SURAU.CO – Ketika berbicara tentang rezeki, banyak orang secara otomatis membayangkannya sebagai harta, uang, atau materi. Seolah-olah rezeki hanya dapat dihitung dengan angka dan dilihat dengan mata. Padahal, dalam pandangan Islam, rezeki jauh lebih luas daripada itu. Ada rezeki yang tidak terlihat, tetapi sangat kita rasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Gambar di atas menunjukkan ribuan hamba Allah yang sedang berthawaf, memohon kepada Rabb yang Maha Menggenggam segala urusan. Di antara kerumunan itu, ada tangan-tangan yang terangkat tinggi, mengharap rahmat, mengharap ketenangan, mengharap kebaikan dunia dan akhirat. Itu adalah pemandangan yang mengingatkan kita bahwa rezeki terbesar sesungguhnya adalah ketika hati masih diberikan kemampuan untuk kembali kepada Allah.
Karena itu, benar apa yang tertulis dalam gambar:
“Rezeki tidak selamanya berbentuk harta. Hati tenang, badan sehat, dikelilingi orang-orang baik—itu semua pemberian Allah.”
Betapa banyak orang memiliki harta berlimpah namun hatinya gelisah. Betapa banyak yang memiliki kecukupan finansial tetapi hidupnya tidak pernah merasa cukup. Juga Betapa banyak yang terlihat kuat, namun jiwanya rapuh karena jauh dari Allah. Dan sebaliknya, ada manusia yang sederhana hidupnya, namun hatinya lapang, keluarganya harmonis, tubuhnya sehat, dan hidupnya penuh keberkahan—itulah rezeki yang lebih mahal daripada uang yang tidak pernah habis.
Hati Tenang Adalah Rezeki Terbesar
Allah berfirman:
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketika hati tenang, dunia terasa ringan. Masalah terasa bisa dihadapi. Ujian menjadi ladang pahala. Tidak semua orang diberi nikmat seperti ini. Banyak orang hidup di tengah keramaian tetapi hatinya sunyi.
Banyak yang terlihat bahagia, namun jiwanya penuh luka. Maka jika Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati kita walaupun hidup belum sempurna ketahuilah, itu rezeki besar yang tidak bisa diganti dengan apapun.
Tubuh Sehat Adalah Rezeki yang Sering Terlupakan
Seseorang baru menyadari betapa berharganya sehat ketika sakit datang. Baru terasa bahwa berjalan tanpa bantuan, bernafas tanpa sesak, makan tanpa nyeri, tidur tanpa obat—adalah nikmat yang luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Jika hari ini tubuh masih bisa sujud, tangan masih bisa diangkat untuk berdoa, kaki masih mampu melangkah ke masji — itu rezeki yang harus disyukuri setiap detik.
Dikelilingi Orang Baik: Nikmat Sosial yang Mulia
Tidak semua orang diberi teman yang baik. Tidak semua diberi pasangan yang mendukung. Serta Tidak semua diberi keluarga yang saling mengingatkan kepada Allah.
Maka apabila Allah mengelilingi kita dengan orang-orang yang shalih, yang tidak menjerumuskan, yang doanya tulus, yang kata-katanya menenangkan hati—itu adalah rezeki yang sangat mahal.
Orang baik adalah penjaga iman kita. Mereka tempat kita bersandar ketika lelah, teman dalam doa, dan saudara dalam perjalanan menuju jannah.
Kesimpulan
Rezeki bukan hanya angka dalam rekening, tetapi juga bukan rumah dan kendaraan, dan bukan jabatan atau popularitas.
Rezeki adalah:
Hati yang tenang
Jiwa yang damai
Tubuh yang sehat
Keluarga yang saling menyayangi
Sahabat yang mengingatkan,
Lingkungan yang membawa kepada Allah
Dan bila semuanya itu masih ada dalam hidup kita, maka sesungguhnya Allah telah memberi kita karunia yang sangat besar.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur, bukan hanya atas apa yang terlihat, tetapi juga atas nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. (Tengku Iskandar,M.Pd’ Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
