Khazanah Pendidikan
Beranda » Berita » Makan Harta Haram: Mendurhakai Allah, Mengikuti Langkah Syaitan

Makan Harta Haram: Mendurhakai Allah, Mengikuti Langkah Syaitan

Makan Harta Haram: Mendurhakai Allah, Mengikuti Langkah Syaitan
Makan Harta Haram: Mendurhakai Allah, Mengikuti Langkah Syaitan. Gambar : SURAU.CO

SURAU.CO – Harta adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Melalui harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhannya, menafkahi keluarga, membantu sesama, serta beribadah kepada Allah. Namun, Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menggunakan harta, tetapi juga sangat menekankan bagaimana memperoleh harta itu. Harta yang halal membawa keberkahan, sedangkan harta haram menjadi sebab datangnya murka Allah dan kehancuran hidup. Fenomena mencari harta tanpa peduli halal-haram adalah tanda lemahnya iman dan mengikuti langkah-langkah syaitan.

Apa Itu Harta Haram?

Secara bahasa, haram berarti sesuatu yang Allah SWT larang. Bila melakukannya akan berdosa. Harta haram berarti harta yang diperoleh dengan cara yang Allah tidak ridhai, baik karena zatnya yang haram maupun karena cara memperolehnya yang melanggar syariat.

Islam menegaskan bahwa Allah hanya menerima sesuatu yang halal dan baik. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)

Dengan demikian, siapa pun yang mencari atau memakan harta haram berarti telah berani menentang perintah Allah, dan hatinya telah terpengaruh oleh bisikan syaitan yang menipu manusia agar mencintai dunia secara berlebihan.

Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam

Dalil Larangan Memakan Harta Haram

Larangan memakan harta haram sangat jelas dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.”
(QS. An-Nisa’: 29)

Dan dalam ayat lain, Allah berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 188)

Membangun Narasi Persatuan di Tengah Polarisasi: Belajar dari Kitab Al-Fashl Ibnu Hazm

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa memakan harta dengan cara yang batil — seperti menipu, mencuri, merampas, menerima suap, atau korupsi — adalah perbuatan dosa besar yang akan mengundang murka Allah.

Rasulullah juga bersabda:

“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih pantas baginya.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini memperingatkan bahwa makanan haram tidak hanya mengotori tubuh, tetapi juga menjauhkan seseorang dari rahmat Allah dan surga-Nya.

Makan Harta Haram Mengikuti Langkah Syaitan

Allah berfirman:

Politik Harapan: Menggerakkan Perubahan Tanpa Kekerasan melalui Keteguhan Iman

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. An-Nur: 21)

Syaitan tidak serta-merta menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran, tetapi menggoda langkah demi langkah, bermula dari hal kecil, hingga akhirnya manusia berani melanggar batas Allah.
Salah satu langkah yang sering syaitan gunakan adalah membuat manusia tergoda oleh harta. Syaitan membisikkan bahwa rezeki haram itu tidak apa-apa, bahwa semua orang melakukannya, atau bahwa Allah akan memaafkan nanti. Padahal, ini adalah tipu daya yang halus namun mematikan.

Ketika seseorang makan dari harta haram, ia sejatinya telah memilih jalan syaitan, karena telah menuruti hawa nafsu dan melanggar perintah Allah demi kesenangan dunia yang sementara.

Bentuk Harta Haram Masa Kini

Pada zaman modern kini, bentuk harta haram tidak hanya dalam bentuk mencuri atau merampok, tetapi bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus. Antara lain adalah:

  1. Korupsi dan penyalahgunaan jabatan.
    Mengambil uang negara, dana publik, atau fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi.
  2. Riba.
    Bunga bank, pinjaman berbunga, dan sistem keuangan yang menindas adalah bentuk riba yang jelas diharamkan.
  3. Suap dan gratifikasi.
    Menerima atau memberi uang untuk mendapatkan keuntungan tertentu, baik dalam bisnis maupun urusan pemerintahan.
  4. Penipuan dalam perdagangan.
    Menipu timbangan, memalsukan produk, menutupi cacat barang, atau menjual sesuatu dengan kebohongan.
  5. Perjudian dan investasi haram.
    Termasuk taruhan, judi online, hingga investasi bodong yang tidak jelas sumber dan legalitasnya.
  6. Upah dari pekerjaan maksiat.
    Uang hasil hiburan maksiat, penjualan minuman keras, prostitusi, dan bentuk pekerjaan yang dilarang dalam Islam.

