Khazanah
Beranda » Berita » Ketika Hati Perlu Pulang: Menata Diri di Tengah Riuh Dunia

Ketika Hati Perlu Pulang: Menata Diri di Tengah Riuh Dunia

Ketika Hati Perlu Pulang: Menata Diri di Tengah Riuh Dunia
Ketika Hati Perlu Pulang: Menata Diri di Tengah Riuh Dunia

 

SURAU.CO – Ada masa dalam hidup ketika langkah terasa cepat, tetapi arah justru kabur. Aktivitas padat, target demi target tercapai, namun hati seperti tertinggal di belakang. Kita bergerak, namun tidak selalu berjalan menuju Allah. Kita sibuk, tetapi tidak selalu tenang. Pada titik inilah jiwa seakan berbisik lirih: “Sudahkah engkau pulang?”

Islam tidak pernah menafikan kesibukan dunia. Bahkan, bekerja dan berjuang mencari nafkah adalah bagian dari ibadah jika diniatkan dengan benar. Namun Islam juga mengingatkan bahwa kesibukan tanpa kesadaran ruhani dapat menjadikan hati keras, lalai, dan mudah kehilangan arah. Allah ﷻ berfirman:

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan spiritual, tetapi juga prinsip psikologis dan eksistensial. Manusia diciptakan dengan kebutuhan ruhani. Ketika kebutuhan ini diabaikan, kegelisahan muncul meski secara materi segalanya tampak cukup.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Hidup yang Bergerak, Tapi Tidak Selalu Bertumbuh

Tidak semua perubahan adalah pertumbuhan. Ada kalanya hidup hanya bergerak secara horizontal berpindah dari satu rutinitas ke rutinitas lain tanpa peningkatan kualitas iman dan akhlak. Kita menua secara biologis, tetapi tidak selalu dewasa secara spiritual.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari)

Waktu luang bukan hanya soal jam kosong, tetapi juga ruang batin untuk merenung, mengevaluasi, dan memperbaiki diri. Ketika ruang ini tidak pernah kita sediakan, hati pelan-pelan kehilangan kepekaan. Yang salah terasa biasa, yang lalai dianggap wajar.

Kesadaran sebagai Titik Awal Hijrah

Perubahan sejati dalam Islam tidak dimulai dari tampilan luar, tetapi dari kesadaran batin. Inilah makna hijrah yang paling mendasar: berpindah dari kelalaian menuju kesadaran, dari kebiasaan yang menjauhkan menuju amal yang mendekatkan.

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Allah ﷻ tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran dalam kembali. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali hartanya yang hilang di padang pasir. Ini menunjukkan bahwa pintu pulang selalu terbuka, selama ada niat untuk melangkah.

Namun sering kali, yang membuat kita tertunda bukan dosa itu sendiri, melainkan merasa terlalu kotor untuk kembali. Padahal, justru karena kitalah yang kotor, kita membutuhkan taubat.

Merawat Hati di Tengah Tekanan Zaman

Zaman ini menekan manusia dengan standar-standar yang melelahkan: harus cepat, harus terlihat berhasil, harus selalu kuat. Akibatnya, banyak orang tersenyum di luar tetapi rapuh di dalam. Dalam perspektif Islam, hati yang tidak dirawat akan mudah ditumbuhi penyakit: riya’, hasad, ujub, dan cinta dunia berlebihan.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa hati ibarat cermin. Jika ia kotor, maka kebenaran tidak akan terpantul dengan jernih. Oleh karena itu, ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan proses pembersihan dan penjernihan batin.

Shalat, misalnya, bukan hanya gerakan fisik lima waktu, tetapi dialog eksistensial antara hamba dan Rabb-nya. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan pengendalian diri. Dzikir bukan pengulangan kata, melainkan upaya menghadirkan Allah dalam kesadaran sehari-hari.

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Belajar Pelan di Jalan yang Benar

Salah satu penyakit zaman modern adalah tergesa-gesa dalam segala hal, termasuk dalam beragama. Ingin cepat terlihat baik, ingin segera diakui saleh. Padahal, iman tidak tumbuh dengan paksaan, melainkan dengan istiqamah dalam proses kecil yang jujur.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. al-‘Ankabut: 69)

Ayat ini menegaskan bahwa petunjuk adalah hadiah bagi kesungguhan, bukan hasil instan. Maka tidak mengapa melangkah pelan, asalkan tidak berhenti dan tidak berbalik arah.

Pulang Sebelum Benar-Benar Pergi

Kematian dalam Islam bukan ancaman kosong, tetapi pengingat penuh kasih. Ia mengajarkan bahwa waktu kita terbatas, dan kesempatan untuk memperbaiki diri tidak selalu panjang. Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. at-Tirmidzi)

Mengingat mati bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meluruskan prioritas. Agar kita tidak menunda taubat, tidak menyepelekan amal kecil, dan tidak terlalu bangga dengan pencapaian dunia yang sementara.

Menjadi Manusia yang Kembali

Pada akhirnya, hidup bukan tentang sejauh apa kita pergi, tetapi kepada siapa kita kembali. Dunia akan terus berisik, tuntutan akan terus datang, dan ujian akan silih berganti. Namun di tengah semua itu, selalu ada jalan pulang bagi hati yang mau jujur.

Pulang berarti mengakui keterbatasan. Dan pulang berarti bersedia belajar lagi. Pulang berarti menata ulang niat, memperbaiki ibadah, dan melunakkan hati.

Dan kabar baiknya, Allah ﷻ tidak pernah menutup pintu bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Bahkan satu langkah kecil menuju-Nya, akan dibalas dengan rahmat yang berlipat.

Maka jika hari ini hati terasa lelah, mungkin bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena kita terlalu jauh dari sumber ketenangan. Saatnya pulang. Bukan besok. Bukan nanti. Tetapi sekarang dengan niat yang jujur dan langkah yang sederhana. (Tengku Iskandar, M. Pd – Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.