakal adalah kesombongan yang halus.
Ketenangan Batin: Buah dari Sandaran yang Benar
Salah satu bukti bahwa Allah menjadi “backing” seseorang adalah ketenangan batinnya, bukan absennya masalah. Ia boleh menangis, lelah, bahkan jatuh tetapi ia tidak putus asa.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketika sandaran hidup adalah Allah, maka kegagalan tidak menghancurkan jati diri, dan keberhasilan tidak melahirkan kesombongan. Semua dipandang sebagai amanah dan ujian.
Inilah yang membedakan orang beriman dengan yang hanya mengandalkan dunia: ketahanan mental dan spiritual.
Relevansi Pesan Ini di Zaman Krisis Makna
Di era hari ini, banyak orang mengalami krisis arah hidup. Tekanan ekonomi, kompetisi sosial, dan tuntutan citra diri membuat manusia mudah cemas dan rapuh.
Dalam kondisi seperti ini, pesan pada gambar tersebut menjadi sangat relevan asal dipahami dengan benar.
Menjadikan Allah sebagai backing bukan berarti hidup bebas dari stres, tetapi memiliki tempat pulang saat dunia menolak. Ia tahu kepada siapa harus mengadu, kepada siapa harus berharap, dan kepada siapa harus Meminta. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
