SURAU.CO – Dalam khazanah keilmuan Islam, kitab Tafsir al-Jalalain menduduki posisi yang sangat istimewa. Keistimewaannya terletak pada fakta bahwa dua ulama besar dengan nama yang sama, Jalaluddin, menyusunnya di dua masa yang berbeda. Mereka adalah Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi.
Imam Jalaluddin al-Mahalli memulai penyusunan Tafsir al-Jalalain pada tahun 1459 M. Nama lengkapnya adalah Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli, seorang ulama besar asal Mesir yang menguasai tafsir, fiqih, dan ushul fiqih dalam mazhab Syafi’i.
Al-Mahalli menulis tafsir ini dengan cara yang sangat sistematis. Ia memulai penafsirannya dari Surat al-Kahfi hingga Surat an-Naas, lalu kembali ke awal Al-Qur’an, yaitu Surat al-Fatihah dan Surat al-Baqarah. Namun, sebelum menyelesaikan tafsir seluruh Al-Qur’an, beliau wafat pada tahun 1460 M.
Meski belum menyelesaikan seluruh Al-Qur’an, al-Mahalli berhasil menampilkan gaya tafsir yang sangat khas. Ia menulis dengan bahasa yang ringkas namun padat, dan menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan jelas tanpa bertele-tele. Ia berusaha membantu pembaca memahami makna ayat melalui kalimat-kalimat singkat yang langsung menuju inti pesan.
Dilanjutkan oleh Sang Murid, Jalaluddin as-Suyuthi
Setelah gurunya wafat, Imam Jalaluddin as-Suyuthi melanjutkan penulisan tafsir ini pada tahun 1505 M. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abi Bakar Jalaluddin as-Suyuthi, seorang ulama besar dari Mesir yang terkenal karena produktivitas dan keluasan ilmunya. Ia menguasai berbagai bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, fiqih, bahasa Arab, dan sejarah Islam.
Sebagai murid yang berbakti, as-Suyuthi sangat menghormati gurunya. Ia bertekad kuat untuk menyempurnakan karya al-Mahalli agar umat Islam dapat menikmati tafsir Al-Qur’an secara lengkap. Dengan ketajaman ilmunya, ia menulis tafsir untuk bagian Surah al-Baqarah hingga Surah al-Isra’.
Dengan langkah itu, as-Suyuthi menyatukan karyanya dengan tulisan sang guru sehingga terbentuk satu tafsir utuh. Ia mengikuti metode dan gaya penulisan al-Mahalli dengan sangat cermat, sehingga kedua bagian kitab ini tampak menyatu.
Tafsir al-Jalalain memiliki keunggulan utama pada gaya bahasa yang ringkas, padat, dan lugas . Kedua penulisnya menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung tanpa banyak tambahan kisah, analisis panjang, atau penjelasan yang berbelit. Mereka menafsirkan setiap ayat dengan menjelaskan arti kata, struktur bahasa, serta makna umum yang terkandung di dalamnya.
Gaya ini membuat Tafsir al-Jalalain sangat mudah dipelajari oleh para pelajar dan santri. Banyak pesantren menjadikannya kitab rujukan dasar bagi santri yang ingin memahami makna Al-Qur’an tanpa harus membaca uraian tafsir yang panjang. Bahasa yang digunakan sederhana, sehingga siapa pun yang sudah menguasai dasar tata bahasa Arab dapat memahami tafsir ini dengan baik.
Kedua ulama juga menjaga disiplin ilmiah dalam menyusun tafsirnya. Mereka menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendekatan klasik, yakni menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kemudian dengan hadis Nabi, disusul dengan pendapat para sahabat dan tabi’in. Mereka menolak menafsirkan ayat secara spekulatif dan selalu menjaga agar maknanya tetap sesuai dengan prinsip akidah Islam.
Kedalaman Ilmu di Balik Kesederhanaan
Meski tampak sederhana, Tafsir al-Jalalain menyimpan kedalaman ilmu yang luar biasa . Setiap kalimat dalam kitab ini menunjukkan keluasan pengetahuan penulisnya terhadap bahasa Arab, balaghah, dan konteks ayat. Di balik kalimat-kalimat singkatnya, terdapat pemikiran mendalam yang hanya bisa lahir dari kecerdasan dan ketelitian tinggi.
Para ulama memuji Tafsir al-Jalalain sebagai contoh karya “ringkas namun kaya makna” (mukhtashar ghaniyy) . Oleh karena itu, banyak pencetakan ilmu menggunakan kitab ini sebagai pintu masuk sebelum mempelajari tafsir yang lebih panjang seperti Tafsir al-Baidhawi atau Tafsir ath-Thabari.
Lembaga-lembaga keislaman klasik juga terus menjadikannya buku wajib. Para santri biasanya mempelajari kitab ini setelah mereka memahami ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah. Hal ini karena memahami Al-Jalalain membutuhkan kemampuan bahasa Arab yang baik agar makna yang terkandung di dalamnya bisa terserap dengan benar.
Pengaruh yang Luas di Dunia Islam
Sejak masa penyusunannya, Tafsir al-Jalalain telah menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam. Para ulama, santri, dan pencinta Al-Qur’an di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara mempelajarinya secara luas.
Di Indonesia, kitab ini mempunyai tempat yang sangat penting. Banyak pesantren menjadikan kitab ini sebagai rujukan utama dalam pengajaran tafsir. Sebagian santri bahkan menghafalkan teksnya karena isinya yang padat dan runtut. Selain itu, Tafsir al-Jalalain juga menginspirasi lahirnya berbagai karya tafsir berbahasa lokal yang membantu masyarakat memahami makna Al-Qur’an dengan lebih mudah.
Nama besar al-Mahalli dan as-Suyuthi turut memperkuat kedudukan kitab ini. Keduanya adalah ulama yang berhati-hati, berilmu luas, dan sangat menjaga kemurnian ajaran Islam. Mereka selalu menulis berdasarkan sumber-sumber otentik dari Al-Qur’an dan Sunnah, bukan dari pendapat pribadi.
Lebih dari lima abad telah berlalu sejak kedua ulama besar ini menyelesaikan Tafsir al-Jalalain. Namun, kitab ini tetap hidup dan terus dipelajari hingga kini. Banyak ulama yang menulis syarah (penjelasan panjang) untuk memperluas pemahaman atas isi tafsir ini, sehingga generasi baru bisa terus menggali hikmah di dalamnya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
