SURAU.CO – Suatu hari ada seekor keledai diikat rapi di batang pohon. Ia tidak memberontak. Keledai itu patuh pada takdirnya: berdiri, menunggu, dan percaya bahwa dunia masih bisa dipercaya. Lalu datanglah setan, makhluk yang jarang bekerja kasar, tapi gemar memberi “sedikit dorongan”. Ia tidak membunuh, tidak memukul, tidak mencuri. Ia hanya membuka ikatan. Sederhana. Bahkan tampak baik.
Keledaipun Berjalan
Masuk kebun. Makan sayur. Tidak tahu bahwa satu langkah kecilnya akan memicu rangkaian tragedi besar. Istri pemilik kebun melihat tanamannya rusak. Marah. Emosi. Senapan diangkat. Keledai ditembak. Pemilik keledai datang, darahnya mendidih melihat hewan yang ia rawat mati sia-sia. Bertengkar. Membunuh. Pemilik kebun pulang, melihat istrinya terbujur kaku, lalu membalas dendam. Satu keledai, satu tali yang dilepas, dan banyak nyawa melayang.
Ketika setan ditanya, “Apa yang kau lakukan?” Ia menjawab santai, hampir seperti netizen di kolom komentar: “Aku hanya melepas keledai.”
Begitulah cara kejahatan modern bekerja. Tidak lagi dengan pisau, tapi dengan share. Tidak dengan racun, tapi dengan forward. Dan Tidak dengan kebencian terang-terangan, tapi dengan kalimat suci: “Saya hanya mengutip.” Dari media. Dari tangkapan layar. Dan dari akun anonim yang fotonya bunga, namanya pahlawan, tapi isinya tuduhan.
Fitnah hari ini jarang Berteriak
Ia berbisik. Datang dari media sosial, lalu disambut orang-orang yang merasa dirinya paling waras. Mereka bilang, “Ini kan data.” Padahal data tanpa verifikasi adalah gosip yang berpura-pura ilmiah. Bukti tanpa fisik hanyalah dugaan yang berdandan rapi. Ilmu pengetahuan bahkan hukum paling dasar selalu meminta kehadiran: siapa, di mana, kapan, bagaimana, dan bisa diuji ulang. Media sosial tidak mengenal itu. Ia hanya mengenal viral atau tidak.
Socrates, jauh sebelum ada Twitter dan WhatsApp Group, sudah memberi saringan sederhana sebelum kita bicara atau menyebar sesuatu. Katanya, saringlah dengan tiga hal:
Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini bermanfaat?
Jika tidak benar, itu kebohongan.
Dan Jika tidak baik, itu racun.
Jika tidak bermanfaat, itu sia-sia.
Dan jika ketiganya gagal, jangan sebarkan, meskipun itu menarik, meskipun itu sesuai dengan kebencian kita, meskipun itu membuat kita merasa paling pintar.
Setan hari ini tidak perlu bekerja keras. Cukup melepas satu tali. Sisanya, kita sendiri yang saling menembak, saling membunuh nalar, dan saling merasa paling benar. Keledai tetap keledai. Tapi manusia ketika berhenti menyaring bisa lebih berbahaya dari setan itu sendiri.
Karena setan hanya membuka ikatan.
Yang menekan pelatuk, menyebar fitnah, dan menganggapnya kebenaran itu sering kali kita. (Erwanto Puspoputro)
Renungan Diri: Hidup Seperti Anak Kecil, Anak Muda, Dewasa, dan Orang Tua
Hidup ini sejatinya adalah perjalanan kesadaran. Kita tidak hanya bertumbuh dalam usia, tetapi juga dalam cara memandang diri, sesama, dan Tuhan.
Saat kita seperti anak kecil,
hidup adalah rasa. Tangis dan tawa lahir tanpa topeng. Anak kecil mengajarkan kejujuran hati: lapar berkata lapar, senang berkata senang. Ia percaya tanpa banyak bertanya, menerima dunia apa adanya. Pada fase ini, kita belajar bahwa keikhlasan adalah kekuatan paling murni.
Saat kita menjadi anak muda,
hidup adalah pencarian. Energi meluap, idealisme membara, dan ego mulai membentuk jati diri. Kita menginginkan pengakuan, kebenaran, dan kemenangan. Sering kali kita jatuh, terluka, bahkan tersesat. Namun di sinilah kita menempa keberanian. Anak muda mengajarkan arti mencoba, meski belum tahu akhir jalan.
Saat kita menjadi dewasa
Hidup adalah tanggung jawab. Kita belajar menahan diri, memilih dengan bijak, dan memikul akibat dari setiap keputusan. Realitas perlahan menguji ego: keluarga, pekerjaan, amanah, dan waktu yang tak lagi longgar. Pada fase ini, kita belajar bahwa kebijaksanaan lahir dari kesabaran, bukan dari kemenangan semata.
Saat kita menjadi orang tua,
hidup adalah penyerahan. Kita mulai melepas banyak keinginan, menurunkan ambisi, dan mengarahkan pandangan ke makna. Kita sadar, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak yang kita tinggalkan sebagai kebaikan. Orang tua mengajarkan bahwa tenang adalah bentuk tertinggi dari kekuatan.
Maka, renungan terdalamnya adalah ini:
jangan pernah kehilangan hati anak kecil, semangat anak muda, tanggung jawab orang dewasa, dan kebijaksanaan orang tua.
Jika keempatnya hadir dalam satu jiwa,
hidup tidak lagi sekadar berjalan menuju akhir, tetapi pulang menuju makna. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
