Opinion
Beranda » Berita » Di Ujung Lumpur dan Harapan: Ketika 100 Galon Air Menjadi Nafas Kehidupan

Di Ujung Lumpur dan Harapan: Ketika 100 Galon Air Menjadi Nafas Kehidupan

Di Ujung Lumpur dan Harapan: Ketika 100 Galon Air Menjadi Nafas Kehidupan
Di Ujung Lumpur dan Harapan: Ketika 100 Galon Air Menjadi Nafas Kehidupan

 

SURAU.CO – Di hadapan lumpur yang masih basah dan jejak banjir yang belum sepenuhnya mengering, kami belajar kembali makna paling sederhana dari kehidupan: air. Sesuatu yang sering kita abaikan ketika keran mengalir lancar, berubah menjadi barang paling berharga saat bencana menyergap tanpa aba-aba. Di titik pengungsian Dayah Usen, Meurah Dua, Pidie Jaya, 100 galon air berdiri berjajar bukan sekadar benda, tetapi simbol harapan yang dititipkan Allah melalui tangan-tangan manusia.

Banjir bandang tidak hanya merobohkan rumah dan memutus jalan. Ia juga mengguncang rasa aman, meluluhlantakkan rutinitas, dan memaksa manusia belajar hidup dalam keterbatasan. Di tengah kondisi itu, seteguk air bersih bukan lagi soal pelepas dahaga, melainkan penjaga kehidupan. Ia menjadi sarana bersuci, kebutuhan anak-anak, orang tua, dan mereka yang sedang sakit. Dari air, ibadah tetap ditegakkan; dari air, harapan dipertahankan.

Apa yang terjadi hari itu bukan sekadar distribusi bantuan. Ia adalah pertemuan antara empati dan tanggung jawab iman. Tim IPARI Pidie Peduli, para relawan, dan para donatur datang dengan satu kesadaran yang sama: bahwa kemanusiaan tidak boleh berhenti pada rasa iba, tetapi harus menjelma menjadi aksi nyata. Dalam Islam, menolong sesama bukan pilihan tambahan, melainkan konsekuensi dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Seratus galon air mungkin tampak kecil di hadapan luasnya dampak bencana. Namun Allah tidak menilai sesuatu dari besarnya di mata manusia, melainkan dari keikhlasan dan ketepatan niat. Bisa jadi, satu galon yang sampai kepada seorang ibu dan anaknya menjadi sebab terjaganya kesehatan, atau satu galon yang digunakan untuk berwudhu menjadi sebab terangkatnya doa-doa yang tak terdengar manusia, tetapi didengar oleh langit.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Di titik ini, kita diingatkan bahwa ibadah tidak selalu berwujud sajadah dan tasbih. Mengangkat galon, mengatur distribusi, menenangkan korban, dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi semuanya bernilai ibadah ketika dilakukan karena Allah.

Inilah dakwah paling sunyi namun paling jujur: dakwah dengan perbuatan

Banjir bandang Pidie Jaya mengajarkan kita bahwa musibah tidak datang untuk memutus harapan, melainkan untuk menguji solidaritas. Ia membuka mata bahwa kita saling membutuhkan, dan bahwa harta yang kita miliki sesungguhnya hanyalah titipan. Ketika titipan itu dikeluarkan di saat yang tepat, ia berubah menjadi cahaya bukan hanya bagi penerima, tetapi juga bagi pemberi.

Ucapan terima kasih kepada seluruh tim IPARI Pidie Peduli, para relawan, donatur, dan seluruh pihak yang terlibat bukan sekadar formalitas. Ia adalah pengakuan bahwa kebaikan selalu lahir dari kebersamaan. Lebih dari itu, doa kami menyertai saudara-saudara penyintas banjir bandang Pidie Jaya: semoga Allah mengganti kehilangan dengan ketabahan, mengganti kesempitan dengan keluasan, dan mengganti air bah yang merusak dengan air yang menenangkan jiwa.

Di ujung lumpur dan harapan ini, kita belajar satu hal penting: hidup tidak selalu tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar yang kita bagikan. Dan terkadang, 100 galon air cukup untuk mengajarkan manusia kembali arti menjadi manusia. (Desember 2025, Titik Pengungsian Dayah Usen, Meurah Dua – Pidie Jaya)

 

SPBU, Energi Rakyat, dan Krisis Amanah Publik

 


Bagaimana Jika Ada Rasa Kecewa?

Kecewa adalah rasa yang sering datang tanpa diundang. Ia muncul saat harapan tidak berlabuh, saat doa terasa lama dikabulkan, atau ketika manusia yang kita percaya justru menjadi sebab luka. Namun dalam iman, kecewa bukan musuh. Ia adalah bahasa hati yang sedang belajar bersandar dengan cara yang lebih benar.

Sering kali kita mengira, orang beriman tidak boleh kecewa. Padahal para nabi pun merasakan sedih, perih, dan letih. Yang membedakan adalah ke mana rasa itu dibawa. Kecewa menjadi berbahaya ketika ia berujung pada protes kepada takdir, namun ia menjadi bernilai ibadah ketika mengantarkan kita kepada Allah dengan hati yang jujur dan tunduk.

Kecewa mengajarkan satu hal penting: manusia terbatas, Allah Mahaluas. Saat sandaran kepada makhluk runtuh, sesungguhnya Allah sedang mengajak kita memindahkan sandaran itu ke tempat yang tidak pernah rapuh. Bukan berarti berharap kepada manusia adalah dosa, tetapi menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada mereka sering kali membuat hati mudah patah.

Allah berfirman:

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah: 8)

Ayat ini bukan sekadar nasihat, tetapi arah hidup. Ketika kecewa datang, mungkin yang perlu kita luruskan bukan keadaan, melainkan arah berharap.

Kecewa juga bisa menjadi cermin. Ia memperlihatkan harapan-harapan yang terlalu tinggi, doa-doa yang belum disertai kesabaran, atau ikhtiar yang belum sepenuhnya ikhlas. Dalam kekecewaan, Allah sedang mendidik jiwa agar lebih dewasa: menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan.

Kecewa Dapat Berubah Menjadi Kebaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa bahkan kecewa pun bisa menjadi kebaikan—jika diolah dengan iman.

Maka, ketika kecewa mengetuk hati, jangan buru-buru mengusirnya. Dengarkan pesannya. Tanyakan pada diri: kepada siapa sebenarnya aku berharap? Lalu kembalikan hati kepada Allah, dengan doa yang lebih jujur, sujud yang lebih dalam, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah keliru menakar waktu.

Kecewa bukan akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi awal dari kedewasaan iman saat hati berhenti menggenggam makhluk terlalu erat, dan mulai berserah sepenuhnya kepada Sang Pemilik segala urusan.

Karena pada akhirnya, harapan yang disandarkan kepada Allah tak pernah benar-benar mengecewakan. (Tengku IskAndar, M. Pd – Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.