Sosok
Beranda » Berita » Thoha Husein Pemikir Besar Mesir dan Pembaharu Sastra Arab

Thoha Husein Pemikir Besar Mesir dan Pembaharu Sastra Arab

Thoha Husein
Thoha Husein adalah salah satu pemikir, sastrawan dan budayaan Mesir yang berpengaruh

SURAU.CO. Dalam sejarah kontemporer sastra Arab, nama Thoha Husein sangat populer. Ia mendapatkan julukan amidul adabi arabi sebagai pelopor sastra Arab yang melakukan perombakan dalam gaya sastra Arab. Gelar tersebut bukan tanpa alasan, melalui gagasannya sastra Arab bertransformasi. Banyak penerbit di luar Mesi menerbitkan karyanya yang memiliki nilai besar bagi dunia Arab. Thaha Husein adalah salah satu tokoh yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah peradaban Islam dan dunia Arab.

Thoha Husein adalah sosok jenius. Ditengah ketidakmampuannya dalam melihat, karena sebab ia menjadi tunanetra, dunia sastra Arab kontemporer berubah karena kritikan tajamnya. Saat menjadi pengajar di Universitas Mesir, Husein berhasil membangunkan kembali kajian sastra Arab. Hal tersebut terlihat dari munculnya tokoh-tokoh sastra kala itu seperti Ahmad Amin, Abd al-Wahhab Azzam, Amin al-Khulli, Muhammad Khalafallah Ahmad dan Ahmad as Sayib. Dari mereka lahir pikiran-pikiran kritis sastra dan semaraknya kajian mengenai sastra itu sendiri.

Penulis Produktif

Selain sebagai kritikus sastra, Husein adalah penulis yang produktif atau prolifik. Karya karyanya tidak sebatas cerita pendek atau novel saja. Namun Husein juga produktif menulis essay, historiografi, autobiografi, terjemahan, hingga berkolaborasi dengan penulis lain. Sosok pria kelahiran 14 November 1889 ini juga terkenal sering berpolemik. Salah dengan Zakki Mubarak, sekretarisnya dan dengan sastrawan-sastrawan kontemporer lainnya seperti Haykal, Taufiq al-Hakim, Mansur Fahmi, al-Aqqad dan al Mazini.

Lahir di Ibyana, dekat Asyut, Mesir, Husein kecil sudah terkena penyakit mata ketika usianya menginjak 5 tahun. Ayahnya adalah pekerja penggilingan gula, namun tidak menjadi penghalang untuk menyekolahkan Husein ke univeritas Al Azhar, Kairo. Lingkungan mempunyai tradisi kuat akan dunia sastra. Ini yang membuatnya gandrung dengan dunia sastra. Perjalanan hidupnya, membawa Husein berkelana dalam dunia intelektual yang lebih luas. Meski gagal memperoleh gelar diploma di Al Azhar, penulis cerpen “Ra’il al-Ghanam” ini meneruskan studinya ke Universitas Mesir.

Beberapa orientalis memberikan dampak bagi gagasan Thoha Husein. Tidak sedikit yang kemudian berpengaruh pada pemikirannya. Orientalis tersebut antara lain Nallino dan Littman. Pada tahun 1914 akhirnya Husein meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul Zikraa Abii al A’laa dengan predikat cumlaude.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Kontroversi Bukunya

Universitas Sorbonne, Perancis menjadi tempat studinya kemudian. Hingga pada tahun 1918 meraih gelar Doktor dengan menulis tesis berjudul “La Philosophie Sociale d’Ibn Khaldun”. Tahun 1919 Thoha Husein balik ke Mesirdam mulai mengabdikan dirinya bagi negara. Pertama menjadi pendidik di Universitas Kairo sebagai guru besar Sejarah Klasik. Setelah itu menjadi Dekan Fakultas Sastra Universitas Kairo 1930-1932. Hal serupa juga dijabatnya pada 1936-1938).Tahun 1942 Husein menjadi Rektor Universitas Iskandaria hingga 1944. Kemudian tahun 1950 hingga 1952 menjadi Menteri Pendidikan Mesir

Salah satu karyanya adalah buku Fi al-Syi’r al-Jahiliyah yang terbit tahun tahun 1926. Buku ini menuai kontroversi dan banyak kecaman. Salah satu sebabnya adalah Husein menyebut bahwa yang dikenal dengan syair-syair jahili itu bukanlah yang sebenarnya Sastra Arab Jahiliyah, tetapi karangan-karangan yang timbul di zaman sesudah Islam. Menurutnya, syair jahiliyah itu merupakan tulisan ulama-ulama Islam sendiri untuk mendukung pendapat mereka dalam bidang tafsir, hadis dan teologi. Dalam buku ini Husein menggunakan metode kritis Barat untuk mempertanyakan otentisitas banyak puisi Arab Jahiliyah, yang dianggap menabrak tradisi keilmuan Islam yang sudah mapan.

Gagasan Untuk Bangsa Mesir

Buku lainnya adalah “Mustaqbal al-Tsaqafah al-Mishr yang terbit tahun 1938. Dalam karyanya ini, Thoha Husein menunjukkan pemikirannya tentang gagasan modernisasi bangsa Mesir yang merdeka dalam sesungguhnya. Tentang buku ini, ada sedikit bergeser dari kebiasaannya yaitu menulis sastra. Lewat buku ini Husein menuangkan gagasannya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Selain itu ada Husein juga menulis buku Falsafah Ibn Khaldun al-Ijtima’iyat, Mustaqbal al-Saqafah fi al-Mishr, al-Fitnah al-Kubra, al-Ayyam, Mir’ah al-Islam dan lain sebagainya. Thaha Husein wafat pada usia 84 Tahun tepatnya pada 28 Oktober 1973.

Tercatat Thaha Husein pernah menjadi Rektor Universitas lskandariyah hingga tahun 1944. Pada masa inilah ia menerapkan ide-ide tentang pendidikan. Pada tahun 1950 – 1952 menjabat sebagai Menteri Pendidikan Mesir. Saat menjadi menteri Husein berhasil menerapkangasan pendiidiaknnya yang populer seperti membebaskan uang sekolahdan memberikan kesempatan pendidikan seluas-luasnya bagi pria dan wanita. Saat menjadi menteri ini lahir ungkapannya yang sangat terkenal yaitu “ Pengajaran sangat penting bagi manusia, sebagaimana pentingnya udara dan air” Jabatan lain yang pernah disandangnya antara lain anggota Panitia Pertukaran Kebudayaan Timur dan Barat, anggota lembaga India untuk hubungan kebudayaan, anggota Academi des Incription et Belles Letters di Paris, anggota Real Academica de la Historia di Spanyol.

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.