SURAU.CO – Setelah intensitas perlawanan kaum kafir Quraisy semakin memuncak di Makkah, kehidupan umat Muslim menjadi sangat sulit. Mereka menghadapi berbagai bentuk intimidasi dan penyiksaan. Ini termasuk ejekan, celaan, hingga kekerasan fisik yang brutal. Situasi ini mendorong Rasulullah Muhammad SAW untuk mencari solusi demi keselamatan para pengikutnya. Akhirnya, beliau menemukan sebuah negeri yang menjanjikan keadilan: Habasyah, atau yang kini kita kenal sebagai Ethiopia. Keputusan ini menandai langkah strategis pertama dalam sejarah dakwah Islam.
Inspirasi Ilahi untuk Berhijrah
Memasuki pertengahan tahun keempat kenabian, teror dan penyiksaan terhadap kaum Muslimin semakin menjadi-jadi. Orang-orang kafir Quraisy menekan mereka dengan sangat keras. Dalam kondisi yang sulit ini, Allah menurunkan Surat Al-Kahfi. Surat ini memberikan inspirasi dan harapan baru bagi kaum Muslimin. Di dalamnya terdapat tiga kisah utama: Ashabul Kahfi, Khidhr dan Musa, serta Dzul Qarnain.
Kisah Ashabul Kahfi, khususnya, memberikan ilham tentang hijrah. Para pemuda yang beriman dalam kisah itu memilih untuk mengasingkan diri demi menjaga agama mereka. Allah SWT berfirman:
“وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا”
Artinya: “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16)
Mendapatkan inspirasi ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memerintahkan sebagian sahabat untuk berhijrah ke Habasyah. Beliau mengetahui bahwa pemimpin Habasyah saat itu, Ashhamah An-Najasyi, adalah seorang raja yang adil. Raja Najasyi tidak akan membiarkan siapa pun terzalimi di hadapannya.
Hijrah Pertama ke Habasyah (Tahun Kelima Kenabian)
Pada bulan Rajab, tahun kelima kenabian, rombongan pertama pun berangkat menuju Habasyah. Mereka berjumlah 12 laki-laki dan 4 wanita. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memimpin rombongan tersebut. Para sahabat ini bergerak secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Meskipun demikian, gerakan mereka terendus oleh orang-orang kafir Quraisy.
Ketika kaum Quraisy tiba di pantai, rombongan kapal yang dinaiki para muhajirin telah berangkat. Mereka berhasil lolos dari kejaran. Di Habasyah, para muhajirin dapat hidup dengan aman. Mereka merasa terlindungi dari kekejaman Quraisy.
Namun, kabar tak terduga datang pada bulan Syawal. Para muhajirin mendengar berita bahwa orang-orang Quraisy telah masuk Islam. Dengan penuh harapan, mereka memutuskan pulang ke Makkah. Mendekati Makkah, barulah para muhajirin mengetahui bahwa kabar tersebut adalah hoaks. Orang-orang Quraisy belum masuk Islam. Mereka hanya bersujud karena terpesona dengan Al-Qur’an. Ini terjadi ketika Rasulullah membaca Surat An-Najm di hadapan mereka.
Firman Allah SWT dalam Surat An-Najm ayat 62:
“فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا”
Artinya: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (QS. An-Najm: 62)
Menyadari kesalahpahaman itu, para muhajirin kembali masuk ke Makkah secara sembunyi-sembunyi. Ada pula di antara mereka yang masuk ke Makkah dengan jaminan keamanan dari tokoh-tokoh yang mereka kenal.
Hijrah Kedua ke Habasyah: Cobaan dan Keteguhan Iman
Tekanan dan siksaan dari orang-orang Quraisy semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, Rasulullah kembali memerintahkan hijrah untuk kedua kalinya. Hijrah kedua ini terasa lebih sulit. Pasalnya, kaum Quraisy semakin meningkatkan kewaspadaan mereka. Namun, Allah memudahkan 83 laki-laki dan 18 wanita untuk berangkat menuju Habasyah.
Diplomasi Quraisy Menghadap Najasyi
Mengetahui banyak kaum Muslimin yang hidup aman di Habasyah, para pemuka Quraisy tidak mau tinggal diam. Mereka segera mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah. Keduanya membawa berbagai hadiah dan persiapan diplomasi untuk menghadap Raja Najasyi.
Setelah mendekati para uskup penasehat Najasyi dengan berbagai hadiah, keduanya pun bertemu dengan Raja. Amr bin Ash, yang memang pandai beretorika sejak masa jahiliyah, memulai provokasinya. “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya ada sejumlah orang bodoh dari negeri kami yang telah menyusup ke negeri Tuan,” katanya. “Mereka ini memecah belah agama kaumnya, juga tidak mau masuk ke agama Tuan. Mereka datang dengan membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri.” Amr bin Ash meminta Najasyi mengembalikan kaum Muslimin ke Makkah dengan berbagai alasan. Para uskup yang telah diberi hadiah pun ikut menguatkan perkataan Amr bin Ash.
Pembelaan Ja’far bin Abu Thalib
Namun, Raja Najasyi yang dikenal adil itu tidak mau langsung mengambil keputusan. Ia memanggil delegasi kaum Muslimin untuk dikonfrontasi. “Seperti apakah agama kalian sehingga memecah belah kaum dan kalian juga tak masuk agama kami?” tanyanya.