Semua bentuk harta ini meskipun tampak “menguntungkan”, sejatinya adalah racun yang menghancurkan kehidupan pelakunya sedikit demi sedikit.

Dampak Buruk Makan Harta Haram

a. Doa Tidak Terkabul

Rasulullah bersabda tentang seorang laki-laki yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, dan pakaiannya dari hasil yang haram, maka Nabi bersabda:

“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
(HR. Muslim)

Harta haram menjadi penghalang antara hamba dan Tuhannya. Betapapun keras seseorang berdoa, Allah tidak akan mendengarnya jika ia hidup dari sesuatu yang haram.

b. Hilangnya Keberkahan

Harta haram bisa tampak banyak, tetapi tanpa keberkahan. Hidupnya gelisah, keluarganya sering bertengkar, usahanya gagal, atau hartanya habis dalam hal sia-sia.
Keberkahan tidak diukur dari jumlah, tetapi dari ketenangan hati yang Allah tanamkan kepada orang yang menjaga kehalalan rezekinya.

c. Menggelapkan Hati dan Akal

Hati yang dipenuhi makanan haram akan menjadi keras dan gelap, sulit menerima nasihat, bahkan menganggap dosa sebagai hal biasa. Inilah yang disebut oleh ulama sebagai zulumatul qalb — kegelapan hati.

d. Menghancurkan Keluarga dan Keturunan

Anak-anak yang tumbuh dari makanan haram akan sulit diarahkan menuju kebaikan. Daging mereka tumbuh dari sesuatu yang kotor, sehingga tabiatnya pun mudah condong kepada keburukan.

e. Azab Dunia dan Akhirat

Di dunia, orang yang makan harta haram sering hidup tidak tenang, selalu takut diketahui, dan terjerat masalah hukum. Di akhirat, ancaman bagi mereka lebih berat, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sesungguhnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya; dan mereka akan masuk ke dalam api neraka yang menyala-nyala.”
(QS. An-Nisa’: 10)

Harta Halal Membawa Ketenangan

Harta halal membawa ketenangan karena diperoleh dengan izin Allah. Ketika seseorang berusaha dengan jujur dan bersabar, meski hasilnya sedikit, Allah gantikan dengan ketenteraman hati dan kebahagiaan batin. Rasulullah bersabda:

“Satu suapan yang halal lebih dicintai oleh Allah daripada seribu suapan yang haram.”
(HR. Ahmad)

Harta halal juga menumbuhkan rasa syukur dan menjauhkan dari tamak. Seseorang yang menjaga kehalalan rezekinya akan merasa cukup dan tenang, karena ia tahu bahwa Allah-lah pemberi rezeki yang sesungguhnya.

Bertaubat dari Harta Haram

Islam selalu membuka pintu taubat bagi siapa pun yang mau memperbaiki diri. Jika seseorang pernah terlanjur makan atau memperoleh harta haram, maka hendaknya segera:

  1. Menyesal dengan sungguh-sungguh atas dosa yang dilakukan.
  2. Berhenti total dari perbuatan tersebut dan bertekad tidak mengulanginya.
  3. Mengembalikan harta kepada pemilik yang sah, atau bila tidak diketahui, disalurkan untuk kepentingan umum tanpa niat sedekah.
  4. Meninggalkan pekerjaan yang haram dan mencari sumber penghasilan halal.
  5. Memperbanyak amal saleh sebagai bentuk pembersihan diri dan harta.

Allah berfirman:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka Allah akan mengganti keburukan mereka dengan kebaikan.”
(QS. Al-Furqan: 70)

Pilih Jalan Halal, Jauhi Langkah Syaitan

Mencari rezeki halal adalah bagian dari jihad pada jalan Allah. Orang yang bersungguh-sungguh mencari nafkah dengan cara yang Allah ridhai akan mendapatkan keberkahan di dunia dan pahala besar di akhirat. Sebaliknya, orang yang terjerumus dalam harta haram telah mendurhakai Allah dan mengikuti langkah syaitan. Ia mungkin kaya secara lahiriah, tetapi miskin di sisi Allah.

Ingatlah, syaitan tidak memberi apa pun kecuali kebinasaan. Harta haram mungkin terasa manis di awal, tetapi pahitnya akan terasa sepanjang hidup — baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang berhati-hati terhadap harta, mencukupkan kita dengan rezeki yang halal, dan menjauhkan kita dari tipu daya syaitan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.