Ja’far bin Abu Thalib, sang juru bicara muhajirin, menjawab dengan tegas. “Wahai Tuan Raja,” katanya, “Dulu kami memeluk agama jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutus persaudaraan, menyakiti tetangga dan yang kuat menzalimi yang lemah. Lalu Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami sendiri yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya.”
Ja’far kemudian menjelaskan ajaran Islam secara rinci. Ia memaparkan bagaimana agama tersebut mengubah perilaku-perilaku jahiliyah menjadi kebaikan. Namun, kaumnya memusuhi dan menyiksa kaum Muslimin. “Maka kami pun pergi ke negeri Tuan dan memilih Tuan daripada orang lain. Kami gembira mendapat perlindungan Tuan dan berharap agar kami tidak dizalimi di sisi Tuan,” pungkas Ja’far.
Kesaksian Najasyi atas Kebenaran Islam
Selanjutnya, Najasyi meminta dibacakan sebagian ajaran Nabi Muhammad. Ketika Ja’far membaca awal Surat Maryam, Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya. “Sesungguhnya ini dan yang dibawa Isa benar-benar keluar dari satu cahaya yang sama,” ucapnya.
Amr bin Ash tidak menyerah begitu saja. Esoknya, ia datang lagi menghadap Najasyi. Ia memprovokasi bahwa Nabi Muhammad bicara yang tidak-tidak tentang Isa. Kaum Muslimin pun dipanggil untuk kembali dikonfrontasi.
Kaum Muslimin sempat khawatir kalau Najasyi marah. Namun, Ja’far bertekad mengatakan yang sebenarnya. “Wahai Tuan Raja, kami katakan seperti yang dikatakan Nabi kami bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, sang perawan suci,” jelas Ja’far.
Mendengar itu, Najasyi mengambil sebatang lidi dari lantai. “Demi Allah, perbedaan Isa bin Maryam dari apa yang kau katakan tadi tak lebih besar dari batang lidi ini,” kata Najasyi. Ini adalah pengakuan kuat dari seorang Raja yang adil.
Hidup Aman di Habasyah dan Tantangan Iman
Amr bin Ash dan rombongannya akhirnya pulang ke Makkah dengan tangan hampa. Mereka gagal mempengaruhi Najasyi untuk mendeportasi kaum Muslimin. Propaganda mereka yang menjelekkan para sahabat pun mentah. Para pemuka Quraisy hanya bisa kecewa dan marah atas kegagalan ini.
Di Habasyah, kaum Muslimin bisa tinggal dengan aman dan tenang. Mereka bebas beribadah tanpa gangguan. Mereka merasakan kebebasan berislam tanpa disakiti dan dicelakai. Lingkungan yang damai ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperkuat iman.
Meskipun demikian, bukan berarti di Habasyah kaum Muslimin tidak menghadapi godaan. Dalam keseharian yang nyaman, justru ada yang terseret dalam gemerlap dunia hiburan. Akibatnya, ada yang murtad meninggalkan Islam. Salah satunya adalah Ubaidillah bin Jahsy, suami dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan.
Dalam kondisi yang sangat sedih, Ummu Habibah menerima lamaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ummu Habibah menerimanya dengan penuh kesyukuran. Maka, jadilah ia ummul mukminin, meskipun masih terpisah jarak.
Kelak, kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah ini mendengar kabar gembira. Mereka tahu Rasulullah telah hijrah ke Madinah dan meraih kemenangan demi kemenangan. Maka, mereka pun menyusul Rasulullah hijrah ke Madinah. Ja’far dan orang-orang asy’ariyyin baru menyusul ke Madinah seusai perang Khaibar.
Rasulullah menyambut mereka dengan sangat bahagia. Beliau bersabda, “Demi Allah, aku tidak tahu manakah di antara keduanya yang membuatku bergembira; penaklukan Khaibar atau kedatangan Ja’far.” Kisah ini menunjukkan betapa besar nilai kebersamaan.
Hikmah dari Hijrah ke Habasyah
Peristiwa Hijrah ke Habasyah ini memberikan banyak hikmah berharga. Pertama, ia menunjukkan pentingnya mencari perlindungan untuk agama. Saat tekanan tidak tertahankan, seorang Muslim harus mencari cara untuk menyelamatkan imannya. Kedua, keteguhan iman para sahabat teruji. Mereka rela meninggalkan kampung halaman demi menjaga akidah.
Ketiga, keadilan Raja Najasyi menjadi teladan pemimpin. Ia tidak mudah terpengaruh provokasi dan selalu mengutamakan kebenaran. Keempat, kemampuan diplomasi Ja’far bin Abu Thalib sangat menonjol. Ia berhasil membela Islam dengan argumen yang kuat dan menyentuh hati. Kelima, tantangan iman tidak hanya datang dari luar. Godaan duniawi dalam kenyamanan juga bisa menguji keimanan seseorang. Keenam, dukungan dari pemimpin yang adil sangat vital. Ini memberikan ruang bagi Islam untuk tumbuh dan berkembang.
Dengan memahami peristiwa Hijrah ini, kita belajar tentang arti pengorbanan, keberanian, dan kebijaksanaan dalam berdakwah. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari fondasi sejarah Islam yang mengajarkan ketabahan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
